JeettNews, Badung | Bali sedang berada di persimpangan penting dalam sejarah pembangunannya. Di satu sisi, pariwisata terus tumbuh dan menjadi penggerak utama ekonomi daerah. Di sisi lain, tekanan terhadap ruang hidup, lingkungan, dan tatanan sosial desa adat semakin berat. Kemacetan kronis, konflik transportasi, serta ketimpangan distribusi ekonomi menjadi persoalan yang kian nyata dirasakan masyarakat, terutama krama desa adat yang selama ini justru menjadi fondasi budaya Bali.
Jalan-jalan yang padat di kawasan Sarbagita Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan bukan sekadar soal lalu lintas. Ia adalah gejala dari sistem transportasi yang tumbuh tanpa kendali, tanpa integrasi, dan tanpa keberpihakan pada masyarakat lokal. Kendaraan bertambah, tetapi kualitas hidup menurun. Mobilitas meningkat, tetapi keadilan ekonomi justru tertinggal.
Di tengah situasi itulah PT Sentrik Persada Nusantara atau SENTRIK hadir dengan pendekatan yang berbeda. Perusahaan ini tidak sekadar menawarkan armada baru atau layanan transportasi alternatif, tetapi membangun sebuah aplikasi transportasi hijau yang dirancang khusus berbasis desa adat. Sebuah sistem digital yang mengintegrasikan teknologi, ekonomi komunitas, budaya, dan keberlanjutan lingkungan dalam satu ekosistem.
Founder PT Sentrik Persada Nusantara, I Made Sudiana, S.H M.Si., menyebut bahwa Bali tidak sedang kekurangan inovasi, tetapi kehilangan arah dalam menata transportasi sebagai bagian dari peradaban.
“Transportasi di Bali selama ini diperlakukan seperti urusan teknis semata. Padahal ia menyentuh desa adat, ruang suci, ekonomi krama, bahkan martabat budaya. Kalau salah kelola, dampaknya panjang,” ujar Made Sudiana saat diwawancarai di Badung, Jumat 23 Januari 2026.
Menurutnya, aplikasi transportasi yang dibangun SENTRIK bukan sekadar platform pemesanan kendaraan. Ia adalah instrumen perubahan tata kelola. Teknologi diposisikan sebagai alat untuk mengembalikan peran desa adat dalam mengelola mobilitas dan ekonomi di wilayahnya sendiri.

Kemacetan yang terjadi hari ini, kata Made Sudiana, adalah akumulasi dari kebijakan yang memusatkan transportasi pada pasar bebas tanpa regulasi berbasis lokal. Jalan desa berubah fungsi menjadi koridor wisata. Aktivitas adat terganggu. Krama desa hanya menjadi penonton ketika wilayahnya menjadi pusat perputaran ekonomi besar. “Desa adat menanggung dampak, tapi tidak menikmati manfaat. Ini ketimpangan struktural yang harus dihentikan,” tegasnya.
Dari kegelisahan tersebut, SENTRIK merancang aplikasi transportasi hijau yang berangkat dari struktur sosial Bali. Aplikasi ini menghubungkan layanan transportasi desa adat dengan simpul mobilitas utama Bali, mulai dari kawasan wisata, pelabuhan, hingga bandara internasional. Seluruh layanan dikelola berbasis komunitas, bukan korporasi tunggal.
Dalam sistem ini, desa adat tidak ditempatkan sebagai objek, melainkan sebagai subjek utama. Melalui BUPDA dan koperasi, desa adat mengelola armada, menentukan wilayah operasional, menetapkan standar layanan, serta mengawasi jalannya sistem melalui mekanisme adat. “Aplikasi ini kami bangun supaya desa adat berdaulat secara digital. Bukan sekadar ikut, tapi memimpin di wilayahnya sendiri,” kata Made Sudiana.
SENTRIK menyadari bahwa teknologi tanpa tata kelola hanya akan memindahkan masalah lama ke platform baru. Karena itu, aplikasi transportasi hijau ini dirancang dengan pendekatan ekosistem. Ia tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan pembiayaan, pelatihan, pengawasan sosial, dan nilai budaya.
Salah satu pilar utama sistem ini adalah keterlibatan krama desa adat dalam Koperasi Jasa Transportasi. Seluruh driver dan pelaku usaha transportasi tergabung dalam koperasi ini sebagai mitra usaha kolektif. Mereka mengelola layanan taksi, rental, travel, hingga feeder yang terhubung langsung dengan aplikasi SENTRIK.
Dengan struktur ini, ekonomi desa bergerak dari bawah. Pendapatan tidak terkonsentrasi pada segelintir pihak, tetapi dibagi secara adil sesuai peran dan kontribusi. Keuntungan koperasi kembali ke desa dalam bentuk penguatan ekonomi lokal dan kegiatan adat. “Transportasi jangan jadi alat eksploitasi. Ia harus jadi alat pemerataan,” ujar Made Sudiana.
Aplikasi transportasi hijau SENTRIK juga menetapkan standar layanan yang ketat. Seluruh driver wajib mengikuti aturan sesuai standar desa adat. Salah satu ketentuan utama adalah kewajiban mengenakan pakaian adat Bali saat bertugas. “Driver itu representasi Bali. Mereka wajib pakai pakaian adat Bali, pakai destar, rapi, sopan. Ini identitas, bukan sekadar seragam,” tegas Made Sudiana.
Standar ini bukan hanya soal penampilan, tetapi juga etika pelayanan. Wisatawan yang menggunakan aplikasi SENTRIK tidak hanya mendapatkan layanan transportasi, tetapi juga pengalaman budaya sejak awal perjalanan. Nilai-nilai lokal hadir dalam sistem modern.
Dari sisi teknologi, aplikasi SENTRIK dilengkapi dengan fitur manajemen armada, pemetaan wilayah berbasis desa adat, sistem pembayaran digital, monitoring perjalanan, serta pelaporan transparan. Seluruh aktivitas terekam dan dapat diawasi secara kolektif oleh koperasi dan desa adat.
SENTRIK juga memfasilitasi pengadaan kendaraan listrik sebagai bagian dari komitmen transportasi hijau. Skema pembiayaan dirancang ringan dan berkelanjutan, memanfaatkan KUR Hijau berbasis ekosistem desa adat. LPD Canggu menjadi mitra strategis dalam pembiayaan, mengingat kedekatan sosial dan pemahaman lokal yang dimilikinya. “Kredit itu tidak sekadar urusan bank. Ini urusan kepercayaan sosial. Kalau berbasis desa, risikonya justru lebih terkendali,” jelas Made Sudiana.
Aplikasi transportasi hijau SENTRIK tidak berhenti di desa. Sistem ini secara strategis dihubungkan dengan simpul transportasi utama Bali. SENTRIK telah menjalin kerja sama dengan Pelindo Benoa serta Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, khususnya di Terminal Internasional.
Melalui integrasi ini, wisatawan yang tiba di Bali dapat langsung mengakses layanan transportasi hijau berbasis desa adat melalui aplikasi. Mobilitas wisatawan terhubung langsung dengan ekonomi komunitas lokal, bukan sekadar jaringan transportasi konvensional. “Kalau bandara dan pelabuhan terhubung, desa adat tidak lagi di pinggiran. Mereka masuk ke arus utama,” kata Made Sudiana.
Desa Adat Canggu dipilih sebagai pilot project pengembangan aplikasi transportasi hijau ini. Wilayah ini menghadapi tekanan paling kompleks, mulai dari kepadatan lalu lintas, pertumbuhan akomodasi wisata, hingga konflik ruang. Namun di sisi lain, Canggu memiliki struktur desa adat yang kuat dan adaptif. “Canggu itu etalase Bali modern. Kalau sistem ini jalan di Canggu, artinya bisa jalan di tempat lain,” ujarnya.
Implementasi aplikasi ini juga disertai pelatihan intensif bagi krama desa. SENTRIK tidak hanya menyerahkan teknologi, tetapi mendampingi proses adaptasi. Pendampingan operasional, layanan purna jual, serta evaluasi berkala menjadi bagian dari komitmen jangka panjang.
Dalam perjalanannya, SENTRIK menyadari bahwa tantangan terbesar bukan teknologi, melainkan perubahan pola pikir. Dari individual ke kolektif, dari kompetisi ke kolaborasi, dari eksploitasi ke keberlanjutan.
Program ini dirancang dengan pemetaan risiko yang matang, mulai dari risiko operasional, sosial, hingga reputasi. Mekanisme adat justru menjadi instrumen mitigasi yang efektif. Paruman desa berfungsi sebagai ruang evaluasi, koreksi, dan legitimasi sosial.
Lebih dari sekadar aplikasi, transportasi hijau berbasis desa adat adalah upaya memulihkan keadilan ekonomi Bali. Krama desa tidak lagi menjadi penonton di tengah derasnya arus pariwisata, tetapi pelaku utama dalam sistem ekonomi hijau yang berkelanjutan.
Transportasi menjadi pintu masuk untuk membuka akses permodalan, menciptakan lapangan kerja, mengurangi emisi, serta menjaga nilai budaya Bali agar tetap hidup di tengah modernisasi.
Dengan membangun aplikasi transportasi hijau berbasis desa adat, SENTRIK menunjukkan bahwa transformasi digital tidak harus mengorbankan identitas lokal. Justru sebaliknya, teknologi dapat menjadi alat untuk memperkuat kearifan lokal dan kedaulatan desa. “Bali tidak harus memilih antara modern dan tradisi. Keduanya bisa berjalan bersama kalau sistemnya adil,” tutup Made Sudiana.
SENTRIK mungkin bukan satu-satunya solusi atas persoalan transportasi Bali. Namun langkah yang diambilnya telah membuka jalan baru. Jalan menuju transportasi yang lebih hijau, lebih adil, dan berpijak pada desa adat sebagai jantung peradaban Bali. aka/ker/jet




















