JeettNews, Tabanan | Bali akhirnya menunjukkan arah baru pembangunan berbasis desa adat dan teknologi lokal. Bertepatan dengan Tilem Desta, Sabtu (16/5/2026), aplikasi TRIHITA (Transportasi Hijau Terintegrasi Berbasis Desa Adat) resmi diluncurkan di Wantilan Desa Adat Beraban, Tabanan. Peluncuran ini disebut sebagai langkah awal membangun sistem transportasi hijau berbasis desa adat yang digadang-gadang menjadi model baru pembangunan Bali di masa depan.
Peresmian TRIHITA merupakan tindak lanjut dari pertemuan antara Gubernur Bali bersama desa adat di Gedung Kertha Sabha, Jayasabha, pada 12 Maret 2026 lalu. Dalam pertemuan tersebut dibahas kebutuhan Bali terhadap sistem transportasi modern yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga melibatkan masyarakat lokal dan desa adat sebagai kekuatan utama.
Meski Gubernur Bali berhalangan hadir, peluncuran tetap berlangsung meriah. Pemerintah Provinsi Bali diwakili Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, I Made Mudarta, S.T., M.A.B., dan Kepala Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi Bali, I G.A.K. Kartika Jaya Seputra, S.H., M.H. Hadir pula Kepala Dinas Perhubungan Kota Denpasar serta Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Badung.
Suasana Wantilan Desa Adat Beraban sejak pagi dipenuhi bendesa adat, tokoh masyarakat, pengurus desa adat, pelaku transportasi, hingga generasi muda Bali sekehe okokan yang penasaran dengan sistem transportasi baru tersebut. Kehadiran puluhan bendesa adat dari berbagai kawasan strategis di Bali menjadi simbol bahwa TRIHITA memang dibangun dengan fondasi masyarakat adat Bali.
Prosesi peluncuran ditandai pemotongan tumpeng dan pelepasan burung sebagai simbol harapan serta kebebasan menuju masa depan Bali yang lebih baik. Setelah itu dilakukan simulasi langsung pemesanan aplikasi TRIHITA oleh Kadishub Bali yang berjalan lancar tanpa kendala. Tepuk tangan para undangan langsung pecah melihat sistem aplikasi dapat digunakan dengan baik.
Banyak pihak menilai peluncuran ini menjadi sinyal keseriusan Bali membangun sistem transportasi berbasis green economy atau ekonomi hijau. Selain berbicara soal transportasi, TRIHITA juga dinilai membawa semangat baru dalam penguatan ekonomi lokal berbasis desa adat. CEO dan Founder TRIHITA yang juga Owner PT Sentrik Persada Nusantara, I Made Sudiana, S.H., M.Si., mengaku bersyukur karena aplikasi yang dirintisnya mendapat dukungan luas dari pemerintah dan tokoh masyarakat Bali.
“Pertama saya sangat berterima kasih. Aplikasi ini sudah mendapat dukungan dan support dari pemerintah, termasuk tokoh-tokoh masyarakat Bali. Saya yakin dengan dukungan ini proses aplikasi TRIHITA bisa berjalan dengan baik,” ujar mantan Wakil Bupati Badung itu mengakui tantangan terbesar setelah peluncuran adalah membangun kepercayaan stakeholder, baik masyarakat, pelaku transportasi maupun pengguna jasa.
“Tinggal sekarang bagaimana kita meyakinkan stakeholder, baik dari sisi transportasi maupun pengguna, bahwa aplikasi TRIHITA ini memang bagus dan berkualitas. Yang paling penting, aplikasi ini harus memberikan value dan manfaat besar untuk semua pihak,” kata Sudiana, seraya mengungkapkan lahirnya TRIHITA berangkat dari kegelisahan melihat masyarakat lokal Bali yang mulai tersisih di tengah perkembangan industri pariwisata dan ekonomi digital. Ia menilai banyak peluang ekonomi di kawasan wisata justru lebih banyak dikuasai pihak luar, sementara masyarakat desa adat hanya menjadi penonton.
“Kalau kita lihat kondisi riil di desa adat yang terkena dampak pariwisata, masyarakat lokal perannya sangat minim. Banyak peluang bisnis justru dikuasai pihak luar. Itu yang menjadi keprihatinan saya sebagai founder,” ungkapnya. Karena itu, menurutnya diperlukan langkah strategis agar desa adat tidak semakin tertinggal dalam perkembangan ekonomi modern. “Kondisi ini harus kita selesaikan. Kita harus ambil langkah strategis supaya desa adat bisa ikut menikmati perkembangan ekonomi modern,” tegasnya.
Ia menegaskan TRIHITA tidak hanya berhenti sebagai aplikasi transportasi online biasa. Ke depan, platform tersebut akan dikembangkan masuk ke berbagai sektor ekonomi digital lainnya untuk membuka akses pasar yang lebih luas bagi masyarakat desa adat. “Sebenarnya aplikasi ini bukan hanya untuk transportasi. Nanti sistemnya akan masuk ke sektor bisnis lainnya. Kami ingin usaha-usaha masyarakat desa adat lebih mudah diakses pasar,” ujarnya.
Sudiana mengatakan desa adat nantinya akan memiliki mitra teknologi yang membantu proses digitalisasi usaha masyarakat lokal Bali. “Kita ingin masyarakat tahu bahwa desa adat sekarang punya mitra, yaitu TRIHITA. Dari sisi teknologi, PT Sentrik Persada Nusantara sudah siap membekali,” katanya. Meski resmi diluncurkan, penerapan sistem tersebut diakui tidak bisa dilakukan sekaligus di seluruh Bali. Karena itu pihaknya memilih skema penerapan bertahap dan periodik.
“Setelah launching ini, tentu pelaksanaannya tidak mudah. Kami akan lakukan secara bertahap dan periodik,” jelasnya. Tahap awal, pihaknya akan fokus pada tujuh desa adat sebagai pilot project atau titik pertama implementasi sistem. “Mungkin pertama kami kumpulkan tujuh desa adat dulu sebagai tahap awal. Kami harus mempersiapkan semuanya dengan matang supaya dalam pelaksanaan nanti masalah bisa diminimalkan,” ujarnya.
Jika tahap awal berjalan baik, pengembangan akan dilanjutkan ke desa adat lainnya. Sudiana optimistis desa-desa adat di kawasan pariwisata Bali bisa mulai tergarap tahun ini. “Saya yakin tahun ini kita sudah bisa mulai menggarap seluruh desa adat yang terkena dampak pariwisata,” katanya optimistis. Dalam peluncuran tersebut hadir 37 bendesa adat dari berbagai wilayah Bali, mulai dari Desa Adat Beraban, Nyanyi, Cemagi, Sogsogan, Mengening, Bale Agung, Seseh, Pererenan, Canggu, Berawa, Tandeg, Padonan, Seminyak, Legian, Kuta, Tuban, Kelan, Bualu, Kampial, Kedonganan, Jimbaran, Kutuh, Pecatu, Unggasan, Tengkulung, Peminge, Tanjung Benoa, Serangan, Intaran, Sanur, Kesiman, Kelating, Ubud, Padang Tegal, Peliatan, Pengosekan hingga Sayan.
Daftar desa adat tersebut menunjukkan bahwa TRIHITA memang menyasar kawasan-kawasan wisata utama Bali yang selama ini menghadapi persoalan kemacetan paling serius. Kawasan seperti Canggu, Seminyak, Legian, Kuta hingga Ubud kini hampir setiap hari dipadati kendaraan. Kemacetan bahkan mulai menjadi keluhan wisatawan. Karena itu, konsep transportasi hijau berbasis desa adat mulai dipandang sebagai solusi baru yang menarik perhatian banyak pihak. Apalagi Bali memiliki kekuatan sosial adat yang sangat kuat dan berbeda dibanding daerah lain di Indonesia.
Mewakili Gubernur Bali, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, I Made Mudarta, mengapresiasi lahirnya aplikasi TRIHITA. Menurutnya, inisiatif tersebut menjadi langkah positif karena mencoba memberdayakan masyarakat lokal sekaligus melibatkan desa adat dalam pembangunan ekonomi Bali. “Ini merupakan inisiatif masyarakat dengan spirit melibatkan desa adat dan memberdayakan masyarakat lokal. Tentu ini sesuatu yang harus kita apresiasi,” ujarnya.
Ia berharap aplikasi tersebut nantinya diterima masyarakat dan stakeholder transportasi di Bali. “Mudah-mudahan aplikasi ini diterima oleh konsumen dan stakeholder lainnya sehingga bisa menjadi langkah positif untuk pemberdayaan ekonomi dan mendukung transportasi Bali yang lebih baik,” kata Mudarta yang menilai konsep seperti ini menjadi bentuk dukungan desa adat terhadap pembangunan Bali modern yang tetap berakar pada budaya lokal. “Sebagai sebuah inisiatif untuk menggerakkan ekonomi lokal tentu ini harus kita sambut positif,” ucapnya.
Meski demikian, ia mengingatkan pengembangan sistem digital dan transportasi tetap wajib mengikuti regulasi yang berlaku. “Karena di dalamnya ada aspek transportasi dan sistem informasi, tentu harus memperhatikan aturan-aturan yang mengatur sektor tersebut,” tegasnya. Selain berbicara soal transportasi, peluncuran TRIHITA juga mulai dikaitkan dengan penguatan ekosistem digital lokal Bali. Beberapa pembicara dalam acara itu menilai platform seperti TRIHITA dapat menjadi jalan bagi masyarakat lokal masuk ke ekonomi digital tanpa harus sepenuhnya bergantung pada perusahaan besar dari luar daerah.
Konsep ini dianggap penting di tengah derasnya arus digitalisasi yang selama ini lebih banyak dikuasai platform besar nasional maupun internasional. TRIHITA hadir menawarkan pendekatan berbeda, yakni membangun platform digital berbasis komunitas lokal dan desa adat. Melalui sistem tersebut, masyarakat lokal diharapkan tidak hanya menjadi pengguna aplikasi, tetapi juga ikut memiliki peran dalam ekosistem ekonomi digital Bali. Selain membantu transportasi, platform ini nantinya diharapkan mampu membuka akses pasar lebih luas bagi usaha-usaha masyarakat desa adat.
Hal itu dinilai penting karena banyak pelaku UMKM Bali sebenarnya memiliki potensi besar, tetapi masih kesulitan masuk ke sistem digital modern. Karena itu, TRIHITA mulai dipandang bukan sekadar aplikasi transportasi, melainkan gerakan membangun kemandirian ekonomi lokal Bali di tengah persaingan digital yang semakin ketat. Peluncuran aplikasi ini juga menjadi pembicaraan hangat karena dilakukan di tengah persoalan kemacetan Bali yang semakin parah. Banyak pihak khawatir jika masalah transportasi tidak segera ditangani, citra Bali sebagai destinasi wisata dunia akan terganggu.
Karena itu, konsep green mobility berbasis desa adat seperti TRIHITA dianggap sebagai langkah berani yang layak dicoba. Jika berhasil, Bali berpotensi menjadi contoh pengembangan transportasi hijau berbasis budaya pertama di Indonesia. Sudiana optimistis desa adat Bali mampu menjadi motor penggerak perubahan ekonomi hijau di masa depan. “Bali punya budaya kuat, masyarakat kuat, dan potensi besar. Tinggal bagaimana semuanya dipadukan dengan teknologi yang tepat,” ujarnya.
Ia berharap desa adat tidak hanya dikenal sebagai penjaga tradisi, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi modern Bali. “Desa adat jangan hanya bertahan menjaga budaya. Desa adat juga harus maju secara ekonomi,” tegasnya. Dukungan kuat juga datang dari Kepala Dinas Perhubungan Kota Denpasar, I Ketut Sriawan, S.E. Menurutnya, lahirnya TRIHITA bukan sekadar proyek bisnis biasa, tetapi muncul dari kegelisahan melihat kondisi transportasi dan pariwisata Bali saat ini.
“Sebenarnya inisiator ini lahir dari hati kecil beliau, Pak Made Sudiana. Jadi saya meyakini ini bukan hanya ide dari pemikiran semata, tetapi benar-benar berangkat dari hati,” ujar Sriawan. Ia menilai perkembangan transportasi berbasis aplikasi selama ini memang membantu masyarakat, tetapi juga memunculkan banyak persoalan baru karena belum terintegrasi dengan kekuatan utama Bali, yakni desa adat. “Kita melihat situasi transportasi di Bali sekarang dengan banyaknya aplikator yang beroperasi. Di satu sisi memang membantu, tetapi juga banyak menimbulkan persoalan karena belum terintegrasi dengan kekuatan utama Bali, yaitu desa adat,” katanya.
Menurutnya, desa adat selama ini menjadi ujung tombak menjaga filosofi Tri Hita Karana sebagai fondasi kehidupan masyarakat Bali. Namun ironisnya, desa adat justru belum banyak menikmati manfaat ekonomi dari sektor transportasi dan pariwisata. “Dari hati kecil beliau muncul pemikiran bagaimana pertumbuhan pariwisata dan penyelenggaraan transportasi di Bali ini juga harus menguatkan desa adat,” tegas Sriawan yang menilai sektor transportasi sebenarnya memiliki potensi ekonomi besar jika dikelola masyarakat lokal.
“Setiap desa adat sebenarnya punya potensi pendapatan dari sektor transportasi. Karena faktanya sekarang banyak juga keluhan dari pengemudi terkait tarif maupun prosentase yang mereka dapat,” ujarnya. Karena itu, ia berharap TRIHITA dapat menjadi solusi yang lebih adil bagi driver lokal Bali. “Harapan kami dengan adanya aplikasi TRIHITA ini, pertama driver bisa mendapat pendapatan yang lebih baik. Kedua, desa adat tempat driver itu berada juga mendapatkan manfaat ekonomi,” katanya.
Menurutnya, dana yang berputar dari sektor transportasi nantinya dapat kembali membantu kegiatan adat dan keagamaan di desa masing-masing. “Kalau desa adat punya pemasukan, tentu itu bisa dipakai untuk mendukung kegiatan upacara dan yadnya yang tujuannya menjaga harmonisasi alam dan budaya Bali,” jelasnya. Ia menegaskan semangat utama TRIHITA adalah memastikan perputaran ekonomi kembali ke masyarakat lokal Bali. “Jadi ekosistem dana yang berputar itu kembali lagi ke masyarakat lokal Bali. Itu yang menjadi semangatnya,” ujarnya.
Sriawan bahkan menilai TRIHITA dapat menjadi alat menjaga masa depan pariwisata Bali agar tidak sepenuhnya dikuasai pihak luar. “Bali hidup dari pariwisata. Jadi kalau sektor transportasi ini bisa dikelola baik dan hasilnya kembali ke masyarakat lokal, otomatis Bali akan lebih terjaga,” katanya. Ia juga mengungkapkan TRIHITA nantinya berpotensi berkembang ke berbagai sektor ekonomi lain seperti restoran, hotel hingga layanan wisata. “Belum nanti kalau aplikasi ini bergerak ke sektor ekonomi lain seperti restoran, hotel, dan layanan wisata lainnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan wisatawan asing yang datang dari bandara juga bisa diarahkan memakai aplikasi ini,” ujarnya.
Menurutnya, jika hal tersebut berjalan baik, manfaat ekonomi pariwisata akan semakin banyak kembali ke desa adat Bali. “Nah ini yang menjadi semangat kami sebagai orang Bali. Karena muaranya kembali untuk masyarakat Bali sendiri,” tegasnya. Sebagai Kepala Dinas Perhubungan Kota Denpasar, Sriawan juga melihat aplikasi seperti TRIHITA dapat membantu pemerintah dalam menata sistem transportasi yang lebih tertib dan aman. “Kami di Dinas Perhubungan juga punya kepentingan. Karena kami dituntut laporan yang jelas terkait penyelenggaraan transportasi. Berapa jumlah armada, siapa sopirnya, bagaimana kondisi kendaraannya, semuanya harus terverifikasi demi keselamatan,” katanya.
Menurutnya, melalui aplikasi tersebut data-data transportasi akan lebih mudah tertata dengan baik. “Melalui aplikasi ini kami yakin semua data bisa terbentuk dengan lebih jelas,” ujarnya. Ia juga menilai sistem transportasi berbasis aplikasi dapat membantu menjaga kapasitas jalan di Bali agar tidak semakin semrawut. “Kalau sistemnya tertata, maka transportasi bergerak, ekonomi bergerak, sosial bergerak, dan lingkungan juga ikut terjaga,” katanya.
Sriawan juga menyinggung pentingnya penggunaan kendaraan ramah lingkungan di Bali ke depan. Menurutnya, Kota Denpasar telah memiliki Peraturan Wali Kota tentang kawasan rendah emisi. “Nanti tidak menutup kemungkinan sarana angkutannya menggunakan kendaraan ramah lingkungan berbasis baterai,” jelasnya. Ia optimistis konsep tersebut akan membantu menjaga kualitas udara dan daya tarik wisata Bali. “Kalau udara sehat dan lingkungan terjaga, otomatis daya tarik wisata Bali juga akan semakin bagus,” ujarnya.
Menurutnya, kekuatan utama Bali sesungguhnya terletak pada desa adat yang mandiri dan mampu membiayai dirinya sendiri. “Kalau desa adat sudah mandiri secara ekonomi, otomatis desa adat akan semakin kuat menjaga budaya dan lingkungannya,” katanya. Karena itu ia mengajak seluruh masyarakat Bali memberikan dukungan terhadap TRIHITA. “Aplikasi ini patut diberikan apresiasi. Kalau memang cinta Bali, kita harus mendukung. Karena ini benar-benar dari kita, oleh kita, dan untuk kita,” tegasnya.
Dukungan serupa datang dari Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Badung, A.A. Gde Rahmadi, S.H., M.H. Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Badung mendukung penuh lahirnya aplikasi TRIHITA karena dinilai dapat membantu menciptakan pariwisata Bali yang lebih nyaman dan berkualitas. “Pada prinsipnya kami mendukung. Ini salah satu sarana untuk membuat pariwisata Bali menjadi lebih nyaman,” ujarnya.
Rahmadi menilai konsep transportasi berbasis desa adat seperti TRIHITA sejalan dengan visi pengembangan pariwisata berkualitas di Bali. “Ini sesuai dengan visi kami membangun pariwisata yang berkualitas,” katanya. Ia menegaskan yang paling penting ke depan adalah implementasi di lapangan agar mampu menciptakan persaingan yang sehat. “Tinggal nanti bagaimana pelaksanaannya di lapangan agar lebih kompetitif dan persaingan tetap sehat,” ujarnya.
Rahmadi memastikan pihaknya memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan aplikasi tersebut. “Kami memberikan dukungan penuh karena dari sisi konsep dan persiapannya kami lihat sudah baik,” katanya. Menurutnya, kehadiran TRIHITA menjadi peluang besar memperkuat ekonomi lokal Bali. “Ini memberi peluang agar ekonomi lokal bisa tumbuh bersama platform-platform lainnya,” tegasnya. tim/jet/ker


















