JeettNews, Denpasar | Bali mulai bersiap masuk ke era baru transportasi hijau berbasis desa adat. PT Sentrik Persada Nusantara akan meluncurkan aplikasi TRIHITA Trans di Wantilan Desa Adat Beraban, Tabanan, Sabtu 16 Mei 2026.
Peluncuran aplikasi ini disebut bukan hanya sekadar memperkenalkan teknologi baru. TRIHITA Trans digagas menjadi sistem transportasi modern yang tetap memakai kekuatan adat, budaya, dan masyarakat lokal Bali sebagai pondasi utama.
Acara peluncuran tersebut juga mengundang langsung Gubernur Bali untuk hadir sekaligus meresmikan aplikasi TRIHITA Trans. CEO dan Founder PT Sentrik Persada Nusantara, I Made Sudiana, S.H., M.Si., mengatakan lahirnya TRIHITA Trans merupakan lanjutan dari pembahasan antara Pemerintah Provinsi Bali bersama desa adat mengenai masa depan transportasi hijau di Bali.
Menurut Made Sudiana, Bali saat ini tidak bisa terus memakai pola lama yang membuat kemacetan dan polusi semakin parah, terutama di kawasan wisata.
“Kami ingin Bali punya sistem transportasi yang lebih modern, lebih tertata, tetapi tetap menjaga budaya Bali. Desa adat jangan hanya jadi penonton perkembangan zaman. Desa adat harus ikut menjadi bagian utama dalam perubahan itu,” ujar Made Sudiana.
Ia menjelaskan, konsep TRIHITA dibuat agar perkembangan teknologi tidak mematikan masyarakat lokal dan budaya Bali.
“Selama ini banyak teknologi masuk ke Bali, tetapi masyarakat lokal sering hanya menjadi pengguna. Lewat TRIHITA, kami ingin desa adat juga ikut mendapatkan manfaat ekonomi dan ikut mengelola perkembangan teknologi itu,” katanya.
Menurutnya, TRIHITA bukan hanya aplikasi transportasi biasa. Sistem ini disiapkan untuk membangun transportasi hijau berbasis masyarakat adat di Bali.
“Ini bukan hanya soal kendaraan atau aplikasi online biasa. Kami ingin membangun sistem yang melibatkan desa adat, koperasi, masyarakat lokal, dan generasi muda Bali,” tegasnya.
Peluncuran TRIHITA nantinya akan dihadiri puluhan bendesa adat dari berbagai wilayah di Bali. Berdasarkan daftar undangan, ada sedikitnya 37 desa adat yang dijadwalkan hadir.
Desa adat tersebut berasal dari berbagai kawasan wisata dan pusat ekonomi Bali seperti Beraban, Nyanyi, Cemagi, Seseh, Pererenan, Canggu, Berawa, Seminyak, Legian, Kuta, Jimbaran, Pecatu, Unggasan, Sanur hingga Ubud.
Kehadiran banyak desa adat itu menunjukkan bahwa proyek ini disiapkan cukup serius. Sebab kawasan-kawasan tersebut selama ini dikenal sebagai titik kemacetan paling padat di Bali.
Canggu, Seminyak, Kuta, Jimbaran hingga Ubud hampir setiap hari dipenuhi kendaraan. Kondisi itu mulai dikeluhkan wisatawan maupun masyarakat lokal karena membuat perjalanan semakin macet dan lingkungan semakin padat.
Made Sudiana mengatakan Bali membutuhkan sistem baru agar perkembangan pariwisata tidak merusak alam dan budaya Bali sendiri.
“Kalau Bali berkembang tanpa arah yang jelas, lama-lama identitas Bali bisa hilang. Kemacetan makin parah, lingkungan rusak, masyarakat lokal bisa tersingkir. Karena itu kami mencoba menawarkan konsep berbasis desa adat,” ujarnya.
Ia menilai desa adat sebenarnya memiliki kekuatan besar, baik dari sisi sosial maupun ekonomi. Namun selama ini belum banyak dilibatkan dalam sistem pembangunan modern.
“Desa adat di Bali itu sangat kuat. Kalau kekuatan itu digabung dengan teknologi dan konsep ekonomi hijau, saya yakin Bali bisa menjadi contoh untuk daerah lain,” katanya.
Peluncuran aplikasi TRIHITA sendiri dijadwalkan mulai pukul 09.00 WITA. Selain peluncuran aplikasi, acara juga akan diisi pemotongan tumpeng dan pelepasan burung sebagai simbol harapan baru bagi masa depan Bali.
Made Sudiana mengatakan nama TRIHITA diambil dari filosofi Tri Hita Karana yang selama ini menjadi dasar kehidupan masyarakat Bali.
“Kami ingin teknologi modern tetap punya jiwa Bali. Jangan sampai perkembangan teknologi justru membuat budaya dan masyarakat lokal tersingkir,” jelasnya.
Ia juga menegaskan konsep transportasi hijau yang dibangun bukan hanya bicara soal kendaraan listrik, tetapi tentang cara baru menjaga lingkungan Bali.
“Transportasi hijau itu bukan sekadar kendaraan listrik. Tetapi bagaimana Bali bisa maju tanpa merusak alamnya sendiri,” ucapnya.
Menurutnya, generasi muda Bali juga nantinya diharapkan ikut terlibat dalam pengembangan sistem tersebut.
“Kami ingin anak muda Bali tidak hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka harus ikut mengembangkan, mengelola, dan mendapatkan manfaat ekonominya,” katanya.
Belakangan ini persoalan transportasi memang mulai menjadi perhatian serius di Bali. Kemacetan di kawasan wisata semakin sulit dikendalikan. Bahkan di sejumlah titik seperti Canggu, Seminyak, dan Ubud, kemacetan sudah terjadi hampir setiap hari.
Banyak pihak mulai khawatir kondisi tersebut bisa mempengaruhi kenyamanan wisatawan dan merusak citra Bali sebagai destinasi dunia.
Karena itu, munculnya konsep transportasi hijau berbasis desa adat seperti TRIHITA mulai menarik perhatian banyak kalangan.
Made Sudiana yang juga mantan Anggota DPRD Badung dan pernah menjabat Wakil Bupati Badung mengakui membangun sistem seperti ini tidak akan mudah. Namun ia optimistis Bali mampu menjadi contoh perubahan transportasi berbasis budaya dan lingkungan.
“Kami tahu tantangannya besar. Tetapi kalau Bali tidak mulai berubah dari sekarang, kapan lagi? Kita harus berani membuat langkah baru,” katanya.
Ia berharap ke depan desa adat tidak hanya dikenal sebagai penjaga tradisi dan budaya, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi modern berbasis lingkungan di Bali.
“Bali punya budaya kuat, masyarakat yang kuat, dan potensi besar. Tinggal bagaimana semuanya dipadukan dengan teknologi yang tepat,” tutupnya.
Di sisi lain, Gubernur Bali Wayan Koster ketika dihubungi secara terpisah mengaku siap hadir untuk meluncurkan secara resmi aplikasi TRIHITA Trans. “Hari itu pas banyak acara penting, tapi diupayakan,” jawabnya singkat. tim/jet/ker




















