JeettNews, Tabanan | Transformasi sektor pertanian di Bali kian menunjukkan arah progresif. Dukungan permodalan dari perbankan, khususnya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, menjadi motor penggerak lahirnya petani-petani modern yang mampu menembus pasar premium. Di Kabupaten Tabanan, kisah sukses Made Sandi menjadi potret nyata bagaimana akses pembiayaan mampu mengubah wajah pertanian tradisional menjadi usaha hortikultura bernilai tinggi.
Berasal dari Desa Bangli, Kecamatan Baturiti, Sandi membangun usaha paprika organik berbasis greenhouse di lahan seluas 2,5 are. Dengan ketekunan dan keberanian berinovasi, ia kini mengelola sekitar 860 pot atau setara 1.600 tanaman paprika jenis dutch yang diproduksi secara konsisten dengan sistem panen harian.
Perjalanan Sandi tidak lepas dari tantangan, terutama pada tahap awal saat biaya bibit masih tergolong tinggi. Namun, ia memilih untuk berinovasi dengan mengembangkan bibit secara mandiri guna menekan biaya produksi. Langkah ini menjadi titik balik yang memperkuat fondasi usahanya.
Selama empat tahun terakhir, produktivitas usaha Sandi terus meningkat. Dalam satu kali panen, ia mampu menghasilkan 20 hingga 40 kilogram paprika, bahkan bisa mencapai 100 kilogram saat panen menyeluruh sesuai permintaan pasar. Masa produksi pun berlangsung hingga delapan bulan dalam satu periode tanam, mencerminkan efisiensi dan keberlanjutan sistem yang diterapkan.
Tidak hanya mengandalkan metode konvensional, Sandi juga mengintegrasikan teknologi smart farming dalam pengelolaan usahanya. Mulai dari pengaturan nutrisi hingga sistem penyiraman otomatis, seluruh proses dirancang untuk menjaga kualitas produk. Hasilnya, paprika yang dihasilkan masuk kategori premium dengan harga jual tinggi, yakni paprika merah mencapai Rp150 ribu per kilogram, hijau Rp125 ribu, dan kuning bahkan sempat menembus Rp200 ribu per kilogram.
Permintaan pasar terhadap produk organik yang terus meningkat, terutama dari sektor perhotelan, menjadi faktor pendorong utama berkembangnya usaha ini. Kualitas dan konsistensi produksi menjadi kunci utama agar mampu memenuhi standar pasar premium yang semakin selektif.
Di sisi lain, BRI melalui Regional Office Denpasar terus memperkuat komitmennya dalam mendukung sektor pertanian organik. Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menegaskan bahwa pihaknya aktif mendorong pelaku usaha pertanian untuk naik kelas melalui akses pembiayaan yang inklusif dan berkelanjutan.
Melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR), BRI memberikan kemudahan akses modal bagi petani sekaligus melakukan pendampingan serta peningkatan literasi keuangan. Langkah ini tidak hanya memperkuat permodalan, tetapi juga membangun kapasitas petani agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Sinergi antara perbankan, pemerintah, dan pelaku usaha dinilai menjadi kunci dalam mempercepat pertumbuhan sektor pertanian organik di Bali dan Nusa Tenggara. Di tengah tantangan biaya produksi dan keterbatasan teknologi, dukungan permodalan menjadi fondasi penting dalam mendorong transformasi menuju pertanian modern berbasis inovasi.
Kisah Made Sandi menjadi bukti bahwa pertanian tidak lagi identik dengan sektor tradisional, melainkan mampu menjadi industri strategis yang memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. tim/jet/jer



















