JeettNews, Denpasar | Badan Kerja Sama Lembaga Perkreditan Desa (BKS LPD) Provinsi Bali menyatakan dukungannya terhadap pengembangan sistem transportasi ramah lingkungan yang berlandaskan filosofi Tri Hita Karana sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi desa adat, meningkatkan kesejahteraan krama Bali, serta menjaga keberlanjutan lingkungan hidup di tengah meningkatnya tekanan pembangunan dan mobilitas masyarakat. Dukungan tersebut dinilai sejalan dengan kebutuhan Bali untuk mencari model pembangunan yang tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan keseimbangan sosial, budaya, dan ekologi.
Ketua BKS LPD Bali, Drs. I Nyoman Cendikiawan, S.H., M.Si., menilai bahwa transisi menuju transportasi rendah emisi, termasuk penggunaan kendaraan listrik, merupakan langkah strategis yang relevan dengan nilai-nilai dasar masyarakat Bali. Menurutnya, transportasi bersih bukan semata persoalan teknologi atau efisiensi energi, melainkan bagian dari upaya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan kehidupan spiritual sebagaimana diajarkan dalam konsep Tri Hita Karana.
Cendikiawan menjelaskan bahwa filosofi Tri Hita Karana selama ini menjadi fondasi dalam berbagai kebijakan pembangunan di Bali, termasuk dalam pengelolaan ekonomi desa dan lembaga keuangan adat. Oleh karena itu, ketika Bali dihadapkan pada tantangan lingkungan seperti polusi udara, peningkatan emisi karbon, serta kemacetan di kawasan pariwisata dan perkotaan, maka solusi yang ditawarkan idealnya tetap berpijak pada nilai lokal yang telah mengakar kuat di masyarakat.
Ia menegaskan bahwa BKS LPD Bali memandang lembaga perkreditan desa tidak hanya sebagai institusi keuangan, tetapi juga sebagai bagian dari sistem sosial dan budaya desa adat. Dengan posisi tersebut, LPD dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung berbagai program pembangunan, termasuk pengembangan transportasi ramah lingkungan yang diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi langsung bagi krama desa.
Dalam sejumlah forum diskusi yang melibatkan pelaku industri transportasi listrik di Bali, Cendikiawan menyampaikan bahwa pengembangan kendaraan listrik perlu diiringi dengan skema pembiayaan yang inklusif dan mudah diakses masyarakat. Menurutnya, tanpa dukungan pembiayaan yang sesuai dengan kondisi sosial ekonomi krama desa, transisi menuju transportasi bersih berpotensi hanya dinikmati oleh kelompok tertentu, sementara masyarakat di tingkat akar rumput tertinggal.
LPD, dalam pandangan BKS LPD Bali, dapat memainkan peran penting sebagai penggerak ekonomi desa melalui pembiayaan sektor-sektor baru yang berorientasi keberlanjutan. Transportasi ramah lingkungan dipandang sebagai salah satu sektor potensial karena tidak hanya mendukung agenda lingkungan, tetapi juga membuka peluang usaha, meningkatkan mobilitas masyarakat, serta memperluas akses ekonomi di wilayah pedesaan.
Sejalan dengan pandangan tersebut, BKS LPD Bali menjajaki komunikasi dan kerja sama dengan PT Sentrik Persada Nusantara, perusahaan yang bergerak di bidang distribusi kendaraan listrik di Bali. Pertemuan antara jajaran BKS LPD Bali dan manajemen PT Sentrik berlangsung di Denpasar pada awal 2023, membahas peluang kolaborasi dalam mendukung adopsi kendaraan listrik melalui pendekatan berbasis desa adat dan komunitas lokal.
Dalam pertemuan tersebut, Cendikiawan menilai kendaraan listrik memiliki relevansi kuat dengan komitmen Bali terhadap pembangunan berkelanjutan. Selain tidak menghasilkan emisi gas buang, kendaraan listrik juga dinilai lebih efisien dalam jangka panjang serta berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Ia menekankan bahwa kerja sama dengan pelaku industri perlu diarahkan untuk memastikan manfaat ekonomi dari teknologi ini dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat desa.
“LPD memiliki kedekatan dengan masyarakat desa dan memahami kebutuhan krama secara langsung. Jika dikaitkan dengan pengembangan transportasi ramah lingkungan, LPD dapat menjadi jembatan antara teknologi baru dan kebutuhan riil masyarakat,” ujar Cendikiawan dalam diskusi tersebut.
Pendiri PT Sentrik Persada Nusantara, I Made Sudiana, S.H., M.Si., menyambut positif keterlibatan BKS LPD Bali dalam mendorong ekosistem transportasi bersih di Bali. Ia menilai dukungan dari lembaga adat dan keuangan desa akan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap kendaraan listrik, yang selama ini masih dipersepsikan sebagai teknologi baru dengan berbagai keterbatasan.
Sudiana menjelaskan bahwa PT Sentrik Persada Nusantara sejak awal berupaya membangun ekosistem kendaraan listrik yang tidak hanya berorientasi pada penjualan, tetapi juga pada aspek legalitas, layanan purna jual, dan edukasi masyarakat. Ia menilai bahwa adopsi kendaraan listrik membutuhkan proses sosialisasi yang berkelanjutan agar masyarakat memahami manfaat, biaya operasional, serta kontribusinya terhadap pengurangan dampak lingkungan.
Menurut Sudiana, kolaborasi dengan LPD berpotensi membuka akses pembiayaan yang lebih luas bagi masyarakat desa, baik untuk kebutuhan pribadi maupun pengembangan usaha. Ia menilai kendaraan listrik dapat dimanfaatkan sebagai sarana usaha transportasi lokal, pendukung desa wisata, hingga layanan logistik skala kecil yang relevan dengan kondisi geografis dan ekonomi Bali.
BKS LPD Bali melihat bahwa integrasi antara lembaga keuangan desa dan sektor transportasi ramah lingkungan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif. Dalam konteks Tri Hita Karana, pendekatan ini sejalan dengan prinsip Pawongan, yaitu upaya meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hubungan antar sesama manusia. Ketika masyarakat desa memiliki akses terhadap teknologi dan pembiayaan yang adil, maka peluang ekonomi dapat tersebar lebih merata.
Selain aspek sosial, pengembangan transportasi bersih juga berkaitan erat dengan prinsip Palemahan, yakni hubungan harmonis antara manusia dan alam. Bali sebagai destinasi pariwisata global menghadapi tantangan serius terkait keberlanjutan lingkungan. Polusi udara, kemacetan, dan tekanan terhadap ruang hidup masyarakat menjadi isu yang semakin nyata. Dalam konteks ini, transportasi rendah emisi dipandang sebagai salah satu solusi yang perlu dikembangkan secara sistematis.
LPD, yang selama puluhan tahun berperan sebagai lembaga keuangan komunitas, dinilai memiliki pengalaman dan kapasitas untuk beradaptasi dengan perubahan. BKS LPD Bali menilai bahwa pengembangan skema pembiayaan kendaraan listrik melalui LPD dapat menjadi langkah strategis untuk memperluas layanan keuangan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi desa adat.
Meski memiliki potensi besar, Cendikiawan mengakui bahwa pengembangan transportasi ramah lingkungan masih menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranya adalah keterbatasan pemahaman masyarakat mengenai teknologi kendaraan listrik, kesiapan infrastruktur pendukung, serta kebutuhan akan regulasi dan kebijakan yang konsisten. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya sinergi antara lembaga adat, pemerintah daerah, dan sektor swasta.
Menurutnya, transformasi menuju transportasi bersih tidak dapat dilakukan secara parsial atau instan. Dibutuhkan perencanaan jangka panjang, pendekatan edukatif, serta mekanisme pendampingan yang berkelanjutan agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga bagian dari ekosistem ekonomi yang baru.
Sudiana menambahkan bahwa pihaknya akan terus berupaya mendukung proses transisi tersebut dengan menyediakan kendaraan listrik yang memenuhi standar, memiliki legalitas lengkap, serta layanan pendukung yang memadai. Ia juga menilai bahwa Bali memiliki peluang besar untuk menjadi contoh nasional dalam pengembangan transportasi ramah lingkungan yang berbasis kearifan lokal.
Bagi BKS LPD Bali, dukungan terhadap transportasi ramah lingkungan berbasis Tri Hita Karana merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk mengintegrasikan nilai budaya dalam setiap strategi pemberdayaan ekonomi. Pendekatan ini diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian nilai-nilai lokal yang menjadi identitas masyarakat Bali.
Pada akhirnya, pengembangan transportasi ramah lingkungan tidak hanya dipandang sebagai solusi teknis atas persoalan mobilitas dan lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari proses transformasi sosial dan ekonomi. Dengan melibatkan LPD sebagai penggerak di tingkat desa, BKS LPD Bali berharap manfaat dari perubahan ini dapat dirasakan secara lebih merata oleh krama Bali, sekaligus menjaga keberlanjutan alam dan budaya yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat. aka/kes/jet









