JeettNews, Badung | Dinamika panjang sektor transportasi pariwisata Bali akhirnya mencapai titik yang tidak bisa lagi ditoleransi. Setelah bertahun-tahun bergulat dengan konflik, ketimpangan, dan dominasi sistem yang tidak berpihak, desa adat bersama para pelaku transportasi lokal mulai menyatukan langkah. Dalam momentum konsolidasi yang menguat, Tri Hita Trans yang siap diluncurkan Sabtu, 16 Mei 2026 muncul bukan sekadar sebagai aplikasi, tetapi sebagai simbol perlawanan terhadap sistem lama yang dinilai tidak adil.
Suara paling jujur datang langsung dari lapangan. Ketua Transport Desa Adat Canggu, I Wayan Tono, secara terbuka membeberkan realitas yang selama ini dialami oleh para driver lokal. Baginya, persoalan transportasi di Bali tidak bisa lagi dilihat secara parsial. Ini bukan sekadar soal tarif atau teknologi, tetapi soal struktur ekonomi yang timpang.
Ia menegaskan bahwa selama ini banyak pihak hanya fokus pada angka berapa persen pembagian hasil, berapa tarif perjalanan tanpa menyentuh akar persoalan yang sebenarnya. “Kalau kita bicara jujur, ini bukan soal 20 persen atau 50 persen. Ini soal bagaimana sistem ini dibentuk sejak awal. Siapa yang menguasai, siapa yang menikmati hasilnya,” tegasnya.
Menurut Tono, sistem transportasi yang berkembang selama ini cenderung mengarah pada pola yang terpusat. Kekuatan ekonomi besar, yang ia sebut sebagai bentuk konglomerasi, secara perlahan menguasai pasar. Dalam kondisi seperti itu, pelaku lokal hanya menjadi bagian kecil dari rantai panjang yang tidak mereka kendalikan. “Semua sudah seperti terstruktur. Yang besar semakin besar. Yang kecil hanya ikut arus,” ujarnya.

Kondisi ini membuat posisi driver lokal menjadi sangat lemah. Mereka tidak hanya bersaing dengan sesama, tetapi juga menghadapi sistem yang tidak memberikan ruang yang adil. Dalam situasi seperti itu, bertahan hidup menjadi tantangan tersendiri. Tono menggambarkan keseharian para driver sebagai perjuangan tanpa kepastian. Mereka harus bekerja dari pagi hingga dini hari, menghadapi tekanan, ketidakpastian order, hingga konflik di lapangan.
“Banyak teman-teman kita yang kerja dari pagi sampai malam, bahkan sampai jam tiga atau empat pagi. Tapi hasilnya belum tentu cukup,” ungkapnya. Tekanan tersebut, lanjutnya, sering kali memicu munculnya praktik-praktik yang sebenarnya tidak diinginkan. Salah satunya adalah praktik penentuan harga di luar sistem aplikasi atau yang sering disebut “order tembak”. Ia tidak menutup mata bahwa praktik ini terjadi. Namun ia menegaskan bahwa hal tersebut merupakan akibat dari sistem yang tidak sehat.
“Kalau sistemnya tidak memberikan ruang yang adil, orang akan cari cara sendiri untuk bertahan. Itu yang terjadi,” katanya. Selain itu, ia juga menyoroti maraknya kendaraan yang beroperasi tanpa sistem yang jelas. Banyak kendaraan yang tidak terdaftar atau tidak memiliki legitimasi, tetapi tetap beroperasi di lapangan. Hal ini semakin memperburuk situasi karena menciptakan persaingan yang tidak seimbang. “Kalau semua bisa masuk tanpa aturan yang jelas, ya pasti kacau. Tidak ada kontrol,” ujarnya.
Lebih jauh, Tono mengungkapkan bahwa konflik di lapangan bukan lagi sekadar persoalan teknis, tetapi sudah menyentuh aspek sosial. Rasa keadilan menjadi isu utama. Banyak driver lokal merasa kehilangan ruang di wilayahnya sendiri. Ia bahkan menyinggung kondisi di kawasan Canggu, di mana akses bagi driver lokal sering kali terbatas. “Kadang kita sendiri di wilayah kita, malah sulit bergerak. Ini yang harus kita pikirkan,” tegasnya.
Dalam kondisi seperti itu, ia melihat Tri Hita Trans sebagai peluang untuk melakukan perubahan mendasar. Bukan sekadar memperbaiki sistem, tetapi mengembalikan kendali kepada masyarakat lokal. “Harapannya jelas. Kita ingin punya kontrol. Kita tidak lagi hanya jadi penonton,” ujarnya. Namun Tono juga menyadari bahwa perubahan tidak bisa terjadi secara instan. Dibutuhkan proses panjang, konsistensi, dan kerja sama dari semua pihak.

“Ini tidak bisa selesai dalam satu dua hari. Tapi kalau tidak dimulai, kita akan terus seperti ini,” katanya. Pandangan serupa disampaikan oleh Ketua Transport Desa Adat Beraban, I Made Sujana. Ia melihat persoalan ini dalam perspektif yang lebih luas, yakni posisi desa adat di tengah arus modernisasi. Menurutnya, modernisasi adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Namun yang menjadi persoalan adalah bagaimana desa adat merespons perubahan tersebut. “Kita tidak bisa menolak modernisasi. Tapi kita harus tahu posisi kita. Jangan sampai kita hanya jadi penonton,” ujarnya.
Sujana mengingatkan bahwa pengalaman masa lalu harus menjadi pelajaran. Banyak potensi ekonomi di Bali yang berkembang pesat, tetapi tidak memberikan dampak signifikan bagi masyarakat lokal. “Dulu kita sudah lihat. Banyak yang masuk, banyak yang mengelola, tapi kita hanya menikmati sedikit,” katanya. Menurutnya, kondisi tersebut tidak boleh terulang. Desa adat harus mampu mengambil peran strategis dalam mengelola potensi ekonomi, termasuk di sektor transportasi.
Namun ia juga realistis bahwa proses tersebut tidak mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi, mulai dari kesiapan sumber daya manusia hingga perubahan pola pikir. “Tidak semua bisa dibangun cepat. Tapi kita harus mulai sekarang,” ujarnya. Sujana juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara profesionalitas dan nilai budaya. Ia menegaskan bahwa desa adat harus tetap memegang nilai-nilai yang menjadi identitasnya, meskipun berada dalam sistem modern. “Kita harus tetap sopan, tetap sesuai adat. Tapi kita juga harus kuat,” tegasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya membangun sistem yang terintegrasi. Menurutnya, tanpa sistem yang jelas, konflik akan terus terjadi.n“Kalau tidak ada sistem, semua akan jalan sendiri-sendiri. Itu yang membuat masalah terus muncul,” ujarnya. Dalam konteks inilah, kehadiran Tri Hita Trans yang dikembangkan oleh PT Sentrik Persada Nusantara menjadi sangat relevan. Sistem ini diharapkan mampu menjawab berbagai persoalan yang selama ini terjadi.
Tri Hita Trans tidak hanya menawarkan teknologi, tetapi juga pendekatan berbasis komunitas. Desa adat, BUPDA, pecalang, dan komunitas driver menjadi bagian dari sistem yang terintegrasi. Model ini memberikan harapan baru bahwa pengelolaan transportasi tidak lagi terpusat, tetapi tersebar dan melibatkan masyarakat lokal secara aktif. Namun para pelaku di lapangan menyadari bahwa teknologi hanyalah alat. Keberhasilan sistem ini sangat bergantung pada komitmen bersama. “Kalau tidak dijaga, sistem ini bisa saja kembali seperti yang lama,” ujar Tono.
Optimisme terhadap Tri Hita Trans memang tinggi. Namun di sisi lain, ada kesadaran bahwa tantangan yang dihadapi tidak ringan. Industri transportasi digital dikenal sangat kompetitif dan dinamis. Faktor seperti harga, kecepatan layanan, dan kualitas pelayanan menjadi penentu utama. Dalam kondisi seperti itu, Tri Hita Trans harus mampu membuktikan bahwa pendekatan berbasis nilai tidak kalah dengan kekuatan modal besar. “Ini bukan hanya soal idealisme. Sistemnya juga harus kuat,” kata Sujana.

Di tengah berbagai dinamika tersebut, satu hal yang menjadi benang merah adalah keinginan kuat untuk berubah. Desa adat dan pelaku transportasi lokal tidak lagi ingin berada di posisi yang sama. Mereka mulai bergerak, menyusun strategi, dan membangun sistemnya sendiri. Tri Hita Trans menjadi simbol dari gerakan tersebut. Ia bukan hanya aplikasi, tetapi representasi dari upaya kolektif untuk membangun sistem yang lebih adil, transparan, dan berkelanjutan.
Bagi Bali, ini adalah momentum penting. Di tengah arus globalisasi yang semakin kuat, pilihan untuk membangun sistem berbasis kearifan lokal menjadi langkah yang strategis. Jika berhasil, Tri Hita Trans tidak hanya akan mengubah wajah transportasi Bali, tetapi juga menjadi contoh bagaimana teknologi dapat dikembangkan tanpa meninggalkan identitas budaya. Desa adat, yang selama ini dikenal sebagai penjaga tradisi, kini mulai mengambil peran baru sebagai aktor ekonomi.
Driver lokal, yang selama ini berada di garis depan, kini mulai mendapatkan ruang untuk berbicara dan menentukan arah. Dan Bali, yang selama ini menjadi destinasi dunia, kini mulai menunjukkan bahwa ia juga mampu membangun sistemnya sendiri. tim/jet/ker




















