JeettNews, Denpasar | Menjelang perayaan Hari Raya Galungan, sejumlah kabupaten di Bali melaporkan peningkatan signifikan jumlah babi yang dipotong untuk kebutuhan upacara dan konsumsi rumah tangga. Meskipun belum ada angka resmi yang merangkum total pemotongan di seluruh provinsi, data faktual dari beberapa daerah menunjukkan tingginya aktivitas pemotongan hewan menjelang hari suci umat Hindu tersebut.
Di Kota Denpasar, Kepala UPDT RPH Dinas Pertanian Denpasar, I Gusti Ngurah Sunartha, mengungkapkan bahwa pemotongan babi mencapai lebih dari 200 ekor per hari pada puncak aktivitas menjelang Galungan. “Dalam beberapa hari terakhir kami mencatat pemotongan berada di kisaran 200 sampai 230 ekor per hari. Ini kondisi yang normal setiap Galungan karena kebutuhan masyarakat meningkat,” ujarnya.
Sementara itu, di Kabupaten Klungkung, Kepala Dinas Pertanian Klungkung, Ida Bagus Juanida, menyebut sekitar 600 ekor babi akan dipotong menjelang Galungan, tersebar pada ratusan titik pemotongan tradisional maupun skala keluarga. “Stok aman dan harga daging stabil. Pemotongan tersebar di 336 titik, mayoritas di tingkat banjar,” katanya.
Di Kabupaten Badung, data Dinas Pertanian dan Pangan menunjukkan stok babi siap potong mencapai lebih dari 11 ribu ekor. Kepala Disperpa Badung, I Wayan Wijana, mengatakan bahwa ketersediaan ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan warga. “Populasi babi di Badung sangat mencukupi. Pemotongan biasanya ribuan ekor, namun tersebar di desa dan keluarga karena tradisi ngelawar sudah turun-temurun,” jelasnya.
Berdasarkan rangkuman data dari Denpasar, Klungkung, dan Badung saja, pemotongan diperkirakan sudah melewati angka 3.000 ekor. Jumlah total dipastikan lebih besar bila memasukkan kabupaten-kabupaten lain seperti Tabanan, Gianyar, dan Buleleng, yang juga dikenal memiliki populasi babi tinggi. Namun hingga saat ini belum ada laporan terpadu tingkat provinsi.
Tradisi memotong babi setiap Galungan menjadi bagian penting dari budaya kuliner dan upacara masyarakat Bali. Selain sebagai bahan utama lawar, urutan, tum, dan berbagai sajian adat, kegiatan ini juga menggerakkan sektor peternakan lokal yang masih didominasi peternak skala rumah tangga. aka/ker



















