JeettNews, Denpasar | Peran Bank Rakyat Indonesia dalam mendorong transformasi UMKM tidak lagi sekadar wacana. Di lapangan, dampaknya mulai terlihat nyata. Salah satu contoh konkret hadir dari Depot Betty di Tabanan, usaha kuliner keluarga yang mampu bertahan hingga 25 tahun dan terus berkembang di tengah tekanan persaingan bisnis yang semakin brutal.
Berawal dari warung sederhana di Pasar Tradisional Pancasari pada 2001, Depot Betty nyaris seperti kebanyakan UMKM lainnya yang bertumpu pada pola usaha konvensional. Namun, perubahan besar terjadi saat tongkat estafet usaha diambil alih oleh I Putu Bayu Ekayana pada 2013. Di titik inilah transformasi dimulai, bukan dengan mengubah resep, tetapi dengan memperkuat fondasi bisnis.
Bayu memilih langkah yang jarang dilakukan pelaku usaha kecil: membenahi manajemen, meningkatkan standar pelayanan, serta menjaga higienitas secara konsisten. Strategi ini perlahan mengangkat citra usaha yang sebelumnya hanya dikenal di pasar lokal, menjadi destinasi kuliner yang dilirik wisatawan di jalur strategis Denpasar–Bedugul.
Namun, di balik pertumbuhan itu, ada faktor penting yang menjadi penopang utama: akses permodalan.
Sejak 2014, Depot Betty mulai memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI. Skema pembiayaan ini menjadi kunci dalam menjaga arus kas sekaligus membuka ruang pengembangan usaha tanpa harus terjebak dalam tekanan finansial.
“Dengan dukungan KUR, kami bisa lebih leluasa mengatur usaha. Tidak hanya bertahan, tapi juga berkembang,” ungkap Bayu.
Tidak berhenti pada pembiayaan, BRI juga mendorong perubahan cara kerja UMKM melalui digitalisasi. Depot Betty kini telah sepenuhnya mengadopsi sistem transaksi non-tunai menggunakan QRIS, EDC, dan aplikasi digital BRImo.
Transformasi ini membawa perubahan signifikan. Seluruh transaksi kini tercatat secara otomatis, membuat pengelolaan keuangan menjadi lebih transparan, efisien, dan minim risiko.
“Sekarang semua serba cepat dan tercatat. Kami bisa kontrol keuangan harian tanpa ribet,” kata Bayu.
Digitalisasi juga mempercepat adaptasi terhadap perilaku konsumen. Saat ini, sekitar setengah dari total transaksi Depot Betty sudah menggunakan metode non-tunai. Tren ini tidak hanya datang dari generasi muda, tetapi juga mulai diikuti oleh pelanggan usia lebih tua yang mengutamakan kepraktisan.
Di tengah peluang ekspansi yang terbuka lebar, Bayu justru memilih langkah yang lebih terukur. Ia tidak tergoda untuk memperbesar usaha secara agresif, melainkan fokus menjaga stabilitas dan kualitas.
Langkah ini menunjukkan bahwa keberhasilan UMKM tidak selalu ditentukan oleh seberapa cepat mereka tumbuh, tetapi seberapa kuat mereka bertahan.
Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menegaskan bahwa digitalisasi menjadi strategi utama dalam memperkuat daya saing UMKM di era modern.
“BRI hadir tidak hanya sebagai penyedia pembiayaan, tetapi juga sebagai mitra transformasi UMKM melalui layanan digital dan ekosistem yang terintegrasi,” ujarnya.
Menurutnya, kombinasi antara akses modal dan teknologi menjadi kunci agar UMKM mampu naik kelas dan menembus pasar yang lebih luas.
Kisah Depot Betty menjadi bukti bahwa ketika UMKM didukung dengan sistem yang tepat, mereka tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang secara berkelanjutan. Dari usaha kecil berbasis keluarga, kini menjadi jaringan kuliner yang tetap relevan di tengah perubahan zaman yang cepat. tim/ket/ker
















