Tag: Sampah

  • TPA Suwung Resmi Ditutup 1 April 2026, BKS LPD Bali Siapkan Mesin Sampah “Somya” Sebagai Solusi

    TPA Suwung Resmi Ditutup 1 April 2026, BKS LPD Bali Siapkan Mesin Sampah “Somya” Sebagai Solusi

    JeettNews, Denpasar | Bali sedang berdiri di tepi jurang krisis sampah. Ketika Tempat Pembuangan Akhir Suwung resmi ditutup total pada 1 April 2026, pulau yang selama ini dikenal sebagai surga pariwisata dunia itu akan kehilangan satu-satunya tempat pembuangan sampah terbesar yang selama puluhan tahun menjadi penyangga sistem persampahan Bali.

    Penutupan total TPA Suwung bukan sekadar kebijakan administratif. Ia adalah titik balik yang memaksa seluruh sistem pengelolaan sampah di Bali berubah secara drastis. Tidak ada lagi ruang untuk membuang sampah sembarangan. Tidak ada lagi tempat untuk menumpuk limbah rumah tangga, hotel, restoran, pasar, dan kawasan wisata.

    Ketika pintu Suwung ditutup, Bali dipaksa menghadapi kenyataan pahit. Sampah harus selesai dari sumbernya. Di tengah situasi yang semakin mendesak itulah, Badan Kerja Sama Lembaga Perkreditan Desa Provinsi Bali mengambil langkah strategis dengan menggandeng PT Enviro Mas Sejahtera untuk menghadirkan teknologi pengolahan sampah organik Somya Rapid Digester.

    Kerja sama tersebut dipertegas melalui penandatanganan Memorandum of Understanding antara Direktur Utama PT Enviro Mas Sejahtera A A Ngr Panji Astika ST dengan Ketua Umum BKS LPD Provinsi Bali Drs I Nyoman Cendekiawan SH MSi yang berlangsung di Kantor BKS LPD Kabupaten Gianyar, Rabu 9 Maret 2026.

    Momen penandatanganan itu bukan sekadar seremoni kerja sama bisnis. Ia menjadi simbol dimulainya babak baru dalam perjuangan Bali menghadapi darurat sampah yang semakin mengkhawatirkan. Ketua BKS LPD Provinsi Bali I Nyoman Cendekiawan menegaskan bahwa keputusan menutup TPA Suwung akan membawa konsekuensi besar bagi seluruh sistem pengelolaan sampah di Bali.

    Menurutnya, selama puluhan tahun masyarakat terbiasa dengan pola lama. Sampah dibuang ke TPA tanpa proses pengolahan serius di tingkat sumber. Kini pola tersebut tidak bisa lagi dipertahankan. Cendekiawan mengatakan bahwa penutupan TPA Suwung harus dipandang sebagai momentum perubahan besar dalam cara masyarakat Bali memandang sampah.

    Jika selama ini sampah dianggap sebagai limbah yang harus dibuang, maka ke depan sampah harus dilihat sebagai sumber daya yang harus dikelola. Ia menegaskan bahwa desa adat harus menjadi garda terdepan dalam perubahan besar ini. Menurutnya, desa adat memiliki kekuatan sosial dan budaya yang sangat kuat dalam menggerakkan masyarakat.

    Melalui jaringan LPD yang tersebar hampir di seluruh desa adat di Bali, perubahan pola pengelolaan sampah dapat dilakukan secara lebih cepat dan sistematis. Cendekiawan menjelaskan bahwa kerja sama dengan PT Enviro Mas Sejahtera bertujuan untuk mempercepat implementasi teknologi pengolahan sampah organik berbasis desa.

    Teknologi Somya Rapid Digester yang dikembangkan oleh perusahaan tersebut dinilai mampu menjawab kebutuhan pengolahan sampah yang cepat, praktis, dan efisien. Ia menyebutkan bahwa sebagian besar sampah yang dihasilkan masyarakat Bali sebenarnya adalah sampah organik. Jika sampah organik bisa diselesaikan di tingkat sumber, maka sebagian besar persoalan sampah Bali sebenarnya sudah selesai.

    Karena itu, teknologi yang mampu mengolah sampah organik secara cepat menjadi sangat penting dalam situasi darurat seperti sekarang. Cendekiawan juga menegaskan bahwa BKS LPD siap mendorong desa adat untuk mulai mengimplementasikan teknologi pengolahan sampah ini. Selain melalui sosialisasi kepada jaringan LPD di seluruh Bali, BKS LPD juga membuka peluang dukungan pembiayaan bagi desa adat yang ingin mengembangkan sistem pengolahan sampah mandiri.

    Ia menilai pendekatan ini tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi desa adat. Kompos yang dihasilkan dari pengolahan sampah organik dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian, penghijauan desa, hingga dijual sebagai produk bernilai ekonomi. Dengan demikian, desa adat tidak hanya mampu menjaga kebersihan lingkungannya, tetapi juga menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat.

    Sementara itu Direktur Utama PT Enviro Mas Sejahtera A A Ngr Panji Astika menjelaskan bahwa teknologi Somya Rapid Digester dirancang khusus untuk menjawab persoalan utama pengelolaan sampah organik. Ia mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen sampah yang dihasilkan di Bali adalah sampah organik. Jika sampah jenis ini dapat diolah langsung di sumbernya, maka beban pengelolaan sampah secara keseluruhan akan berkurang secara drastis.

    Panji Astika menjelaskan bahwa mesin Somya mampu mengolah sampah organik menjadi kompos stabil hanya dalam waktu sekitar enam hingga delapan jam. Kecepatan ini menjadi keunggulan utama dibandingkan metode pengomposan konvensional yang membutuhkan waktu hingga berbulan bulan.

    Teknologi Somya juga dirancang dengan sistem tertutup yang higienis sehingga tidak menimbulkan bau, tidak mengundang lalat, dan tidak menghasilkan emisi gas berbahaya. Volume sampah yang dimasukkan ke dalam mesin akan menyusut hingga 80 sampai 95 persen dari volume awal. Hasil akhirnya berupa kompos plus berkualitas yang dapat dimanfaatkan kembali untuk berbagai kebutuhan pertanian dan penghijauan.

    Panji Astika menegaskan bahwa teknologi ini sudah diuji di berbagai hotel dan restoran di Bali dengan hasil yang sangat baik. Kompos yang dihasilkan memiliki kandungan unsur hara tinggi dan sangat bermanfaat bagi tanaman. Ia juga menegaskan bahwa produk Somya merupakan inovasi teknologi yang dikembangkan oleh putra Bali sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa solusi terhadap persoalan sampah Bali sebenarnya dapat lahir dari kreativitas dan inovasi masyarakat Bali sendiri.

    Menurut Panji Astika, tantangan terbesar saat ini bukan lagi pada teknologi, tetapi pada kesiapan masyarakat untuk mengubah pola pikir dalam mengelola sampah. Penutupan TPA Suwung pada 1 April 2026 akan memaksa seluruh pihak untuk mulai mengelola sampah secara mandiri. Hotel, restoran, kawasan wisata, desa adat hingga rumah tangga tidak bisa lagi bergantung pada sistem pembuangan lama.

    Semua pihak harus mulai memilah sampah, mengolah sampah organik, dan mengurangi ketergantungan terhadap TPA. Jika tidak, maka Bali berpotensi menghadapi krisis sampah yang jauh lebih besar. Panji Astika mengatakan bahwa teknologi Somya dapat menjadi salah satu solusi paling cepat untuk membantu berbagai pihak menghadapi perubahan besar ini. Selain mampu mengolah sampah organik hanya dalam hitungan jam, mesin ini juga mudah dioperasikan dan tidak memerlukan tenaga ahli khusus.

    Mesin dilengkapi sistem otomatis berbasis layar sentuh serta teknologi Internet of Things yang memungkinkan pemantauan dilakukan melalui telepon pintar. Dengan sistem tersebut pengelolaan sampah menjadi jauh lebih sederhana, terukur, dan efisien. Kerja sama antara BKS LPD dan PT Enviro Mas Sejahtera juga membuka peluang pengembangan program percontohan di sejumlah desa adat di Bali.

    Program ini diharapkan dapat menjadi model pengelolaan sampah berbasis teknologi yang dapat direplikasi di berbagai wilayah lainnya. Jika sistem ini berjalan dengan baik, desa adat tidak hanya akan mampu menyelesaikan persoalan sampahnya sendiri, tetapi juga dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia. Cendekiawan menegaskan bahwa masa depan Bali tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam dan kekayaan budayanya, tetapi juga oleh kemampuan masyarakatnya menjaga lingkungan.

    Jika Bali gagal mengatasi persoalan sampah, maka reputasi pulau ini sebagai destinasi wisata kelas dunia juga bisa terancam. Sebaliknya, jika Bali berhasil membangun sistem pengelolaan sampah yang modern dan berbasis komunitas, maka pulau ini dapat menjadi contoh dunia tentang bagaimana budaya lokal mampu melahirkan solusi bagi persoalan lingkungan global. Kini waktu tidak lagi berpihak pada Bali. Hitungan mundur menuju penutupan TPA Suwung sudah berjalan. Dan ketika tanggal 1 April 2026 tiba, Bali tidak lagi punya pilihan selain menyelesaikan sampahnya sendiri. isa/jet

  • Pantai Kelan Dikepung Sampah, 250 Relawan Soul Action Sikat 945 Kg Limbah Hingga Tuntas ke TP3R

    Pantai Kelan Dikepung Sampah, 250 Relawan Soul Action Sikat 945 Kg Limbah Hingga Tuntas ke TP3R

    JeettNews, Badung | Minggu pagi, 1 Maret 2026, Pantai Kelan kembali memperlihatkan ironi yang sudah terlalu sering terjadi di pesisir Bali. Di satu sisi, langit cerah, debur ombak, dan siluet pesawat yang melintas rendah menghadirkan panorama eksotis. Di sisi lain, garis pantai dipenuhi plastik, serpihan kemasan, botol, potongan jaring sintetis, dan limbah rumah tangga yang tak jelas asal-usulnya. Sampah itu datang hampir setiap hari, dibawa arus laut yang tak pernah libur.

    Namun pagi itu berbeda. Lebih dari 250 relawan SOUL Community wilayah Bali bersama Yayasan Cahaya Cinta Kasih (YCCK), Desa Adat Kelan, dan Pokdarwis Kelan turun langsung dalam satu gerakan bertajuk Soul Action. Mereka tidak datang untuk sekadar berfoto dengan latar karung sampah. Mereka datang dengan sistem, dengan kesadaran, dan dengan komitmen keberlanjutan.

    Sejak pukul pagi, relawan sudah menyisir garis pantai. Mereka bergerak berkelompok, membawa kampil dan alat sederhana. Tidak ada panggung megah. Tidak ada seremoni panjang. Yang ada hanya kerja nyata. Sampah dipungut satu per satu, bukan hanya yang besar dan mencolok, tetapi juga serpihan kecil yang kerap luput dari perhatian.

    Pantai Kelan memang memiliki karakter unik. Arus laut di kawasan ini kerap membawa kiriman sampah dari berbagai titik. Plastik menjadi dominasi. Tanpa penanganan yang konsisten, sampah itu menumpuk, mengancam biota laut, dan merusak citra pariwisata Bali. Masalahnya bukan sehari dua hari. Ini siklus panjang yang terus berulang.

    Pembina YCCK, Pak Agung, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan respons emosional sesaat. Ia menegaskan gerakan ini lahir dari kesadaran komunitas.

    “Ini murni inisiatif komunitas. Kelan dipilih karena pantainya membutuhkan penanganan bersama yang tidak cukup kita kerjakan sekali saja. Seperti belajar spiritual, ini bukan proses instan. Yang lebih penting adalah kita bukan hanya memindahkan sampah, tetapi memutus mata rantai sampahnya,” ujarnya di sela kegiatan.

    Kalimat itu menjadi garis tegas yang membedakan Soul Action dengan kegiatan bersih pantai pada umumnya. Banyak aksi berhenti pada pengangkutan. Sampah dikumpulkan, lalu hilang dari pandangan. Setelah itu, selesai. Tidak ada jaminan ke mana akhirnya bermuara.

    Di Pantai Kelan, pendekatannya berbeda. Relawan tidak serta-merta memasukkan semua yang ditemukan ke dalam karung. Sampah organik seperti kayu, ranting, dan serabut kelapa dibiarkan tetap berada di kawasan pantai. Bagi mereka, itu bukan sampah. Itu bagian dari siklus alami ekosistem pesisir.

    Yang diangkat adalah sampah anorganik. Plastik, kemasan makanan, botol minuman, potongan styrofoam, hingga serpihan kecil yang sudah terfragmentasi. Proses ini membutuhkan ketelitian dan waktu lebih lama.

    Perwakilan SOUL Community Bali, Ibu Andri, menyebut metode ini sebagai bentuk “triase lingkungan”.

    “Membersihkan pantai bukan hanya soal estetika. Kita memilah mana yang menjadi nutrisi bagi bumi dan mana yang merusaknya. Pelayanan pada alam bukan sekadar memindahkan sampah, tapi mengembalikan ekosistem agar Pantai Kelan lebih sehat lagi,” tuturnya.

    Ia juga menyampaikan bahwa pelayanan terhadap alam merupakan bagian dari pembelajaran hidup yang dijalani komunitas. Bagi mereka, cinta bumi bukan slogan, melainkan praktik yang harus konsisten.

    Selama beberapa jam, pantai yang semula dipenuhi limbah perlahan berubah. Karung-karung terisi. Relawan, termasuk anak-anak, tampak fokus memilah. Kehadiran generasi muda menjadi sorotan tersendiri. Mereka tidak hanya ikut-ikutan. Mereka belajar membedakan organik dan anorganik. Mereka diajak memahami mengapa plastik berbahaya dan mengapa kayu di pantai bukan musuh.

    Bersih pantai pagi itu bukan sekadar kerja fisik, tetapi juga ruang edukasi.

    Setelah seluruh area yang disasar selesai dibersihkan, total terkumpul 63 kampil sampah anorganik. Angka yang mengejutkan: 945 kilogram. Hampir satu ton sampah yang sebelumnya tersebar di garis pantai.

    Namun kerja mereka tidak berhenti di situ. Perwakilan Soul Community Bali langsung membawa seluruh material anorganik tersebut ke TP3R Sadu Kencana untuk diproses lebih lanjut. Reduce, reuse, recycle. Bukan sekadar buang.

    Data penerimaan di TP3R mencatat seluruh 63 kampil dengan berat total 945 kilogram merupakan sampah anorganik murni yang telah dipilah teliti, hingga serpihan kecilnya. Ini memastikan bahwa material tersebut benar-benar masuk dalam sistem pengolahan, bukan kembali menjadi beban lingkungan.

    Pak Agung kembali menegaskan pentingnya tahap akhir ini.

    “Semua peserta sangat teliti memilah, tidak sekadar memindahkan sampah. Ini usaha nyata untuk melindungi ekosistem dan memastikan sampah organik bisa terurai alami. Berkelanjutan artinya sampai ke proses pengolahan sampah. Bukan kegiatan sekali jalan,” tegasnya.

    PLT Ketua Pokdarwis Kelan, Bapak Made Eling Payana, menyampaikan apresiasi atas inisiatif komunitas tersebut. Ia menyebut gerakan ini sebagai energi positif yang perlu disebarkan.

    “Kami atas nama Desa Kelan dan Pokdarwis mengajak bapak ibu menyebarkan kebaikan ini ke masyarakat lain. Habit mencintai alam dimulai dari diri sendiri dan keluarga, mulai dari memilah sampah rumah tangga. Terima kasih sudah melakukan pelayanan di desa kami,” ujarnya.

    Pernyataan itu menyentuh akar persoalan. Sampah pantai sejatinya adalah refleksi dari kebiasaan di darat. Jika rumah tangga tidak memilah, jika konsumsi plastik terus meningkat tanpa tanggung jawab, maka laut menjadi pelarian terakhir. Dan laut tidak pernah benar-benar menelan semuanya. Ia mengembalikannya.

    Pantai Kelan hanyalah satu titik. Tetapi ia simbol dari banyak pesisir lain di Bali yang menghadapi persoalan serupa. Gerakan seperti Soul Action menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus menunggu kebijakan besar. Komunitas bisa memulai.

    Namun tentu saja, komunitas tidak bisa bekerja sendiri selamanya. Persoalan sampah membutuhkan sistem terintegrasi. Mulai dari pengurangan penggunaan plastik, edukasi berkelanjutan, hingga penguatan fasilitas pengolahan.

    Yayasan Cahaya Cinta Kasih sendiri berdiri sejak 2012, didirikan oleh Bunda Arsaningsih. Yayasan ini bergerak di bidang kemanusiaan dan pembentukan karakter berbasis cinta kasih melalui metode SOUL yang aplikatif dan mudah diterapkan. Soul Action menjadi salah satu program yang mendorong masyarakat terlibat dalam aksi sosial, termasuk aksi lingkungan seperti di Pantai Kelan.

    Program ini tidak hanya berhenti pada kegiatan bersih pantai. Ia mencakup bakti sosial, kampanye sosial, kegiatan relawan, hingga donor darah. Intinya, setiap individu diyakini memiliki potensi memberi dampak positif.

    Di Pantai Kelan, potensi itu terukur dalam angka: 945 kilogram. Tetapi nilai sesungguhnya bukan pada beratnya. Nilainya ada pada kesadaran kolektif yang terbangun.

    Aksi ini menjadi pengingat bahwa krisis sampah bukan isu abstrak. Ia nyata. Ia terlihat. Ia bisa ditimbang. Dan ia bisa dikurangi jika ada kemauan.

    Soul Action di Pantai Kelan bukan akhir cerita. Komunitas memastikan kegiatan serupa akan dilakukan secara rutin sebagai bagian dari komitmen jangka panjang. Mereka menyebutnya pelayanan cinta bumi.

    Karena pada akhirnya, mencintai bumi bukan pilihan sesaat. Ia bukan tren musiman. Ia adalah tanggung jawab yang harus dijaga, dirawat, dan diulang terus-menerus.

    Pantai Kelan pagi itu menjadi saksi bahwa ketika kesadaran bertemu aksi, hampir satu ton sampah bisa berubah dari ancaman menjadi material yang masuk sistem pengolahan.

    Pertanyaannya kini sederhana, tetapi mendesak: apakah gerakan ini akan berdiri sendiri, atau menjadi percikan yang menyalakan kesadaran lebih luas di Bali?

    Waktu yang akan menjawab. Tetapi setidaknya, pada 1 Maret 2026, 250 lebih relawan telah membuktikan bahwa perubahan tidak datang dari keluhan, melainkan dari tindakan. aka/jet