JeettNews, Denpasar | Prestasi membanggakan kembali dicatat murid Ballet Royal Bali di kancah internasional. Ni Nyoman Alisha Triani Darma Widyanata sukses membawa pulang empat medali dari ajang International Asia Championship 2026 yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 12–16 September 2026.
Dalam kompetisi tersebut, Alisha berhasil meraih satu medali emas dan tiga medali perak. Capaian ini menambah panjang catatan prestasinya sekaligus memperlihatkan bahwa talenta muda Bali memiliki peluang untuk tampil dan berkompetisi di panggung seni internasional.
Alisha merupakan putri dari pasangan Nyoman Edi Kurniawan, SH., M.Kn., dan Fenty Puspitasari, SH., M.Kn. Selain mengembangkan bakat ballet bersama Ballet Royal Bali, Alisha juga tercatat sebagai siswi Denpasar Children Centre (DCC) School.
Bagi Ballet Royal Bali, empat medali yang diraih Alisha bukan sekadar jumlah penghargaan. Di balik capaian tersebut terdapat proses panjang yang mencakup latihan teknik, penguasaan gerakan, musikalitas, ekspresi, kedisiplinan hingga kesiapan mental untuk tampil di hadapan juri dalam kompetisi bertaraf internasional.
Founder Ballet Royal Bali, Ms Jewell Arcia Ruslim, menyampaikan apresiasi atas perjuangan Alisha yang kembali mampu menunjukkan kemampuannya dalam kompetisi internasional.

Menurut Jewell, keberhasilan seorang murid tidak diperoleh secara instan. Ada latihan yang konsisten, pendampingan pelatih, dukungan orang tua serta keberanian dari anak untuk keluar dari zona nyaman dan menguji kemampuan di panggung yang lebih luas.
“Prestasi ini tentu sangat membanggakan. Alisha sudah melalui proses latihan dan persiapan yang tidak sebentar. Mendapatkan satu medali emas dan tiga medali perak di kompetisi internasional merupakan hasil dari kerja keras dan konsistensinya,” ujar Jewell.
Ia menegaskan Ballet Royal Bali akan terus memberikan ruang bagi para murid untuk mengembangkan kemampuan. Pembelajaran tidak hanya dilakukan melalui latihan rutin di kelas, tetapi juga melalui pengalaman pertunjukan, ujian, pelatihan hingga kompetisi.
Jewell juga menilai pengalaman mengikuti kompetisi di luar negeri memberikan nilai pendidikan tersendiri bagi anak-anak. Mereka tidak hanya belajar mengejar kemenangan, tetapi juga belajar menghadapi tekanan, berinteraksi dengan peserta dari berbagai daerah dan negara, menghargai proses serta menerima hasil secara sportif.
“Yang paling penting bagi kami bukan hanya medalinya. Anak-anak harus mendapatkan pengalaman, keberanian dan kepercayaan diri. Ketika mereka berani tampil di luar negeri dan berhadapan dengan peserta dari berbagai tempat, itu menjadi bagian dari proses pendidikan mereka,” katanya.
Prestasi Alisha di Kuala Lumpur juga bukan capaian pertamanya di panggung seni internasional. Sebelumnya, ia tercatat meraih penghargaan dalam ajang seni internasional. Pada International Art Festival di Thailand, Alisha pernah memperoleh medali emas untuk kategori Jazz dan medali perunggu untuk kategori Ballet Klasik.
Prestasinya kembali tercatat dalam International Art Festival Bangkok 2025. Dalam ajang tersebut, Alisha disebut berhasil meraih Medali Platinum atau Juara Umum I.
Rangkaian penghargaan tersebut menunjukkan bahwa capaian Alisha di Kuala Lumpur pada September 2026 tidak berdiri sendiri. Ada perjalanan panjang yang telah dilaluinya dalam mengembangkan kemampuan seni dan ballet sejak usia dini.
Ballet Royal Bali selama ini mengembangkan pendidikan ballet dengan kurikulum yang berbasis Royal Academy of Dance (RAD) London. Sejumlah pemberitaan sebelumnya juga mencatat sekolah ini secara rutin mengirim murid mengikuti kegiatan di luar negeri serta menyelenggarakan ujian internasional dengan penguji dari RAD.
Jewell mengatakan pengalaman internasional tersebut merupakan bagian dari visi Ballet Royal Bali untuk membuka kesempatan seluas-luasnya bagi anak-anak yang memiliki minat dan bakat di bidang ballet.
Ia berharap semakin banyak murid dari Bali yang berani membawa kemampuan mereka ke tingkat nasional maupun internasional.
“Bali memiliki banyak anak yang berbakat. Tugas kami adalah memberikan mereka kesempatan untuk berkembang, berlatih dengan benar, tampil dan mendapatkan pengalaman. Kalau mereka kemudian bisa membawa nama Bali dan Indonesia dalam kompetisi internasional, tentu kami sangat bangga,” ujar Jewell.
Bagi Alisha, empat medali dari Kuala Lumpur menjadi tambahan pengalaman penting dalam perjalanan panjangnya sebagai penari muda. Satu medali emas dan tiga medali perak sekaligus menunjukkan konsistensi performanya dalam kompetisi yang diikutinya.
Namun, capaian tersebut juga menghadirkan tantangan baru. Prestasi dalam sebuah kompetisi bukanlah akhir perjalanan seorang atlet maupun seniman. Setelah meraih penghargaan, tantangan berikutnya adalah mempertahankan disiplin latihan, memperbaiki teknik yang masih perlu ditingkatkan dan terus mengembangkan kualitas penampilan.
Dari Bali menuju Kuala Lumpur, perjalanan Alisha memperlihatkan bahwa panggung internasional dapat menjadi ruang pembelajaran bagi anak-anak Bali. Ballet tidak hanya berkaitan dengan gerakan indah di atas panggung, tetapi juga membutuhkan disiplin, ketekunan, keberanian, konsistensi dan kemauan untuk terus belajar.
Ballet Royal Bali pun menempatkan prestasi Alisha sebagai bagian dari proses pembinaan yang berkelanjutan. Sekolah tersebut sebelumnya telah mencatat berbagai capaian murid dalam kompetisi maupun kegiatan ballet di luar negeri. Pada 2024, misalnya, Ballet Royal Bali diberitakan mengantarkan murid mengikuti kegiatan ballet di Jepang sekaligus menjalani ujian internasional.
Dengan torehan satu medali emas dan tiga medali perak pada International Asia Championship 2026 di Kuala Lumpur, Ni Nyoman Alisha Triani Darma Widyanata kembali menambah daftar prestasi murid Ballet Royal Bali di panggung internasional.
Capaian tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa talenta seni dari Bali tidak hanya tumbuh untuk tampil di panggung lokal. Dengan pembinaan, latihan dan kesempatan yang tepat, anak-anak Bali juga dapat memperoleh pengalaman berkompetisi di tingkat internasional sejak usia muda.
Ket foto: Ni Nyoman Alisha Triani Darma Widyanata, murid Ballet Royal Bali sekaligus siswi Denpasar Children Centre (DCC) School, berhasil meraih satu medali emas dan tiga medali perak dalam ajang International Asia Championship 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia, 12–16 September 2026.
Ket foto 2: Founder Ballet Royal Bali, Ms Jewell Arcia Ruslim, bersama Ni Nyoman Alisha Triani Darma Widyanata usai menorehkan prestasi di ajang kompetisi internasional. (Foto: Ist)













