JeettNews, Badung | Aplikasi Tri Hita Trans menegaskan kesiapan penuh memasuki arena transportasi digital Bali dengan konsep terintegrasi desa adat se-Bali serta penguatan ekonomi sopir lokal. Dalam kegiatan Road To Launch yang digelar di Badung, Kamis (26/2/2026), manajemen menyatakan bahwa platform ini tidak sekadar menghadirkan layanan berbasis aplikasi, tetapi membangun ekosistem transportasi yang berpijak pada regulasi, koperasi, dan nilai budaya Bali.
Sekretaris Koperasi Jasa Pusat Transportasi Trihita Dewata Lestari, I Nyoman Suarsadana, menegaskan bahwa kesiapan tersebut mencakup dua aspek utama: sistem teknologi yang stabil dan struktur kemitraan yang sah secara hukum. Ia memastikan operasional Tri Hita Trans berjalan sesuai Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 118 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sewa Khusus.
Dalam regulasi tersebut ditegaskan bahwa perusahaan aplikasi bukanlah penyedia kendaraan secara langsung, melainkan wajib bermitra dengan badan hukum angkutan seperti koperasi atau perusahaan resmi. Karena itu, Tri Hita Trans menggandeng koperasi sebagai tulang punggung penyediaan armada dan pengemudi.
“Kami memastikan Tri Hita Trans bekerja sama dengan pengusaha angkutan dan koperasi untuk menyiapkan driver yang kompeten. Ini bukan sekadar bisnis, tetapi gerakan bersama untuk memperkuat ekonomi masyarakat,” ujar Suarsadana.

Ia menjelaskan, integrasi desa adat se-Bali yang diusung bukan dalam bentuk penguasaan struktur adat, melainkan koordinasi sosial. Desa adat dipandang sebagai entitas penting dalam menjaga harmoni dan stabilitas sosial Bali. Karena itu, kehadiran transportasi digital harus selaras dengan tatanan lokal, bukan menimbulkan gesekan.
Dalam aspek teknologi, manajemen mengakui perjalanan pengembangan aplikasi sempat menghadapi tantangan teknis. Integrasi sistem, sinkronisasi data, dan penyempurnaan antarmuka menjadi proses yang tidak singkat. Namun kini, sistem disebut telah stabil, responsif, dan siap digunakan secara luas.
Tampilan aplikasi dibuat lebih sederhana dan ramah pengguna. Fitur pemesanan ringkas, tarif transparan, serta sistem pembayaran aman menjadi fokus utama. Dengan kesiapan tersebut, Tri Hita Trans optimistis mampu menjadi alternatif mobilitas harian masyarakat Bali.
Namun manajemen menegaskan bahwa diferensiasi utama bukan sekadar fitur digital. Peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi prioritas. Program edukasi intensif bagi pengemudi difokuskan pada pembentukan karakter pelayanan.
Nilai kejujuran, etika dan kesopanan melalui prinsip Sapa, Senyum, Salam, serta profesionalisme di titik strategis seperti bandara dan pelabuhan menjadi standar yang wajib dijalankan. Pengemudi didorong memahami bahwa mereka bukan sekadar operator kendaraan, tetapi representasi Bali.
“Program ini bukan hanya soal teknologi, tetapi bagaimana teknologi hidup berdampingan dengan nilai budaya dan memberi dampak nyata bagi masyarakat,” tegas Suarsadana.
Dukungan terhadap kehadiran Tri Hita Trans pun terus mengalir. Anggota DPRD Badung Fraksi Gerindra, I Made Wijaya, S.E., menilai platform berbasis nilai Tri Hita Karana ini berpotensi memperkuat posisi sopir lokal di tengah ketatnya persaingan industri transportasi digital.
Pernyataan tersebut disampaikan politisi yang akrab disapa Yonda saat dihubungi melalui pesan singkat pada Sabtu (28/2/2026). Ia menegaskan bahwa perkembangan pariwisata Bali tidak boleh hanya menguntungkan pemilik modal besar, sementara masyarakat lokal tersisih di tanahnya sendiri.
Menurutnya, kemajuan Bali selama ini bertumpu pada kearifan lokal, seni, dan budaya yang dijaga masyarakat adat. Karena itu, sektor penunjang pariwisata, termasuk transportasi wisata, harus menjadi ruang ekonomi yang adil bagi putra daerah.
“Sopir Bali bukan sekadar pengantar tamu, mereka adalah duta budaya. Melalui implementasi Tri Hita Trans milik PT Sentrik Persada Nusantara, profesi sopir memiliki nilai lebih,” ujarnya.
Yonda menyoroti kekhawatiran atas dominasi perusahaan bermodal besar dalam lini transportasi berbasis aplikasi. Jika ekosistem bisnis dikuasai investor luar daerah, warga Bali berisiko hanya menjadi pekerja dengan daya tawar rendah.
“Bali berkembang karena tradisinya. Jika orang Bali kehilangan akses ekonominya karena tergeser kapitalis, maka siapa lagi yang akan punya waktu dan biaya untuk menjaga adat dan budaya itu?” tegasnya.
Dalam pandangannya, pendekatan Tri Hita Trans menjadi diferensiasi penting karena tidak hanya mengejar pasar, tetapi membangun sistem berbasis nilai keseimbangan. Filosofi Tri Hita Karana diterjemahkan ke dalam tiga konsep utama bagi driver lokal.
Pertama, Pawongan. Konsep ini menekankan penguatan persaudaraan antar-sopir agar tidak terjebak dalam persaingan tidak sehat. Solidaritas dianggap penting untuk menjaga stabilitas pendapatan.
Kedua, Palemahan. Pengemudi didorong menjaga kebersihan dan kelestarian alam Bali. Kendaraan harus laik jalan dan perilaku berkendara santun karena mereka membawa citra Bali sebagai destinasi dunia.
Ketiga, Parhyangan. Di tengah kesibukan melayani wisatawan, sopir tetap diingatkan menjalankan kewajiban adat dan agama. Aktivitas ekonomi tidak boleh memutus keterikatan pada tradisi dan spiritualitas.
Bagi Yonda, tiga pilar ini menjadi fondasi agar transformasi digital tidak menggerus nilai lokal. Justru teknologi harus memperkuat kedaulatan ekonomi masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa sopir transportasi wisata adalah wajah pertama yang ditemui wisatawan. Mereka membentuk kesan awal tentang Bali. Jika profesi ini terpinggirkan, dampaknya bukan hanya ekonomi, tetapi citra budaya.
Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah memberi ruang dan dukungan terhadap model kemitraan yang berpihak pada sopir lokal. Regulasi, pengawasan, dan fasilitasi harus berjalan beriringan agar persaingan tetap sehat.
“Putra Bali harus menjadi tuan rumah yang bermartabat di negerinya sendiri. Bukan hanya pekerja di tanah kelahirannya,” tandasnya.
Dengan dukungan politik dari legislatif serta konsolidasi pengemudi melalui koperasi, Tri Hita Trans kini berada dalam sorotan sebagai alternatif model transportasi digital yang terintegrasi desa adat se-Bali. Platform ini tidak hanya berbicara tentang aplikasi, tetapi tentang arah masa depan transportasi Bali: modern secara teknologi, kuat secara regulasi, dan berakar pada budaya.
Apakah model ini mampu bertahan di tengah arus kapital besar, akan sangat ditentukan oleh konsistensi implementasi dan dukungan kolektif masyarakat Bali. Namun satu hal telah ditegaskan: Tri Hita Trans siap tancap gas, menyatukan sistem digital dengan kekuatan lokal dalam satu gerakan transportasi yang lebih adil dan bermartabat. aka/jet

Tinggalkan Balasan