JeettNews, Denpasar | Di tengah derasnya arus digitalisasi ekonomi yang semakin menguat di Bali, sebuah gerakan baru mulai menggema dari akar masyarakat lokal. Bukan sekadar inovasi teknologi, tetapi sebuah ikhtiar besar untuk mengembalikan posisi krama Bali sebagai tuan rumah di tanahnya sendiri. Melalui platform transportasi berbasis aplikasi bernama Trihita Trans, peluang kebangkitan ekonomi masyarakat lokal kini dibuka lebar.
Dengan slogan “Driver Bali Bangkit Bersama Trihita”, layanan transportasi berbasis aplikasi ini secara resmi membuka pendaftaran bagi pengemudi baru di seluruh Bali. Program ini bukan sekadar membuka lapangan kerja, tetapi menjadi langkah strategis membangun kedaulatan ekonomi digital berbasis budaya Bali melalui konsep Aplikasi Duwen Iraga—aplikasi yang dimiliki dan dikelola oleh masyarakat Bali sendiri.
Kehadiran Trihita Trans lahir dari kegelisahan panjang tentang posisi masyarakat Bali dalam ekosistem ekonomi digital yang berkembang pesat di Pulau Dewata. Selama bertahun-tahun, ribuan pengemudi Bali menjadi bagian dari sistem transportasi online global. Namun, kepemilikan dan kendali ekonomi dari platform tersebut sebagian besar berada di luar Bali. Realitas ini memunculkan kesadaran baru bahwa Bali membutuhkan sistem transportasi digital yang dibangun dari nilai, kekuatan sosial, dan kepentingan masyarakat lokal.
Ketua Umum Yayasan Trihita Bali Dwipa, I Ketut Widiana Karya, SE., MBA., menegaskan bahwa Trihita Trans bukan sekadar platform transportasi digital, melainkan gerakan ekonomi berbasis budaya yang bertujuan memperkuat kedaulatan ekonomi krama Bali. “Trihita bukan hanya aplikasi transportasi. Ini adalah gerakan kebangkitan ekonomi krama Bali. Kita ingin masyarakat Bali tidak hanya menjadi pekerja dalam sistem milik orang lain, tetapi menjadi pemilik ekosistem ekonomi digitalnya sendiri,” ujar Widiana Karya saat dihubungi awak media, Jumat (6/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa konsep Trihita Trans berangkat dari filosofi besar masyarakat Bali, yakni Tri Hita Karana—ajaran yang menekankan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama manusia, serta manusia dengan lingkungan.nFilosofi ini kemudian diterjemahkan dalam bentuk sistem ekonomi modern berbasis teknologi digital.
Trihita Trans mencoba menghadirkan keseimbangan antara kemajuan teknologi dengan pelestarian nilai budaya lokal. Sistem transportasi digital ini tidak hanya dibangun untuk mengejar keuntungan ekonomi semata, tetapi juga menjaga keberlanjutan identitas budaya Bali di tengah perkembangan zaman. Salah satu kekuatan utama dalam pengembangan Trihita Trans adalah keterlibatan desa adat sebagai pilar sosial masyarakat Bali.
Berbeda dengan platform transportasi digital pada umumnya, Trihita Trans sejak awal membangun komunikasi dan penjajakan kerja sama dengan berbagai desa adat di Bali. Langkah ini dilakukan melalui audiensi dan komunikasi langsung dengan para pemimpin desa adat, khususnya di wilayah yang memiliki aktivitas pariwisata tinggi. Dalam tahap awal pengembangan, Trihita Trans telah menjajaki kerja sama dengan puluhan desa adat di Bali.
Beberapa desa adat yang telah masuk dalam proses komunikasi awal antara lain Desa Adat Tanah Lot, Beraban, Nyanyi, Cemagi, Seseh, Pererenan, Canggu, Berawa, Tandeg, Padonan, Seminyak, Legian, Kuta, Tuban, Kelan, Bualu, Kampial, Kedonganan, Jimbaran, Kutuh, Pecatu, Unggasan, Tengkulung, Peminge, Tanjung Benoa, Serangan, Intaran, Sanur, hingga Kesiman. Dari sejumlah desa adat tersebut, beberapa di antaranya bahkan telah melakukan audiensi resmi dengan tim Trihita Trans. Di antaranya Desa Adat Beraban, Desa Adat Canggu, Desa Adat Tanjung Benoa, serta Desa Adat Serangan.
Sementara Desa Adat Jimbaran dan Desa Adat Pecatu telah menerima surat resmi terkait penjajakan kerja sama pengembangan ekosistem transportasi digital berbasis krama Bali. Menurut Widiana Karya, pendekatan berbasis desa adat menjadi fondasi penting dalam membangun sistem transportasi digital yang berkeadilan bagi masyarakat lokal. “Desa adat adalah jantung kehidupan masyarakat Bali. Kalau kita ingin membangun sistem ekonomi yang kuat dan berkelanjutan, maka desa adat harus menjadi bagian dari sistem tersebut,” ujarnya.
Melalui konsep ini, desa adat tidak hanya menjadi penonton perkembangan ekonomi digital, tetapi menjadi mitra strategis dalam pengelolaan ekosistem transportasi berbasis aplikasi. Dalam skema yang sedang dikembangkan, desa adat dapat terlibat melalui Badan Usaha Padruwen Desa Adat (BUPDA) maupun koperasi desa. Dengan model ini, manfaat ekonomi dari aktivitas transportasi digital tidak hanya dinikmati oleh pengemudi secara individu, tetapi juga dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan desa adat.
Konsep ini dinilai sebagai model baru pengelolaan transportasi digital di Bali yang lebih inklusif dan berbasis komunitas. Widiana Karya menegaskan bahwa Bali memiliki kekuatan sosial yang sangat besar melalui sistem desa adat. Jika kekuatan sosial ini dipadukan dengan teknologi digital, maka Bali memiliki peluang besar membangun ekosistem ekonomi yang kuat dan mandiri. “Bali punya kekuatan sosial yang luar biasa. Desa adat itu fondasi masyarakat kita. Kalau desa adat bersatu dengan teknologi digital, maka kita bisa membangun sistem ekonomi yang sangat kuat,” katanya.
Dalam sistem Trihita Trans, pengemudi yang bergabung tidak hanya dipandang sebagai driver transportasi. Mereka juga diharapkan menjadi duta budaya Bali bagi wisatawan yang datang ke Pulau Dewata. Hal ini dinilai penting karena pengemudi transportasi sering kali menjadi orang pertama yang berinteraksi dengan wisatawan ketika mereka tiba di Bali. Kesan pertama yang diberikan oleh pengemudi dapat mempengaruhi pengalaman wisatawan selama berada di Bali. Karena itu, Trihita Trans menempatkan standar pelayanan yang tidak hanya profesional, tetapi juga berbasis nilai budaya Bali.
“Kita ingin driver Bali bukan sekadar pengemudi. Mereka adalah duta budaya yang memperkenalkan keramahan dan nilai-nilai Bali kepada setiap tamu yang datang,” kata Widiana Karya. Sebagai bagian dari upaya menjaga standar pelayanan tersebut, Trihita Trans menetapkan sejumlah kriteria bagi calon driver yang ingin bergabung. Salah satu syarat utama adalah calon driver harus merupakan krama Bali yang dibuktikan dengan kepemilikan KTP Bali. Selain itu, calon driver juga diharapkan memiliki kecintaan terhadap adat dan budaya Bali.
Program ini membuka peluang bagi masyarakat dengan rentang usia yang cukup luas, yakni antara 20 hingga 60 tahun. Dari sisi legalitas berkendara, calon driver diwajibkan memiliki SIM A atau SIM B yang masih aktif. Menurut Widiana Karya, standar ini penting untuk memastikan keamanan dan profesionalisme layanan kepada penumpang. Namun Trihita Trans juga memahami bahwa tidak semua masyarakat memiliki kemampuan finansial untuk langsung memiliki kendaraan atau menjalankan operasional transportasi.
Karena itu, Trihita Trans juga membuka akses pembiayaan melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR). Skema ini bertujuan membantu masyarakat memperoleh kendaraan atau modal operasional dengan persyaratan yang relatif ringan. Dokumen yang diperlukan untuk pengajuan KUR antara lain KTP suami dan istri, Kartu Keluarga (KK), NPWP, serta Nomor Induk Berusaha (NIB). Dengan adanya fasilitas ini, masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki kendaraan tetap memiliki peluang untuk bergabung sebagai driver Trihita Trans.
“Kalau kita ingin krama Bali benar-benar bangkit secara ekonomi, maka akses terhadap modal harus dibuka. Jangan sampai peluang hanya dinikmati oleh mereka yang sudah punya kendaraan,” ujar Widiana Karya. Ia juga menegaskan bahwa Bali memiliki potensi ekonomi yang sangat besar dari sektor pariwisata. Setiap tahun jutaan wisatawan datang ke Pulau Dewata. Kebutuhan transportasi wisatawan tentu sangat tinggi.
Jika peluang ekonomi ini dapat dikelola oleh masyarakat lokal melalui sistem transportasi digital yang mereka miliki sendiri, maka dampak ekonominya akan sangat signifikan bagi kesejahteraan krama Bali. Trihita Trans diharapkan menjadi salah satu langkah awal menuju arah tersebut. Ke depan, platform ini tidak hanya menyediakan layanan transportasi reguler, tetapi juga berbagai layanan transportasi wisata. Mulai dari layanan antar-jemput bandara, perjalanan wisata, hingga layanan transportasi untuk kegiatan budaya dan event pariwisata.
Dengan model tersebut, driver tidak hanya memperoleh penghasilan dari perjalanan harian, tetapi juga dari layanan wisata yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi. Widiana Karya menegaskan bahwa Trihita Trans akan terus melakukan pengembangan teknologi aplikasi agar mampu bersaing dengan platform transportasi digital yang sudah lebih dulu hadir. Namun yang paling penting, menurutnya, adalah membangun kesadaran kolektif masyarakat Bali bahwa mereka memiliki kekuatan untuk membangun sistem ekonomi sendiri. “Trihita adalah aplikasi duwen iraga. Ini milik kita bersama. Kalau krama Bali bersatu, kita bisa membangun sistem ekonomi yang kuat untuk masa depan Bali,” katanya.
Ia pun mengajak masyarakat Bali yang memenuhi kriteria untuk segera bergabung sebagai driver Trihita Trans. Pendaftaran dapat dilakukan melalui kontak resmi yang tertera pada brosur Trihita Trans. Selain itu, bagi desa adat yang telah memiliki Badan Usaha Padruwen Desa Adat (BUPDA) atau koperasi desa, proses pendaftaran driver juga dapat dilakukan melalui desa adat masing-masing. Melalui mekanisme ini, keterlibatan desa adat dalam sistem transportasi digital diharapkan semakin kuat.
Dengan langkah ini, Trihita Trans berharap dapat membuka babak baru dalam pengelolaan transportasi digital di Bali. Bukan sekadar layanan angkutan, tetapi gerakan kebangkitan ekonomi berbasis budaya yang menempatkan krama Bali sebagai aktor utama. Di tengah arus globalisasi dan digitalisasi yang semakin kuat, Bali kembali diingatkan bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan jati diri. Justru dari jati diri itulah kekuatan Bali dapat lahir. Dan melalui Trihita Trans, sebuah pesan kuat mulai digaungkan: krama Bali tidak boleh hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri. Sudah waktunya bangkit, mengambil peran, dan berdiri tegak sebagai tuan rumah di pulau yang diwariskan oleh leluhur. aka/wid/jet



















