JeettNews, Karangasem | Di sela gelaran “Semesta Masolah: Pentas Talenta Seni Budaya dan Pemutaran Film Dokumenter” pada Sabtu, 8 Agustus 2026 di Tapa Agung View, Besakih, Yayasan Rare Semesta menyerahkan secara simbolis Punia Semesta “Cihna Bakti” kepada SMP Negeri Satu Atap (Satap) Besakih. Penyerahan ini menjadi inti dari rangkaian acara, sebagai penanda komitmen nyata dalam menjaga keberlangsungan peradaban pendidikan di Besakih.
Punia Sebagai Landasan Gerak
Dalam ajaran Hindu Bali, punia dimaknai sebagai pemberian yang dilandasi ketulusan hati, tanpa mengharap balasan. Ia merupakan bagian dari konsep dana punia dalam siklus yadnya, wujud persembahan yang lahir dari niat baik untuk kebaikan bersama (loka samgraha). Berbeda dengan pemberian biasa, punia menempatkan proses memberi itu sendiri sebagai bentuk bhakti, sebuah laku spiritual yang menghubungkan pemberi dengan tujuan yang lebih luas: keberlangsungan hidup orang banyak.
Semangat inilah yang mendasari lahirnya “Cihna Bakti”, punia yang diserahkan Yayasan Rare Semesta kepada SMP Negeri Satu Atap Besakih. Nama “Cihna Bakti” sendiri dapat dimaknai sebagai “penanda bakti”, sebuah simbol yang tidak berhenti pada seremoni penyerahan, melainkan menjadi penanda arah dari komitmen jangka panjang terhadap pendidikan di Desa Besakih.
Pendidikan dan Kebudayaan: Dua Sisi yang Tak Terpisahkan
Ketua Yayasan Rare Semesta, Putu Gede Asnawa Dikta, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa pendidikan dan kebudayaan merupakan dua hal yang saling berkelindan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Sebagai bagian dari Krama Wed Besakih, ia memandang penting adanya upaya menyiapkan sumber daya manusia (SDM) Besakih sejak usia dini, sebuah kepedulian yang kemudian diwujudkan lewat pemberian punia ini.
Ia menyebut, SMP Negeri Satu Atap Besakih merupakan satu-satunya sekolah menengah pertama di Desa Besakih, dengan mayoritas siswanya berasal dari keluarga prasejahtera. Bagi Asnawa Dikta, punia yang diserahkan bukan sekadar bantuan material, melainkan bentuk tanggung jawab kolektif agar pendidikan tetap dapat menjadi jalan membuka peluang kehidupan yang lebih baik bagi anak-anak Besakih.
“Kolaborasi ini bukan hanya media edukasi, tetapi juga media apresiasi yang memberi ruang berlatih dan pentas bagi para talenta Satap Besakih. Semesta Masolah hadir sebagai ruang gerak untuk tetap berinovasi di tengah berbagai keterbatasan,” ujarnya.

Ia berharap, punia sederhana ini dapat menjadi pemantik bagi seluruh pihak untuk turut serta memperkuat kualitas pendidikan di daerah, sehingga semangat memberi tidak berhenti pada satu pihak saja, melainkan menular dan menumbuhkan gerakan bersama.
Punia dalam Bingkai Tri Hita Karana
Acara resmi dibuka oleh Kepala Bidang Pembinaan Pembangunan Desa Adat, Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi Bali, Putu Bayu Putra Mahendra, S.STP., M.Si., yang turut menyampaikan materi “Peran Film Dokumenter untuk Potensi Penguatan Seni, Budaya, dan Pengembangan Desa Adat”.
Ia menjelaskan bahwa upaya semacam pemberian punia dan penguatan seni budaya ini termasuk dalam ranah penguatan dimensi Pawongan dalam konsep Tri Hita Karana, yaitu keharmonisan hubungan antarsesama manusia.
Narasumber dari Universitas Markandeya, Ida Bagus Arya Lawa Manuaba, S.Pd., M.Pd., dalam materi “Potensi Film Dokumenter Budaya dalam Penguatan Tradisi dan Budaya secara Holistik” bertajuk “Parasparam Bhavayantah”, turut menyoroti bahwa punia sejatinya berakar dari nilai yang sama dengan pelaksanaan tradisi Yadnya, yaitu wujud kerja sama antara manusia dengan Dewata melalui siklus korban suci (yajna) yang tulus dan berkelanjutan.
Sementara narasumber dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Nyoman Atheny Pramasastra Dewi, menekankan bahwa sebuah karya seni, sebagaimana halnya punia, lahir dari proses yang tulus, dan proses yang tulus itulah yang akan menghadirkan taksu.
Panggung Talenta sebagai Buah dari Punia
Kepala SMP Negeri Satu Atap Besakih, yang diwakili oleh I Gede Anggan Bayu Permana, S.Pd., menyampaikan rasa syukur atas kolaborasi yang rutin terjalin dengan Yayasan Rare Semesta. Ia menilai, dukungan yang diberikan ini menjadi bukti kepedulian nyata terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Desa Besakih.
“Kami termotivasi karena mendapatkan atensi khusus. Kami juga mengucapkan terima kasih karena pada kesempatan ini difasilitasi untuk menampilkan Tari Puspanjali, Tari Margapati, Tari Condong, Tari Joged, serta penampilan talenta seni suara Satap Besakih,” ungkapnya.
Ia menambahkan, talenta seni suara sekolahnya sebelumnya berhasil meraih Juara 1 dalam ajang lomba tingkat Provinsi Bali, sebuah pencapaian yang menurutnya membuktikan bahwa dukungan lewat punia mampu memberi ruang tumbuh bagi potensi anak-anak Besakih. Anggan menegaskan, SMP Negeri Satu Atap Besakih sejatinya kaya akan potensi, namun pengelolaannya membutuhkan komitmen bersama yang berkelanjutan dari berbagai pihak.
Punia Semesta “Cihna Bakti” menjadi bukti bahwa sinergi antara lembaga pendidikan, akademisi, pemerintah, dan komunitas dapat membuka ruang lebih luas bagi anak-anak daerah untuk berkarya, sekaligus menjaga warisan seni dan budaya Besakih tetap hidup dari generasi ke generasi. tim/jet















