JeettNews, Denpasar | Persoalan sampah Bali belum selesai. Di tengah kebutuhan terhadap terobosan baru dalam pengelolaan sampah, sebuah mesin pengolah sampah berbasis pirolisis dari Jepang kini dalam perjalanan menuju Indonesia. Mesin tersebut dibawa Solusi Aksara milik Made Hiroki dengan satu harapan besar: teknologi itu mendapat kesempatan untuk diperlihatkan, diuji, dan dikaji bersama di Bali.
Bukan sekadar mendatangkan mesin, Made Hiroki membawa sebuah tawaran kepada Bali untuk membuka ruang terhadap teknologi baru. Ia berharap Pemerintah Provinsi Bali, khususnya Gubernur Bali, memberikan atensi terhadap kedatangan teknologi tersebut dan tidak menutup peluang untuk mengujinya secara terbuka sebelum menentukan apakah teknologi itu layak dikembangkan lebih jauh.
Mesin pengolah sampah tersebut dijadwalkan tiba di Pelabuhan Surabaya pada 13 September 2026. Berdasarkan dokumen pengiriman yang diterima, mesin dikirim dari Hakata, Jepang, menuju Surabaya menggunakan kapal NEW CAMELLIA / 3741N. Dokumen pengiriman mencantumkan Surabaya sebagai tujuan dengan estimasi kedatangan pada 13 September 2026.
Dari pelabuhan di Surabaya, mesin tersebut selanjutnya direncanakan dipersiapkan untuk proses berikutnya sebelum diperkenalkan di Bali. Kehadirannya menjadi bagian dari langkah Solusi Aksara untuk memperkenalkan teknologi pengolahan sampah kepada masyarakat sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, praktisi lingkungan, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Langkah Made Hiroki datang pada momentum ketika Bali membutuhkan berbagai alternatif dalam menghadapi persoalan sampah. Karena itu, ia tidak ingin teknologi yang dibawanya langsung diberi label sebagai “solusi” sebelum melalui proses pembuktian.

Justru sebaliknya. Made Hiroki meminta teknologi tersebut diberi kesempatan untuk berbicara melalui proses demonstrasi, kajian teknis, dan pengujian.
“Kami tidak ingin datang dengan mengatakan bahwa teknologi ini adalah satu-satunya solusi untuk Bali. Kami ingin teknologi ini dilihat, dipelajari dan diuji bersama. Jika memang memberikan manfaat dan memenuhi standar yang ditetapkan, kami siap berkolaborasi dengan pemerintah untuk pengembangannya,” kata Made Hiroki, Founder Solusi Aksara.
Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan posisi Solusi Aksara. Teknologi dari Jepang itu tidak ditawarkan sebagai jawaban tunggal atas persoalan persampahan Bali, melainkan sebagai salah satu alternatif yang terbuka untuk diuji dan dinilai secara objektif.
Teknologi yang dibawa merupakan sistem pengolahan berbasis pirolisis yang bekerja melalui proses termal untuk mengolah material sampah. Solusi Aksara menyebut teknologi tersebut berasal dari Jepang dan dirancang sebagai salah satu alternatif dalam pengelolaan sampah.
Bagi Made Hiroki, yang paling penting saat ini bukan membuat klaim besar mengenai teknologi tersebut, melainkan menghadirkan kesempatan bagi pihak yang memiliki kewenangan dan kompetensi untuk melihat langsung bagaimana teknologi itu bekerja.
Sebab, persoalan sampah Bali bukan persoalan sederhana. Kompleksitas sampah membutuhkan pendekatan yang melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, praktisi lingkungan hingga penyedia teknologi.
Karena itu, Solusi Aksara membuka peluang melakukan demonstrasi teknologi, kajian teknis, pengujian, dan dialog bersama pemerintah daerah. Tahapan tersebut diharapkan menjadi dasar sebelum berbicara mengenai kemungkinan penerapan teknologi di Bali.
Dengan mekanisme tersebut, pemerintah tidak perlu mengambil keputusan hanya berdasarkan klaim atau informasi sepihak. Teknologi dapat dilihat secara langsung, dipelajari, diuji, kemudian dinilai berdasarkan kemampuan teknis, kebutuhan lapangan, aspek lingkungan, standar yang berlaku, serta manfaat yang dapat diberikan.
Di sinilah Made Hiroki berharap Pemerintah Provinsi Bali mengambil peran. Ia meminta Gubernur Bali dan jajaran terkait memberikan ruang agar teknologi tersebut dapat diperlihatkan kepada pihak-pihak yang berwenang. Bukan berarti pemerintah harus langsung menerima atau menerapkannya, tetapi memberikan kesempatan yang sama kepada sebuah teknologi baru untuk membuktikan kemampuannya.
Bagi Bali, keterbukaan terhadap inovasi menjadi penting. Ketika persoalan sampah membutuhkan solusi yang tidak sederhana, berbagai pendekatan baru perlu mendapatkan ruang untuk dikaji secara kritis dan objektif.
Made Hiroki juga membuka peluang kolaborasi lebih luas. Apabila dari hasil demonstrasi dan kajian teknologi tersebut dinilai memiliki manfaat serta memenuhi standar yang ditetapkan, Solusi Aksara menyatakan siap berkolaborasi dengan pemerintah untuk pengembangannya.
Sebaliknya, apabila hasil pengujian menunjukkan adanya keterbatasan atau ketidaksesuaian dengan kebutuhan Bali, hal tersebut juga menjadi bagian dari proses kajian. Dengan demikian, keputusan mengenai teknologi tidak didasarkan pada asumsi, melainkan pada hasil pengamatan dan pengujian.
Mesin yang kini bergerak dari Hakata menuju Surabaya itu pun menjadi awal dari sebuah proses. Pada 13 September 2026, teknologi tersebut dijadwalkan tiba di Pelabuhan Surabaya menggunakan kapal NEW CAMELLIA / 3741N.
Dari Jepang untuk Indonesia, kemudian diharapkan bergerak menuju Bali. Pertanyaannya kini bukan sekadar kapan mesin itu tiba, tetapi apakah Bali akan memberikan ruang untuk melihat apa yang sebenarnya mampu dilakukan teknologi tersebut. Made Hiroki melalui Solusi Aksara membawa teknologi dari Jepang dengan harapan sederhana namun besar: teknologi tersebut dapat dilihat, dipelajari, diuji, dan dikaji bersama.
Jika terbukti bermanfaat dan memenuhi standar, terbuka peluang untuk dikembangkan. Jika belum sesuai, hasil pengujian juga menjadi pengetahuan penting. Yang jelas, Bali membutuhkan solusi nyata. Dan di tengah persoalan sampah yang terus menjadi tantangan, setiap inovasi yang berpotensi memberikan manfaat layak mendapatkan kesempatan untuk diuji secara terbuka. tim/jet


















