JeettNews, Badung | Di tengah pusaran perubahan wajah pariwisata Bali yang semakin kompleks, sebuah suara jujur justru datang dari seseorang yang bukan lahir di pulau ini, tetapi telah menjadikannya rumah selama puluhan tahun. Ia adalah Bagus Punarbawa, seorang warga negara asal Prancis yang pertama kali menginjakkan kaki di Bali pada tahun 1997 hanya sebagai turis selama tujuh hari. Namun pengalaman singkat itu justru menjadi titik balik hidupnya. Ia memilih tinggal, beradaptasi, dan menyatu dengan kehidupan Bali hingga kini.
Bagi Bagus, Bali bukan sekadar destinasi wisata. Bali adalah ruang hidup yang sarat nilai, budaya, dan terutama kehangatan manusia. Ia mengaku jatuh cinta pada Bali bukan karena keindahan alam semata, tetapi karena karakter masyarakatnya yang tulus, ramah, dan selalu menyambut dengan senyum. “Saya datang hanya tujuh hari, tapi tidak pernah benar-benar pergi. Yang membuat saya tinggal adalah orang Bali. Mereka selalu senyum, selalu ramah. Itu yang membuat Bali berbeda,” ujarnya.
Namun setelah hampir tiga dekade hidup di Bali, Bagus mulai merasakan perubahan yang cukup mengusik. Ia melihat ada pergeseran yang perlahan namun nyata, terutama dalam sektor transportasi pariwisata yang menjadi salah satu pintu pertama interaksi wisatawan dengan Bali.
Menurutnya, wajah pertama Bali yang kini sering ditemui wisatawan justru tidak lagi mencerminkan nilai-nilai budaya yang selama ini menjadi kekuatan utama pulau ini. Pengalaman yang ia lihat, rasakan, bahkan alami sendiri, menunjukkan adanya masalah serius yang tidak bisa lagi dianggap sepele.
Bagus mengungkapkan bahwa salah satu persoalan paling mencolok adalah ketidakpastian layanan transportasi berbasis aplikasi global. Ia menyebut bahwa dalam banyak kasus, wisatawan maupun dirinya sendiri harus menghadapi pembatalan berulang saat memesan kendaraan. “Saya sering pesan, bisa sampai enam kali, bahkan sepuluh kali dibatalkan. Itu bukan sekali dua kali, tapi sering,” ungkapnya dengan nada serius.
Lebih dari itu, ia juga menyoroti praktik yang menurutnya sangat merusak citra Bali, yakni permintaan harga di luar sistem aplikasi. Ia mengaku kerap menemukan pengemudi yang menolak menggunakan tarif resmi dan justru menawarkan harga yang jauh lebih tinggi. “Kalau sudah dapat pun, sering diminta harga di luar aplikasi. Bisa 500 ribu sampai satu juta. Ini tidak masuk akal,” katanya.
Fenomena ini, menurut Bagus, bukan sekadar masalah teknis, tetapi telah menjadi persoalan serius yang berdampak langsung pada citra pariwisata Bali. Ia menilai bahwa pengalaman buruk di awal perjalanan dapat membentuk persepsi negatif wisatawan terhadap Bali secara keseluruhan. “Yang pertama kali ditemui tamu itu sopir. Mereka ngobrol, mereka tanya-tanya. Kalau sopir tidak ramah, tidak senyum, bahkan bermain harga, itu langsung merusak image Bali,” tegasnya.
Bagus menekankan bahwa wisatawan datang ke Bali bukan hanya untuk melihat pemandangan, tetapi untuk merasakan budaya. Mereka ingin merasakan keramahan, interaksi hangat, dan nilai-nilai lokal yang selama ini menjadi identitas Bali.
Namun jika pengalaman pertama yang mereka dapatkan justru sebaliknya, maka ekspektasi tersebut akan runtuh seketika. “Tamu datang ke Bali cari budaya, cari keramahan. Tapi kalau yang pertama mereka rasakan justru tidak ramah, mereka bisa langsung kecewa,” ujarnya.
Ia bahkan menyebut bahwa dalam beberapa kasus, wisatawan merasa kaget karena pengalaman yang mereka alami tidak sesuai dengan cerita yang mereka dengar sebelumnya tentang Bali.
Menurut Bagus, persoalan ini tidak bisa hanya disalahkan kepada individu pengemudi. Ia melihat ada masalah sistemik yang membuat situasi ini terjadi. Sistem yang ada saat ini dinilai tidak mampu mengakomodasi nilai-nilai lokal Bali, sehingga interaksi yang terjadi cenderung kehilangan sentuhan budaya.
Dalam konteks inilah, ia melihat kehadiran Tri Hita Trans sebagai sesuatu yang sangat penting dan relevan. Bagus menyebut bahwa konsep aplikasi berbasis desa adat yang diusung oleh PT Sentrik Persada Nusantara merupakan terobosan yang belum pernah ia temukan di tempat lain. “Saya sudah ke banyak tempat di dunia. Belum pernah ada aplikasi seperti ini. Ini sangat luar biasa,” ujarnya.
Ia menilai bahwa pendekatan berbasis desa adat adalah kunci utama yang membedakan Tri Hita Trans dengan platform lain. Dengan melibatkan struktur sosial lokal, sistem ini dinilai memiliki peluang lebih besar untuk menjaga kualitas layanan sekaligus mempertahankan nilai budaya. “Bali punya sistem sendiri, desa adat. Kalau ini dipakai sebagai dasar, itu sangat kuat. Itu yang tidak dimiliki tempat lain,” katanya.
Bagus juga mengapresiasi bahwa Tri Hita Trans tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada nilai-nilai pelayanan. Menurutnya, kombinasi antara sistem digital dan pendekatan budaya merupakan langkah yang tepat untuk menjawab tantangan pariwisata modern.
Ia percaya bahwa jika dijalankan dengan konsisten, Tri Hita Trans tidak hanya akan memperbaiki sistem transportasi, tetapi juga mengembalikan citra Bali sebagai destinasi yang ramah dan berbudaya. “Ini bukan hanya aplikasi. Ini sistem yang bisa membantu tamu dan masyarakat Bali sekaligus,” ujarnya.
Lebih jauh, Bagus melihat bahwa Tri Hita Trans memiliki potensi untuk menjadi model global. Ia menilai bahwa dunia saat ini mulai mencari pendekatan yang lebih berkelanjutan dan berbasis komunitas, dan Bali memiliki peluang besar untuk menjadi pelopor. “Kalau ini berhasil, ini bisa jadi contoh untuk dunia. Karena ini bukan hanya bisnis, tapi ada nilai di dalamnya,” katanya.
Namun ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan tidak akan datang dengan sendirinya. Diperlukan komitmen kuat dari semua pihak, mulai dari pengelola, driver, hingga masyarakat.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan pada teknologi, tetapi pada konsistensi dalam menjalankan nilai-nilai yang diusung. “Kalau tidak dijaga, bisa saja berubah seperti yang lain. Jadi harus benar-benar dijaga dari awal,” ujarnya.
Sebagai seseorang yang telah lama hidup di Bali, Bagus merasa memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga pulau ini. Ia tidak ingin Bali kehilangan identitasnya di tengah arus modernisasi yang begitu cepat. “Bali itu kuat karena budayanya. Kalau budaya hilang, Bali juga akan berubah,” tegasnya.
Ia berharap bahwa Tri Hita Trans dapat menjadi alat untuk memperkuat, bukan menggantikan, nilai-nilai tersebut. Ia ingin melihat sistem transportasi yang tidak hanya efisien, tetapi juga mencerminkan karakter Bali. “Senyum itu penting. Ramah itu penting. Itu yang membuat Bali berbeda dari tempat lain,” katanya.
Bagus juga menekankan bahwa perbaikan sistem transportasi akan berdampak luas terhadap pariwisata secara keseluruhan. Pengalaman wisatawan yang lebih baik akan meningkatkan citra Bali dan pada akhirnya berdampak pada keberlanjutan industri pariwisata.
Ia percaya bahwa Bali memiliki semua modal untuk melakukan perubahan tersebut. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk keluar dari pola lama dan membangun sistem yang lebih adil dan berkelanjutan. “Bali punya segalanya. Tinggal bagaimana kita mengelolanya dengan benar,” ujarnya.
Dalam pandangannya, Tri Hita Trans adalah langkah awal yang sangat penting. Ia melihat ada harapan besar di dalamnya, tidak hanya bagi masyarakat lokal, tetapi juga bagi wisatawan yang datang dengan harapan tinggi terhadap Bali. “Saya sangat senang ada ini. Ini sangat baik untuk Bali,” ujarnya.
Dukungan dari Bagus menjadi refleksi bahwa persoalan transportasi Bali bukan hanya isu lokal, tetapi juga menjadi perhatian komunitas global yang hidup dan berinteraksi langsung dengan sistem tersebut.
Jika selama ini keluhan datang dari masyarakat lokal, kini suara itu diperkuat oleh perspektif internasional yang melihat langsung bagaimana sistem berjalan di lapangan.
Dalam konteks ini, Tri Hita Trans tidak hanya diuji oleh ekspektasi lokal, tetapi juga oleh harapan global. Jika berhasil, ia tidak hanya akan mengubah wajah transportasi Bali, tetapi juga memperkuat posisi Bali sebagai destinasi wisata berbasis budaya yang autentik dan berkelanjutan.
Bagi Bagus, ini adalah momen penting yang tidak boleh dilewatkan. Ia percaya bahwa Bali sedang berada di titik penentuan. Apakah akan terus mengikuti arus global tanpa kendali, atau mulai membangun sistemnya sendiri yang berakar pada kekuatan lokal. “Saya harap ini berhasil. Karena Bali pantas punya sistem sendiri,” pungkasnya. tim/jet/ker


















