JeettNews, Denpasar | Pada pagi Manis Kuningan yang tenang, sebuah pesan WhatsApp singkat dari Gubernur Bali Wayan Koster tiba seperti bisikan lembut yang menembus kesunyian Bali yang baru saja melewati rangkaian Galungan dan Kuningan. “Menolong tanpa syarat, menerima tanpa melupakan, dan memberi tanpa mengingat.”
Kalimat itu jatuh seperti cahaya tipis dari celah awan, tidak keras, tetapi dalam. Di luar, aroma dupa masih menggantung dari persembahyangan terakhir. Penjor mulai miring, menyisakan jejak perjalanan spiritual yang baru saja ditutup umat Hindu Bali. Dan di tengah suasana yang mereda itu, pesan Koster terasa seperti pengingat bahwa kesucian tidak berakhir ketika banten dibereskan.
Tak lama berselang, satu pesan lagi menyusul. “Proses menuju penyatuan jiwa dan raga dengan alam semesta, syarat mutlak mampu menghilangkan egoisme dan berbagai keterikatan.”
Dua kalimat itu seperti epilog dari perjalanan ribuan hati yang sejak Galungan bergerak dalam ritme yang lebih halus: rumah dibersihkan, dupa menyala, doa dinaikkan, waktu diperlambat. Namun di Manis Kuningan, hari ketika segala gema ritual perlahan meredup, manusia justru kembali bertemu dirinya sendiri.
Pada titik itulah pesan Koster menemukan maknanya. Ia mengingatkan bahwa spiritualitas sejati tidak berhenti pada upacara, melainkan dimulai setelahnya: pada sikap yang tidak menuntut balasan, pada hati yang menerima tanpa dendam, pada tangan yang memberi tanpa pamrih. Bahwa keikhlasan bukan sekadar ajaran, tetapi laku sehari-hari.
Sementara pesan kedua mengarah pada renungan yang lebih dalam: bahwa inti perjalanan Galungan–Kuningan selalu kembali pada keseimbangan. Pengendalian diri. Peredaman ego. Menyatukan diri dengan alam semesta bukan dengan kata-kata, melainkan dengan merawat harmoni yang sering terlupakan.
Ketika dupa terakhir padam, ketika halaman rumah mulai sepi, pesan itu justru tidak hilang. Ia tinggal sebagai gema halus yang memandu pikiran untuk tidak kembali pada kekacauan sehari-hari begitu cepat.
Di bawah cahaya pagi, penulis memandangi penjor yang condong, batu halaman yang masih basah embun, dan menyadari bahwa setiap benda seperti sedang berbicara hal yang sama: bahwa penyucian sesungguhnya terjadi dalam cara manusia menjalani hari-harinya.
Rangkaian Galungan–Kuningan tahun ini ditutup bukan hanya dengan persembahyangan terakhir, tetapi dengan dua kalimat dari seorang gubernur yang memilih berbicara tentang nilai, bukan kewenangan. Pesan itu kini menggantung seperti sisa wangi dupa, lembut tetapi menyentuh, mengajak siapa pun untuk kembali jernih memandang hidup.
Bahwa keikhlasan dan pengendalian diri adalah ibadah yang tidak pernah selesai. Dan pada Manis Kuningan ini, Bali menutup rangkaian sucinya dengan doa, kesunyian, dan sepotong pesan yang mengembalikan manusia kepada kedalaman dirinya sendiri. aka/ker



















