JeettNews, Denpasar | Klarifikasi resmi akhirnya disampaikan manajemen terkait simpang siur informasi yang berkembang di masyarakat soal operasional armada transportasi yang beredar belakangan ini. General Manager PT Sentrik Persada Nusantara, Pande Yuliasanjaya, menegaskan bahwa Taksi GSM (Green and Smart Mobility) tidak memiliki hubungan kepemilikan maupun manajemen dengan Tri Hita Trans. Penegasan ini disampaikan untuk mengakhiri berbagai spekulasi yang menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat, terutama pengguna jasa transportasi, mitra bisnis, hingga pemangku kebijakan di daerah.
Pande menjelaskan, Taksi GSM dan Tri Hita Trans merupakan dua entitas bisnis yang berdiri sendiri dengan struktur kepemilikan, model pengelolaan, dan arah pengembangan yang berbeda. Tidak ada keterkaitan korporasi, tidak ada integrasi manajemen, dan tidak ada hubungan operasional di antara keduanya. “Kami merasa perlu meluruskan informasi ini agar tidak terjadi tumpang tindih persepsi di masyarakat. Tri Hita Trans tetap fokus pada lini bisnisnya sendiri, sementara Taksi GSM beroperasi secara mandiri,” tegasnya saat dihubungi, Senin (23/2/2029).
Penegasan ini penting karena dalam beberapa waktu terakhir beredar anggapan bahwa kedua layanan tersebut saling terhubung, bahkan dianggap berada dalam satu payung usaha. Padahal, menurut Pande, kesalahpahaman semacam ini berpotensi menimbulkan kekeliruan administratif, salah alamat dalam komunikasi bisnis, hingga dampak operasional di lapangan. Masyarakat, kata dia, harus lebih teliti dalam mengenali atribut perusahaan, logo, hingga identitas aplikasi agar tidak terjadi kekeliruan dalam melakukan pemesanan maupun transaksi.

Secara struktural, Taksi GSM merupakan bagian dari ekspansi global Green and Smart Mobility yang didirikan oleh Pham Nhat Vuong melalui Vingroup di Vietnam. GSM dikenal sebagai perusahaan taksi listrik pertama yang beroperasi secara penuh dengan armada kendaraan listrik di Indonesia dan Asia Tenggara sejak akhir 2024. Menggunakan mobil listrik VinFast, GSM hadir membawa misi transportasi ramah lingkungan dengan standar layanan modern dan sistem digital yang terintegrasi.
Di Indonesia, GSM memulai operasionalnya di Jakarta dan kemudian merambah Bekasi. Seluruh armada yang digunakan berbasis kendaraan listrik 100 persen, dengan tarif yang kompetitif. Untuk kilometer pertama, tarif dipatok sekitar Rp9.600 dan Rp5.800 per kilometer berikutnya. Layanan dapat diakses melalui aplikasi, call center 14068, maupun dihentikan langsung di jalan. Ciri khasnya adalah warna hijau cerah yang menjadi identitas kuat di jalanan ibu kota.
GSM mengusung konsep “5 Goods”: good car, good driver, good price, good experience, dan good for environment. Artinya, perusahaan ini menekankan kualitas kendaraan, profesionalitas pengemudi, harga yang terjangkau, pengalaman pengguna yang nyaman, serta komitmen terhadap lingkungan. Secara korporasi, GSM merupakan bagian dari ekosistem kendaraan listrik Vingroup yang sedang agresif memperluas pengaruhnya di Asia Tenggara sebagai bagian dari transisi energi bersih.
Di sisi lain, Tri Hita Trans memiliki karakter dan filosofi yang sangat berbeda. Layanan ini lahir dari konteks lokal Bali, berakar pada nilai kearifan lokal Tri Hita Karana yang menekankan harmoni antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Tri Hita Trans dirancang sebagai aplikasi transportasi digital berbasis desa adat yang menempatkan desa sebagai subjek pengelola, bukan sekadar objek pasar.

Menurut Pande, Tri Hita Trans berfokus pada pemberdayaan sopir lokal dan penguatan ekonomi desa adat. Modelnya dirancang agar keuntungan dan nilai tambah ekonomi dapat kembali ke komunitas melalui skema koperasi atau pengelolaan berbasis desa. “Kami di Tri Hita Trans sudah dipastikan membangun ekonomi desa adat dengan melibatkan para driver transport lokal,” ujarnya.
Konsep ini muncul dari dinamika panjang transportasi di Bali yang kerap diwarnai gesekan antara sopir lokal dan transportasi daring dari luar daerah. Dengan pendekatan berbasis desa adat, Tri Hita Trans mencoba meredam potensi konflik sosial, menciptakan rasa keadilan, dan memastikan bahwa transformasi digital tidak meminggirkan masyarakat lokal. Kendaraan listrik juga menjadi prioritas sebagai bagian dari komitmen mendukung pariwisata hijau Bali.
Tri Hita Trans bukan sekadar aplikasi transportasi. Ia dirancang sebagai ekosistem digital yang ke depan dapat terintegrasi dengan berbagai sektor ekonomi desa, mulai dari UMKM, pariwisata berbasis komunitas, hingga layanan pendukung lainnya. Dukungan terhadap inisiatif ini datang dari berbagai pihak di Bali, termasuk instansi pemerintah dan lembaga adat yang melihatnya sebagai model percontohan penguatan ekonomi berbasis kearifan lokal.
Perbedaan mendasar inilah yang menurut Pande harus dipahami secara utuh oleh masyarakat. GSM adalah perusahaan multinasional dengan model bisnis korporasi global yang berfokus pada transportasi listrik modern di kota-kota besar. Sementara Tri Hita Trans adalah inisiatif lokal berbasis nilai budaya Bali yang menekankan pemberdayaan desa adat dan keseimbangan sosial-ekologis.

Dalam konteks operasional, seluruh standar pelayanan, tarif, kebijakan promosi, hingga sistem manajemen pengemudi Taksi GSM berada sepenuhnya di bawah kendali manajemen GSM. Tidak ada campur tangan, koordinasi, maupun kebijakan bersama dengan Tri Hita Trans. Begitu pula sebaliknya, kebijakan Tri Hita Trans sepenuhnya ditentukan oleh pengelola internalnya dan mitra desa adat yang terlibat.
Klarifikasi ini juga menjadi penting di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap transportasi berbasis listrik. Bali sebagai destinasi pariwisata internasional sedang bergerak menuju model pariwisata berkelanjutan, dengan pembatasan kendaraan berbahan bakar fosil dan dorongan penggunaan kendaraan listrik. Dalam lanskap ini, munculnya berbagai layanan transportasi berbasis listrik kerap menimbulkan asumsi bahwa semuanya berada dalam satu jaringan.
Padahal, kata Pande, keberagaman model bisnis adalah bagian dari dinamika ekonomi modern. Tidak semua layanan berbasis listrik otomatis berada dalam satu grup usaha. Justru, persaingan yang sehat dan kejelasan identitas perusahaan akan menciptakan iklim usaha yang transparan dan profesional.
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Setiap perusahaan memiliki kanal komunikasi resmi yang dapat diakses publik. Jika ada keraguan terkait layanan, masyarakat dapat menghubungi kontak resmi masing-masing perusahaan agar tidak terjadi kesalahan persepsi.

Klarifikasi ini juga sekaligus menjadi penegasan bahwa transformasi transportasi di Indonesia, khususnya di Bali dan Jakarta, berjalan dalam berbagai jalur. Ada jalur korporasi global seperti GSM yang membawa investasi dan teknologi dari luar negeri, dan ada jalur berbasis komunitas seperti Tri Hita Trans yang tumbuh dari kebutuhan sosial dan budaya lokal.
Keduanya memiliki ruang masing-masing dan tidak perlu dipertentangkan. Namun, kejelasan identitas tetap menjadi hal yang krusial agar publik tidak salah memahami struktur kepemilikan, tanggung jawab layanan, maupun arah kebijakan operasional.
Pande menegaskan kembali bahwa pihaknya terbuka terhadap komunikasi dan siap memberikan penjelasan apabila dibutuhkan. “Yang terpenting adalah masyarakat mendapatkan informasi yang benar dan tidak terjadi kekeliruan di lapangan,” ujarnya.
Dengan pernyataan resmi ini, diharapkan tidak ada lagi anggapan bahwa Taksi GSM dan Tri Hita Trans berada dalam satu payung manajemen. Keduanya berdiri sendiri, berjalan dengan visi dan strategi masing-masing, serta memiliki tanggung jawab terpisah terhadap pengguna jasa. aka/jet











