JeettNews, Denpasar | Menjelang perayaan Hari Raya Galungan, sejumlah kabupaten di Bali melaporkan peningkatan signifikan jumlah babi yang dipotong untuk kebutuhan upacara dan konsumsi rumah tangga. Meskipun belum ada angka resmi yang merangkum total pemotongan di seluruh provinsi, data faktual dari beberapa daerah menunjukkan tingginya aktivitas pemotongan hewan menjelang hari suci umat Hindu tersebut.
Di Kota Denpasar, Kepala UPDT RPH Dinas Pertanian Denpasar, I Gusti Ngurah Sunartha, mengungkapkan bahwa pemotongan babi mencapai lebih dari 200 ekor per hari pada puncak aktivitas menjelang Galungan. “Dalam beberapa hari terakhir kami mencatat pemotongan berada di kisaran 200 sampai 230 ekor per hari. Ini kondisi yang normal setiap Galungan karena kebutuhan masyarakat meningkat,” ujarnya.
Sementara itu, di Kabupaten Klungkung, Kepala Dinas Pertanian Klungkung, Ida Bagus Juanida, menyebut sekitar 600 ekor babi akan dipotong menjelang Galungan, tersebar pada ratusan titik pemotongan tradisional maupun skala keluarga. “Stok aman dan harga daging stabil. Pemotongan tersebar di 336 titik, mayoritas di tingkat banjar,” katanya.
Di Kabupaten Badung, data Dinas Pertanian dan Pangan menunjukkan stok babi siap potong mencapai lebih dari 11 ribu ekor. Kepala Disperpa Badung, I Wayan Wijana, mengatakan bahwa ketersediaan ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan warga. “Populasi babi di Badung sangat mencukupi. Pemotongan biasanya ribuan ekor, namun tersebar di desa dan keluarga karena tradisi ngelawar sudah turun-temurun,” jelasnya.
Berdasarkan rangkuman data dari Denpasar, Klungkung, dan Badung saja, pemotongan diperkirakan sudah melewati angka 3.000 ekor. Jumlah total dipastikan lebih besar bila memasukkan kabupaten-kabupaten lain seperti Tabanan, Gianyar, dan Buleleng, yang juga dikenal memiliki populasi babi tinggi. Namun hingga saat ini belum ada laporan terpadu tingkat provinsi.
Tradisi memotong babi setiap Galungan menjadi bagian penting dari budaya kuliner dan upacara masyarakat Bali. Selain sebagai bahan utama lawar, urutan, tum, dan berbagai sajian adat, kegiatan ini juga menggerakkan sektor peternakan lokal yang masih didominasi peternak skala rumah tangga. aka/ker
Denpasar, JeettNews | Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa rencana eksekusi pembongkaran total pembangunan glass viewing lift atau tower kaca di kawasan Pantai Kelingking, Nusa Penida, masih menunggu hari baik atau momen dewasa ayu serta penyelesaian seluruh kajian teknis yang menjadi syarat utama. Proyek yang digagas sebagai fasilitas wisata berkelas internasional ini sebelumnya telah melalui proses perizinan berjenjang, termasuk AMDAL, kajian geologi, dan analisis mitigasi bencana.
Sebelumnya, Gubernur Koster menyebut, Kelingking merupakan ikon pariwisata Bali yang pertumbuhan kunjungannya mencapai rata-rata 30 persen per tahun. Namun kondisi geografis yang terjal, ancaman erosi, hingga potensi longsoran tebing mengharuskan seluruh rencana pembangunan dilakukan sangat hati-hati. “Kami tidak ingin pembangunan dilakukan terburu-buru. Harus ada dewasa ayu, harus ada kepastian komprehensif bahwa struktur tower kaca aman, tidak merusak lingkungan, dan tidak menimbulkan risiko jangka panjang,” ujar Kantor Gubernur di Denpasar, pada Senin (17/11/2025).
Menurut data Dinas Pariwisata Bali, jumlah wisatawan yang datang ke Kelingking mencapai lebih dari 1,7 juta orang pada 2024, menjadikannya salah satu destinasi tersibuk di Kepulauan Nusa Penida. Namun lonjakan wisata ini juga diikuti oleh meningkatnya angka kecelakaan akibat medan ekstrem dan minimnya akses aman menuju titik pandang.
Koster menilai, jika tower kaca ini nantinya benar-benar dieksekusi, maka kehadirannya harus menjadi solusi, bukan ancaman. “Ini proyek besar. Jangan sampai menambah beban ekologis. Kami tunggu semua proses selesai dengan baik, baru diputuskan waktu eksekusinya,” tegasnya.
Diketahui dari berita sebelumnya, Ketua Pansus TRAP (Tata Ruang dan Aset Provinsi) DPRD Bali, I Wayan Suparta, memberikan pandangan tegas terkait arah pembangunan di kawasan tersebut. Ia menyebut pansus sudah memetakan seluruh titik rawan, termasuk struktur batuan kapur di Nusa Penida yang memiliki tingkat pelapukan tinggi.
“Kelingking itu bukan tebing biasa. Secara geologi, sebagian materialnya karst dengan porositas tinggi. Jadi kalau ada pembangunan tower kaca setinggi puluhan meter, fondasi harus benar-benar dihitung dengan presisi. Pansus mendorong agar semua data teknis dibuka secara transparan,” kata politisi senior PDI Perjuangan asal Tabanan ini.
Ia menambahkan, pembangunan fasilitas wisata harus tetap selaras dengan visi tata ruang Bali yang mengutamakan keseimbangan lingkungan. Pansus juga meminta agar pemerintah daerah tidak menoleransi investor yang memaksakan pembangunan tanpa patuh pada kajian risiko. “Kami mendukung inovasi pariwisata, tetapi keselamatan dan kesucian alam harus nomor satu. Jangan sampai Kelingking yang jadi kebanggaan dunia justru terancam karena ambisi konstruksi,” ujarnya.
Suparta juga menekankan bahwa keputusan akhir terkait eksekusi tower kaca harus mempertimbangkan aspirasi masyarakat lokal, termasuk krama adat yang selama ini menjaga kawasan Kelingking sebagai wilayah suci dengan nilai spiritual tinggi. Ia memastikan pansus akan melakukan pengawasan penuh agar tidak ada celah pelanggaran tata ruang. aka/ker
JeettNews, Denpasar | Y.O.U, brand kecantikan global terkemuka, meresmikan Y.O.U Tropical Skin Research Lab di Tangerang, Banten, pada 9 Oktober 2025. Kehadiran laboratorium riset dan pengembangan ini menandai langkah strategis Y.O.U dalam memperkuat inovasi formulasi berkelanjutan yang dirancang khusus menghadapi tantangan iklim tropis di Asia Tenggara. Peresmian ini juga sekaligus mengumumkan kerja sama resmi dengan Ming Jie Tan, President of the Society of Cosmetic Scientists Singapore, yang bergabung sebagai Y.O.U Scientific Expert.
Laboratorium berteknologi tinggi ini menjadi wujud nyata komitmen Y.O.U untuk terus menghadirkan inovasi berbasis sains yang relevan dengan kebutuhan konsumen. Seluruh fasilitas di dalamnya dirancang untuk mendukung formulasi berkelanjutan yang lebih presisi dan adaptif terhadap kondisi kulit masyarakat tropis. Melalui pusat riset ini, Y.O.U menegaskan ambisinya untuk membawa standar baru dalam pengembangan produk kecantikan di kawasan Asia Tenggara.
Kolaborasi dengan Ming Jie Tan memperkuat arah pengembangan ilmiah Y.O.U. Sebagai ahli bioteknologi dengan pengalaman mendalam dalam riset berkelanjutan, Ming Jie Tan diharapkan mendorong percepatan inovasi formula yang aman, efektif, dan sesuai untuk menghadapi permasalahan kulit khas iklim tropis, seperti jerawat, kulit kusam, bintik hitam, hingga sensitivitas akibat sinar matahari intens.
“Saya sangat terkesan dengan visi Y.O.U dalam menghadirkan produk kecantikan dengan formula inovatif berdasarkan sains. Mereka mampu memadukan ketepatan ilmiah dengan teknologi canggih sehingga menghasilkan solusi perawatan kulit yang efektif. Suatu kehormatan bagi saya bekerja sama sebagai Y.O.U Scientific Expert,” ujar Ming Jie Tan. Ia menegaskan bahwa lewat dukungan fasilitas Tropical Skin Research Lab, pihaknya siap memperkenalkan terobosan baru yang berkelanjutan dan relevan bagi konsumen tropis, termasuk pengembangan formula unggulan rangkaian AcnePlus dengan AcneXtract™ dan Radiance yang menggunakan Tyro-Niacinamide.
Keberadaan Y.O.U Tropical Skin Research Lab juga diharapkan membawa posisi Indonesia semakin kuat sebagai pusat inovasi kecantikan global. Laboratorium ini akan menjadi ekosistem riset yang memajukan pertukaran pengetahuan dan pengembangan talenta ilmiah di kawasan Asia Tenggara. Dalam visi jangka panjang, Y.O.U berencana memperluas pengembangan teknologi berbasis bioteknologi, studi keberlanjutan bahan aktif alami, dan menciptakan fondasi “The Future of Tropical Beauty Innovation”.
Y.O.U menargetkan laboratorium ini sebagai pusat riset regional dengan standar internasional, menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan industri kecantikan yang lebih berkelanjutan di masa depan. Untuk mengikuti perkembangan riset terkini dan peluncuran produk inovatif hasil pengembangan laboratorium ini, masyarakat dapat mengikuti kanal Instagram @youbeauty_idn dan TikTok @youbeauty_id. aka/ker
PancarPOS, Denpasar | Politisi muda yang juga Anggota DPRD Kota Denpasar, Ketut Ngurah Aryawan, SH., kembali menunjukkan komitmennya kepada masyarakat menjelang Hari Raya Galungan. Relawan “Lagas” Ngurah Aryawan memotong sembilan ekor babi untuk kemudian dibagikan kepada warga konstituen di wilayah Denpasar, pada Senin (17/11/2025).
Aksi sosial ini menjadi agenda rutin setiap menjelang hari besar keagamaan, namun tahun ini jumlah hewan kurban yang disiapkan lebih besar dari sebelumnya. Ribuan kilogram daging dibagikan secara langsung kepada warga, terutama kepada keluarga-keluarga yang membutuhkan untuk persiapan Galungan.
Ngurah Aryawan menegaskan, gerakan ini dijalankan sebagai bentuk kedekatan dan tanggung jawab moral kepada masyarakat yang selama ini memberi dukungan kepadanya. Ia menyebut kegiatan tersebut sejalan dengan instruksi Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, yang kini menjabat sebagai Presiden RI.
“Pak Prabowo selalu menekankan pentingnya turun langsung dan membantu rakyat. Apa yang kami lakukan hari ini adalah menjalankan arahan beliau, agar kader Gerindra hadir dan memberi manfaat nyata,” ujarnya.
Warga tampak antusias menerima pembagian daging, yang dilakukan secara tertib di sejumlah titik pembagian. Kehadiran Aryawan dan para relawan juga mendapat apresiasi masyarakat, yang menilai bantuan ini sangat membantu menjelang hari raya.
Relawan Lagas Ngurah Aryawan memastikan kegiatan sosial berbasis kebutuhan masyarakat akan terus dilakukan ke depannya. aka/kes
JeettNews, Jakarta | ALDO, brand fashion internasional terkemuka untuk kategori sepatu, tas, dan aksesori, resmi menghadirkan koleksi eksklusif Stranger Things x ALDO yang langsung menyita perhatian publik. Perilisan edisi terbatas ini membuka babak baru dalam perpaduan dunia fashion dan budaya pop, yang terinspirasi dari seluruh perjalanan lima musim serial fenomenal Netflix tersebut—termasuk nuansa retro Hawkins dan atmosfer misterius Upside Down.
Koleksi yang paling dinantikan ini hadir tepat menjelang penayangan musim kelima yang disebut sebagai penutup era Stranger Things. Dengan musim keempat yang mencatat lebih dari 1,83 miliar penayangan global dan menempati peringkat pertama di 97 negara, kolaborasi dengan ALDO disebut sebagai momentum emas bagi para penggemar maupun industri mode internasional.
Nostalgia Era ’80-an yang Meledak Kembali
Tren fashion retro era 1980-an kembali naik ke permukaan, didorong oleh siklus tren alami 20 tahunan, dorongan nostalgia kolektif, dan pengaruh besar Stranger Things yang telah menjadi ikon budaya modern. Melihat fenomena itu, ALDO menerjemahkan elemen-elemen khas era tersebut ke dalam koleksi edisi khusus yang memadukan siluet klasik, warna berani, dan detail imajinatif yang sangat identik dengan cerita Stranger Things.
Koleksi yang berisi 11 item ini tidak hanya menonjolkan desain yang autentik, tetapi juga menghadirkan elemen spesifik seperti mixtape kaset, dadu Dungeons & Dragons, serta landmark kota Hawkins. Seluruh alas kaki juga telah dilengkapi teknologi ALDO Pillow Walk™ yang memberikan kenyamanan maksimal melalui bantalan dua lapis—membuatnya cocok bagi pengguna yang aktif dan ekspresif.
Detail Koleksi yang Diburu Penggemar
Produk-produk unggulan seperti sepatu retro bertali, sneakers Hellfire Club, dan aksesori tematik menghadirkan sensasi nostalgia yang dipadukan sentuhan modern khas ALDO. Setiap item dirancang layak dijadikan koleksi, sehingga tidak hanya berfungsi sebagai pelengkap gaya, tetapi juga memorabilia bagi penggemar setia Stranger Things.
“Kami sangat bersemangat menggabungkan dunia Stranger Things yang begitu kaya dengan desain inovatif ALDO,” ujar Daianara Grullon Amalfitano, Kepala Divisi Desain dan Produk ALDO. “Kebangkitan mode era ’80-an memberi kami peluang untuk menciptakan koleksi yang modern namun tetap membawa nuansa sentimental. Setiap detailnya kami buat agar dapat menyalurkan ekspresi diri dan menghadirkan potongan kecil dari dunia Stranger Things ke kehidupan sehari-hari.”
Tersedia di Indonesia Mulai November 2025
Koleksi Stranger Things x ALDO telah diluncurkan secara global pada 30 Oktober 2025 dan resmi tersedia di Indonesia mulai 5 November 2025. Produk dapat dibeli melalui ALDO Indonesia online dan Shopee Mall. Untuk pembelian langsung, pelanggan dapat mengunjungi toko-toko ALDO di Pondok Indah Mall 1, Mall Kelapa Gading, Kota Kasablanka, Grand Indonesia, Paris Van Java Bandung, Tunjungan Plaza Surabaya, Icon Mall, serta Beachwalk Bali.
Menjelang Musim Penutup Stranger Things
Stranger Things musim kelima akan rilis dalam tiga volume pada musim gugur tahun ini dengan jadwal sebagai berikut:
Volume 1 (4 episode): 27 November
Volume 2 (3 episode): 25 Desember (Hari Natal)
Volume 3 (Final): 31 Desember (Malam Tahun Baru)
Semua episode tayang mulai pukul 08.00 WIB.
Koleksi ini hadir sebagai bentuk selebrasi terhadap perjalanan panjang Stranger Things yang sejak 2016 menjadi salah satu serial paling populer di dunia, meraih lebih dari 70 penghargaan internasional termasuk Emmy dan SAG Awards, serta memiliki lebih dari 230 nominasi.
Tentang ALDO
Didirikan pada 1972, ALDO dikenal sebagai brand yang menghadirkan fashion trendi dengan harga terjangkau. Informasi lengkap dapat diakses melalui www.aldogroup.com dan www.aldoshoes.com, serta akun media sosial @aldo_shoes.
Tentang Stranger Things
Diciptakan oleh The Duffer Brothers, Stranger Things menjadi fenomena global sejak musim pertamanya. Serial ini menghidupkan kembali budaya pop era ’80-an, termasuk membawa lagu “Running Up That Hill” milik Kate Bush kembali ke Billboard Hot 100 setelah 38 tahun.
Franchise ini terus berkembang melalui pertunjukan panggung, buku, pengalaman interaktif, hingga acara tahunan Stranger Things Day setiap 6 November. aka/bel
JeettNews, Badung | Rencana Bupati Badung Wayan Adi Arnawan untuk menyulap Pasar Beringkit menjadi kawasan modern berisi mall dan bioskop terus memancing respons luas. Di tengah upaya Pemerintah Kabupaten Badung mempertegas identitas Kota Mangupura sebagai kota modern, suara penolakan bermunculan dari tokoh pertanian nasional hingga pengamat ekonomi Bali. Mereka menilai perubahan ini berisiko menghapus identitas asli Beringkit sebagai pasar ternak paling legendaris di Pulau Dewata.
Tokoh nasional yang dikenal sebagai “Bapak Sejuta Traktor”, Drs. I Made Urip, M.Si, menjadi salah satu figur yang paling keras memberikan peringatan. Politisi senior PDI Perjuangan yang telah duduk di Komisi IV DPR RI selama lima periode ini menegaskan bahwa Beringkit bukan sekadar pasar. Bagi para petani, terutama Kaum Marhaen, tempat ini adalah ruang hidup, ruang bertahan, dan ruang ekonomi yang sudah terbentuk puluhan tahun.
“Kalau Pasar Beringkit dijadikan mall dan bioskop, lalu pasar ternaknya dipindah kemana? Ini bukan hanya soal lokasi, tapi soal identitas,” tegas Made Urip kepada JeettNews pada Minggu (16/11/2025). Ia dikenal luas oleh petani dan krama subak Bali sebagai “Bapak Pertanian Bali”, karena konsistensinya memperjuangkan kepentingan petani dan peternak.
Menurutnya, Pasar Beringkit memiliki nilai sejarah yang tidak bisa dibongkar hanya demi pembangunan komersial. Bertahun-tahun menjadi pusat jual beli sapi dari seluruh Bali mulai dari Jembrana, Tabanan, Buleleng, Bangli, Karangasem hingga Klungkung, sehingga pasar ini memegang peran strategis dalam rantai pasok daging sapi di Bali. Transaksi di pasar ini setiap minggunya mencapai miliaran rupiah, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan dan musim pariwisata tinggi yang meningkatkan permintaan hotel dan restoran.
“Beringkit itu bukan hanya milik Badung, tapi milik Bali. Hilangnya pasar ternak berarti memutus urat nadi ekonomi ribuan petani dan peternak,” tegasnya. Pandangan senada disampaikan pengamat ekonomi Bali, Nyoman Suparsa, yang mempertanyakan secara tajam arah pembangunan tersebut. Ia menilai alih fungsi total bisa menciptakan kekosongan ekosistem ekonomi rakyat yang selama ini terpusat di Beringkit.
“Waduh… pasar ternaknya dipindah kemana? Menurut tiang, Pasar Beringkit itu ikon legenda pusat sapi se-Bali. Harus dipertahankan. Yang dibenahi itu tata kelola dan manajemen, bukan fungsi utamanya,” ujar Suparsa.
Ia mendorong agar Pemkab Badung tidak tergesa-gesa melakukan perubahan struktural. Baginya, modernisasi tetap bisa dilakukan tanpa harus mengorbankan identitas pasar tradisional. Suparsa menilai pengembangan berbasis digitalisasi, seperti sistem barcode ternak, marketplace ternak berbasis aplikasi, penataan lokasi yang lebih higienis, serta layanan kesehatan hewan terpadu, justru akan mengangkat pasar Beringkit sebagai pusat perdagangan hewan modern pertama di Indonesia timur.
“Pasar Beringkit itu unggulan, bukan beban. Ketika hotel dan restoran di Bali membutuhkan daging segar berkualitas, mereka mengandalkan pasokan dari sini. Jangan remehkan peran Beringkit dalam menopang pariwisata,” tambahnya.
Di sisi lain, masyarakat Badung dan pelaku usaha kecil di sekitar pasar masih menunggu kejelasan rencana relokasi serta dampak ekonomi yang mungkin muncul selama masa pembangunan. Banyak dari mereka mengaku khawatir akan kehilangan pelanggan jika lokasi dipindahkan terlalu jauh atau tidak dirancang dengan matang.
Sementara Pemkab Badung belum memberikan detail final mengenai lokasi relokasi pasar ternak, radius pembangunan, serta berapa persen porsi pasar tradisional yang akan dipertahankan di dalam konsep mall.
Polemik yang mengemuka ini menunjukkan bahwa modernisasi kota tidak bisa hanya bertumpu pada bangunan megah. Ada identitas, sejarah ekonomi rakyat, dan struktur sosial yang ikut bergerak di dalamnya. Beringkit bukan sekadar pasar; ia adalah denyut ekonomi ribuan keluarga petani di seluruh Bali. Perubahan tanpa kajian mendalam dikhawatirkan justru mengikis fondasi ekonomi rakyat yang selama ini menjadi pilar penting kehidupan masyarakat Bali. aka/ker
JeettNews, Tabanan | Suasana Desa Nyambu, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, tampak semarak pada 16 November 2025 ketika Anggota Badan Pengkajian MPR RI sekaligus Anggota DPR RI Komisi VI Fraksi PDI Perjuangan, I.G.N. Kesuma Kelakan, ST., M.Si, hadir menyapa masyarakat dalam agenda penyerapan aspirasi masyarakat (Asman) bertajuk “Optimalisasi Desentralisasi dan Otonomi Daerah”. Mengusung semangat Merangkai Kesatuan dalam Keberagaman, Kesuma Kelakan menegaskan kembali urgensi perbaikan hubungan pusat–daerah sebagai syarat mutlak terwujudnya pemerintahan yang efektif, merata, dan responsif bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dalam paparannya, Kesuma Kelakan menggarisbawahi bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan dengan ratusan etnis dan keberagaman budaya membutuhkan pola hubungan pemerintahan yang tidak hanya stabil, tetapi juga adaptif dan kolaboratif. “Keberagaman adalah kekuatan bangsa kita. Tapi tanpa tata kelola pusat–daerah yang harmonis, kekuatan itu bisa hilang arah,” tegasnya di hadapan masyarakat dan para tokoh lokal.
Kesuma Kelakan memaparkan perjalanan panjang relasi pusat dan daerah sejak masa awal kemerdekaan yang sangat sentralistik, hingga era reformasi yang melahirkan desentralisasi dan otonomi daerah. Menurutnya, walaupun otonomi telah membuka ruang gerak yang lebih luas bagi daerah, praktik di lapangan masih diwarnai persoalan klasik: ketimpangan kewenangan, tumpang tindih regulasi, dan ketergantungan fiskal yang tinggi pada pemerintah pusat.
Kesuma Kelakan Bedah Revitalisasi Hubungan Pusat dan Daerah, Dorong Pemerintahan Sinergis dan Berkeadilan di Era Otonomi Baru
“Desentralisasi bukan berarti melepas daerah berjalan sendiri. Desentralisasi adalah pembagian peran yang jelas antara pusat dan daerah, agar pembangunan berjalan seragam tanpa mematikan potensi lokal. Fungsi pusat tetap strategis, tapi daerah harus diberdayakan,” ujar Kesuma Kelakan yang juga dikenal aktif memperjuangkan penguatan kapasitas daerah dalam berbagai forum nasional.
Lebih jauh, ia menekankan perlunya revitalisasi hubungan pusat–daerah, bukan hanya dalam struktur administrasi tetapi juga paradigma pemerintahan modern. Pemerintah pusat, menurutnya, harus menempatkan daerah sebagai mitra sejajar, bukan subordinat, sementara daerah harus mampu mengelola kewenangan yang diberikan dengan transparan dan akuntabel.
Kesuma Kelakan juga menyoroti peran teknologi dalam mempercepat integrasi pusat–daerah. Dengan sistem digital pemerintahan modern, koordinasi lintas wilayah bisa dilakukan tanpa hambatan. “Pemerintah pusat bisa memantau kinerja daerah secara real-time. Daerah pun bisa menyampaikan aspirasi tanpa birokrasi berlapis. Ini momentum untuk memangkas sekat-sekat lama,” tambah mantan Anggota DPD RI yang pernah menjabat Wakil Gubernur Bali ini.
Namun ia mengingatkan bahwa teknologi hanya dapat dimanfaatkan optimal bila kapasitas aparatur daerah meningkat. Reformasi birokrasi, peningkatan kompetensi SDM, serta tata kelola pemerintahan yang bersih menjadi syarat untuk mewujudkan otonomi daerah yang substansial, bukan sekadar formalitas.
Kesuma Kelakan menegaskan kembali bahwa hubungan pusat–daerah bukan hanya soal teknis, tetapi juga pilar penjaga keutuhan bangsa. “Kesatuan Indonesia tidak boleh rapuh oleh kepentingan jangka pendek. Pemerintahan pusat dan daerah harus berjalan dengan semangat gotong royong, mengutamakan persatuan dan kesejahteraan rakyat,” ujarnya menutup sesi pemaparan.
Materi analisis kemudian diperdalam oleh praktisi hukum Made Supartha, S.H., M.H, yang membedah hubungan pusat dan daerah dari perspektif teori ketergantungan dan kapasitas kelembagaan. Ia menjelaskan bahwa meski kerangka otonomi daerah telah mapan, ketergantungan fiskal dan regulatif masih tinggi. Banyak daerah yang belum mampu mandiri karena masih mengandalkan DAU, DAK, dan transfer pusat lainnya.
Menurut Supartha, hal itu terjadi karena ketimpangan struktural yang menempatkan pusat sebagai pemegang kendali sumber daya nasional. “Banyak daerah yang otonominya baru sebatas formal, karena kapasitas kelembagaannya belum kuat. Tanpa SDM yang kompeten dan sistem birokrasi yang modern, otonomi tidak akan menghasilkan pemerintahan yang efektif,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya memperkuat institutional capacity di daerah, mulai dari perbaikan struktur organisasi, manajemen sumber daya manusia, hingga budaya birokrasi yang adaptif. Tanpa itu, daerah akan terus tertinggal dan tetap bergantung pada pusat. “Penguatan kapasitas adalah kunci untuk memutus rantai ketergantungan struktural,” tegasnya.
Supartha menekankan bahwa penguatan hubungan pusat dan daerah tidak cukup hanya dengan membuat regulasi baru. Diperlukan langkah konkret: peningkatan profesionalitas aparatur, pemberdayaan ekonomi lokal, dan pengawasan pemerintahan yang lebih tegas namun bersifat membina, bukan semata-mata menghukum.
Kedua pemateri sepakat bahwa Indonesia membutuhkan model hubungan pusat dan daerah yang lebih progresif: sinergis, adil, dan menjamin pemerataan pembangunan di seluruh wilayah. Desa Nyambu menjadi saksi bagaimana diskusi konstruktif ini digelar untuk memperkuat fondasi kebangsaan di akar rumput. aka/ker
JeettNews, Denpasar | Gubernur Bali Wayan Koster bersama Ketua TP PKK Provinsi Bali, Ibu Putri Suastini Koster, turun langsung mengunjungi Pasar Murah menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan yang digelar di depan Kantor Gubernur, Minggu (16/11/2025). Kehadiran keduanya disambut antusias ribuan pengunjung yang memadati lokasi sejak pagi.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Koster dan Ibu Putri tak hanya meninjau lapak-lapak UMKM, tetapi juga memborong belanjaan untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat. Suasana makin hidup ketika Ibu Putri Koster menggelar kuis seputar program Pemprov Bali. Warga yang mampu menjawab pertanyaan berhak membawa pulang paket kebutuhan hari raya yang dijual di arena pasar murah.
Dukungan nyata juga diberikan kepada pelaku UMKM penyandang disabilitas. Di hadapan para pengunjung, Koster dan Ibu Putri memborong 100 cup kopi dari kelompok UMKM difabel yang tergabung dalam Difel Cafe Gantari Jaya, serta 25 cup kopi lainnya dari UMKM yang turut berjualan. Seluruh kopi tersebut kemudian dibagikan secara cuma-cuma kepada masyarakat.
Ketua KUBE Gantari Jaya, I Nyoman Juniartha, menyampaikan terima kasih atas perhatian Gubernur Bali dan Ibu Putri. Ia menjelaskan, Difel Cafe menjadi ruang bagi para penyandang disabilitas untuk berkarya secara mandiri, termasuk mengolah ampas kopi menjadi dupa siap pakai. “Yang digunakan adalah ampas kopi hasil mesin barista, bukan endapan setelah diminum. Ini juga sudah kami konsultasikan dengan pemuka agama,” jelasnya.
Ibu Putri Koster mengapresiasi semangat para difabel tersebut. Ia mendorong agar usaha mereka terus berkembang, sekaligus mengingatkan agar dalam proses pembuatan dupa tidak menggunakan bahan kimia yang dapat membahayakan kesehatan.
Sementara itu, Gubernur Koster menegaskan bahwa Pasar Murah digelar untuk membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan hari raya dengan harga terjangkau sekaligus menjaga stabilitas inflasi daerah. “Masyarakat sangat antusias berbelanja. Harga yang ditawarkan cukup terjangkau dan ini sangat membantu,” ujarnya.
Koster menambahkan, pasar murah akan terus digelar secara berkala untuk mengantisipasi fluktuasi harga. Pada pelaksanaan kali ini, terdapat 50 UMKM binaan Pemprov Bali, Bank Indonesia, BPD, dan OJK yang menjajakan berbagai kebutuhan hari raya seperti canang, buah-buahan, daging, telur, hingga busana adat. Di antara produk yang paling diburu masyarakat adalah canang ceper yang dijual sangat murah, yakni Rp157 untuk 15 buah. hum/aka
JeettNews, Badung | Bupati Badung Wayan Adi Arnawan mengambil langkah tegas untuk mengubah wajah kawasan Pasar Beringkit. Dalam rencana revitalisasi yang sudah dipersiapkan, pasar tradisional terbesar di Badung itu akan disulap menjadi mall modern lengkap dengan fasilitas bioskop. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas Kota Mangupura sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan layanan publik yang lebih maju.
Adi Arnawan menegaskan bahwa Pasar Beringkit tidak bisa dibiarkan berjalan dengan pola lama. Ia ingin kawasan itu menjadi ruang yang lebih tertata, nyaman, dan berfungsi sebagai titik aktivitas masyarakat yang lebih luas. “Kita ingin Mangupura punya fasilitas kota modern. Beringkit harus naik kelas,” ujarnya di Puspem Badung, pada Minggu (16/11/2025).
Dalam konsep awal, pedagang tradisional tetap diberikan ruang khusus agar aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan. Sementara fasilitas mall dan bioskop disiapkan untuk menambah daya tarik kawasan sekaligus memberikan alternatif hiburan bagi warga Badung dan sekitarnya.
Rencana ini juga dinilai akan mempercepat tumbuhnya pusat keramaian baru di Mengwi. Selama ini, warga Badung utara dan tengah harus menuju Denpasar atau Kuta untuk menikmati fasilitas hiburan yang memadai.
Pemkab Badung memastikan proses pembangunan akan memperhatikan keberlangsungan pedagang dengan menyiapkan skema relokasi yang tidak memberatkan mereka. Revitalisasi ini diharapkan menjadi titik awal perubahan wajah Kota Mangupura yang lebih modern tanpa meninggalkan peran pasar rakyat. aka/kes
JeettNews, Buleleng | Menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan, politisi senior sekaligus tokoh masyarakat asal Buleleng, Dewa Sukrawan, menyampaikan seruan penting kepada umat Hindu di Bali. Ia menekankan bahwa perayaan suci ini bukan sekadar ritual, tetapi momentum memperkuat keharmonisan, persatuan, dan keteguhan umat dalam menjaga nilai-nilai budaya Bali.
Dewa Sukrawan menegaskan, di tengah berbagai dinamika sosial yang terjadi belakangan ini, umat Hindu perlu kembali pada esensi dharma sebagai pegangan hidup. “Galungan dan Kuningan adalah pengingat agar kita selalu berada di jalan kebaikan. Tradisi Bali akan kuat kalau umatnya kompak, saling menjaga, dan tidak mudah terprovokasi,” ujarnya pada Minggu (16/11/2025).
Figur yang dikenal dekat dengan masyarakat akar rumput ini juga mengajak seluruh pihak untuk menjaga keharmonisan menjelang perayaan besar umat Hindu tersebut. Menurutnya, suasana religi seperti Galungan dan Kuningan harus menjadi ruang refleksi bagi pemimpin dan masyarakat untuk menguatkan sradha bhakti sekaligus memperhatikan kesejahteraan umat.
Dewa Sukrawan menambahkan bahwa pemerintah daerah juga memiliki peran strategis dalam melindungi ruang budaya dan tradisi Bali. “Kita ingin suasana damai, penuh kedamaian, dan selaras. Tradisi Bali adalah warisan leluhur yang wajib dirawat bersama,” tegasnya.
Ucapan resmi Galungan dan Kuningan dari Dewa Sukrawan yang menampilkan simbol-simbol budaya Bali pun mendapat respons hangat dari masyarakat. Banyak warga Buleleng mengapresiasi pesan sejuk tersebut karena dinilai membawa suasana positif menjelang hari raya. aka/ker