JeettNews, Denpasar | Dinamika pasca gagalnya ogoh-ogoh “Gajahdaha” mencapai Catus Pata memasuki babak baru. Sang arsitek, I Nyoman Gede Sentana Putra alias Kedux, secara mengejutkan dikabarkan menyatakan undur diri dari perannya dalam penggarapan ogoh-ogoh Banjar Tainsiat ke depan. Keputusan ini menjadi sorotan, mengingat sosok Kedux selama ini dikenal sebagai kreator di balik karya-karya monumental banjar tersebut.
Keputusan mundur ini disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab moral atas insiden yang terjadi saat malam pengerupukan Nyepi Tahun Caka 1948. Meski berbagai pihak menilai kerusakan “Gajahdaha” terjadi di luar prediksi dan bukan semata kesalahan individu, Kedux memilih mengambil sikap ksatria dengan menempatkan dirinya sebagai pihak yang bertanggung jawab.
Langkah ini memunculkan beragam reaksi. Di satu sisi, publik melihatnya sebagai bentuk integritas seorang kreator yang berani bertanggung jawab. Di sisi lain, tidak sedikit yang menyayangkan keputusan tersebut, mengingat kontribusi Kedux selama ini dalam mengangkat nama Banjar Tainsiat sebagai salah satu barometer ogoh-ogoh inovatif di Denpasar.
Dalam dinamika internal banjar, keputusan ini tidak berdiri sendiri. Evaluasi menyeluruh tengah dilakukan, khususnya terkait aspek teknis konstruksi, manajemen risiko saat pengarakan, hingga kesiapan tim di lapangan. Insiden patahnya struktur ogoh-ogoh sebanyak dua kali menjadi catatan serius yang harus dijawab secara kolektif, bukan hanya individu.
Krama Banjar Tainsiat pun dihadapkan pada dilema antara mempertahankan sosok kreator yang telah terbukti kualitasnya atau membuka ruang regenerasi baru dalam tubuh tim kreatif. Namun satu hal yang menjadi kesepahaman bersama adalah bahwa kejadian ini tidak boleh mematahkan semangat berkarya.
Secara kultural, sikap yang ditunjukkan Kedux mencerminkan nilai tanggung jawab yang kuat dalam tradisi Bali. Dalam dunia seni dan budaya, keberanian untuk mengakui kegagalan dan mengambil konsekuensi bukanlah hal yang mudah. Namun justru di situlah letak kehormatan seorang seniman.
Di tengah derasnya perhatian publik, banyak pihak berharap keputusan ini tidak menjadi akhir dari perjalanan kreatif Kedux. Sebaliknya, momen ini diharapkan menjadi ruang refleksi untuk kembali dengan karya yang lebih matang di masa depan.
Banjar Tainsiat sendiri dikenal tidak hanya sebagai tempat lahirnya ogoh-ogoh spektakuler, tetapi juga sebagai ruang tumbuhnya ide-ide progresif. Pergantian peran dalam tim kreatif bukan hal baru, namun selalu membawa tantangan tersendiri dalam menjaga konsistensi kualitas.
Pasca insiden “Gajahdaha”, arah baru Banjar Tainsiat ke depan menjadi perhatian. Apakah akan tetap mempertahankan gaya inovatif yang selama ini menjadi ciri khas, atau melakukan penyesuaian demi meminimalisir risiko teknis di lapangan.
Yang jelas, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik kemegahan ogoh-ogoh, terdapat kompleksitas yang tidak sederhana. Mulai dari perencanaan, eksekusi, hingga pengarakan, semuanya membutuhkan presisi tinggi dan kesiapan yang matang.
Kedux mungkin memilih mundur dari posisinya saat ini, namun jejak karyanya tetap menjadi bagian dari perjalanan Banjar Tainsiat. Dan seperti halnya seni itu sendiri, setiap proses—baik berhasil maupun gagal—akan selalu meninggalkan pelajaran berharga.
Ke depan, publik akan menantikan bagaimana Banjar Tainsiat bangkit dari situasi ini. Satu hal yang pasti, semangat berkarya tidak akan berhenti hanya karena satu kegagalan. tim/jet















