Kategori: Gaya Hidup

  • Pawiwahan Lanus dan Yunita, Satukan Pasemetonan Brangsinga dan Pangeran Tangkas Kori Agung

    Pawiwahan Lanus dan Yunita, Satukan Pasemetonan Brangsinga dan Pangeran Tangkas Kori Agung

    JeettNews, Badung | Pawiwahan bukan sekadar pernikahan. Ia adalah momentum ideologis kebudayaan Bali yang menyatukan bukan hanya dua insan, tetapi juga menyulam kembali benang-benang pasemetonan yang sempat merenggang oleh jarak, waktu, dan dinamika kehidupan modern. Itulah yang tercermin kuat dalam rangkaian upacara Manusa Yadnya Pawiwahan I Komang Lanus dengan Ni Putu Yunita Chandra Dewi, S.Pd., yang digelar penuh taksu, berlapis makna, dan sarat pesan kultural dari Minggu, 22 Maret 2026 hingga puncak 23 Maret 2026 serta resepsi pada Selasa, 24 Maret 2026 di Karangasem.

    Rangkaian panjang ini bukan sekadar agenda seremonial keluarga. Ia adalah peristiwa sosial, spiritual, sekaligus kultural yang menegaskan bahwa Bali masih berdiri tegak di atas fondasi adat yang hidup, berdenyut, dan terus diperjuangkan oleh generasi pewarisnya.

    Hari Minggu, 22 Maret 2026, menjadi awal dari seluruh rangkaian sakral tersebut. Prosesi marerasan dan madarma suaka digelar sebagai bentuk penyucian sekaligus permohonan restu secara sekala dan niskala. Dalam tradisi Bali, tahapan ini bukan sekadar formalitas, melainkan fase krusial yang menandai kesiapan kedua mempelai untuk memasuki kehidupan baru dengan restu leluhur dan kekuatan spiritual yang menyertainya.

    Dalam suasana khidmat, doa-doa dipanjatkan. Harapan digantungkan. Restu dimohonkan. Marerasan menjadi simbol penyatuan secara batiniah, sementara madarma suaka menjadi bentuk perlindungan spiritual agar perjalanan rumah tangga yang akan dibangun tidak hanya kokoh secara lahir, tetapi juga kuat secara niskala.

    Namun, apa yang terjadi dalam pawiwahan ini melampaui makna ritual itu sendiri. Kehadiran semeton Brangsinga dari Datah, Karangasem, dalam rangkaian ini menjadi titik balik penting dalam membangun kembali hubungan pasemetonan dengan Dadia Pangeran Tangkas Kori Agung Banjar Peminge. Ini bukan sekadar kunjungan keluarga. Ini adalah rekonsolidasi kultural.

    Panglingsir Dadia Pangeran Tangkas Kori Agung Banjar Peminge, Mangku Made Sana, secara lugas dan penuh ketulusan menyampaikan pesan yang dalam bahwa pawiwahan ini harus dimaknai sebagai momentum kebangkitan hubungan keluarga besar yang selama ini mungkin hanya terhubung dalam ruang-ruang ritual.

    “Puniki wenten semeton Brangsinga saking Datah Karangasem. Rahina Redite Pon Dukut, 22 Maret 2026, sami rauh ring Peminge. Punika bukan sekadar upacara, nanging ajegang pasemetonan. Dumogi ajeg raket makurenan, mangden sida ngewetuang sentana sane mawiguna,” ungkapnya.

    Pernyataan ini bukan sekadar harapan, tetapi juga kritik halus terhadap realitas sosial yang mulai menggerus intensitas hubungan antarkeluarga dalam struktur dadia. Dalam banyak kasus, hubungan pasemetonan hanya aktif saat ada upacara di pura pedarman. Selebihnya, komunikasi menjadi renggang, bahkan nyaris hilang.

    Mangku Made Sana menegaskan bahwa kondisi ini tidak boleh dibiarkan. “Mangden sampunang wantah ring Pura Pedarman kemanten. Dados ajang matemu, ajang makurenan. Yen sampun arang metemu, rase pasemeton punika dados kirang. Puniki sane tusing dados kelantur,” tegasnya.

    Pernyataan tersebut menggema kuat dalam konteks Bali hari ini, di mana modernisasi dan mobilitas sosial kerap membuat hubungan kekeluargaan menjadi semakin longgar. Pawiwahan ini, dengan demikian, tampil sebagai ruang perlawanan, ruang untuk kembali merekatkan nilai-nilai kebersamaan yang menjadi roh dari kehidupan adat Bali.

    Memasuki Senin, 23 Maret 2026, rangkaian inti pawiwahan dilaksanakan. Prosesi amet pinet, majauman, hingga tradisi menerime jauman atau Tipat Bantal digelar di kediaman keluarga mempelai wanita, rumah I Nyoman Semadi Putra di Jalan Srikandi 45. Suasana kekeluargaan terasa begitu kental. Tidak ada sekat. Tidak ada jarak. Semua menyatu dalam satu ruang kebersamaan yang hangat.

    Amet pinet menjadi simbol pengambilan dan penyatuan mempelai wanita ke dalam keluarga mempelai pria. Majauman menjadi bentuk penghormatan dan penerimaan dalam struktur keluarga besar. Sementara Tipat Bantal menjadi simbol keseimbangan, keharmonisan, dan harapan akan kehidupan rumah tangga yang utuh.

    Di balik setiap tahapan itu, tersimpan filosofi mendalam yang tidak bisa dipisahkan dari identitas Bali itu sendiri. Ini bukan sekadar tradisi. Ini adalah sistem nilai. Ini adalah cara Bali mendefinisikan cinta, keluarga, dan tanggung jawab. I Komang Lanus, putra pertama dari pasangan I Nyoman Jenek dan Ni Nyoman Sriadi, tidak hanya menikahi Ni Putu Yunita Chandra Dewi, putri pertama dari pasangan I Nyoman Semadi Putra dan Ni Putu Budiasih. Ia juga menerima tanggung jawab sebagai bagian dari sistem adat yang mengikat dirinya dalam jaringan sosial yang lebih luas.

    Demikian pula Ni Putu Yunita Chandra Dewi. Ia tidak hanya menjadi istri. Ia menjadi bagian dari garis keturunan, dari sejarah panjang keluarga, dari struktur sosial yang memiliki konsekuensi dan tanggung jawab yang tidak ringan. Dan di sinilah letak kekuatan pawiwahan Bali, ia tidak individualistik. Ia kolektif. Ia sosial. Ia spiritual.

    Puncak dari seluruh rangkaian ini terjadi pada Selasa, 24 Maret 2026, saat resepsi digelar di Desa Cangap, Datah, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem. Ratusan tamu hadir. Keluarga besar berkumpul. Tawa dan kebahagiaan mengalir tanpa sekat. Namun di balik kemeriahan itu, ada pesan yang lebih dalam bahwa pernikahan ini bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang masa depan, tentang generasi yang akan lahir, tentang nilai yang akan diwariskan, tentang identitas yang akan dipertahankan.

    Mangku Made Sana kembali menegaskan harapannya agar pawiwahan ini melahirkan sentana yang tidak hanya melanjutkan garis keturunan, tetapi juga memiliki nilai guna bagi masyarakat. “Titiang ngarepang dumogi Ida Bhatara Lelangit ledang suweca nuntun para sentana mangda mangguh kertha raharja, rahayu lan manubagia. Sentana sane nenten wantah dados pelanjut, nanging dados sane mawiguna,” ujarnya.

    Harapan ini bukan tanpa alasan. Di tengah arus globalisasi yang semakin kuat, Bali menghadapi tantangan serius dalam menjaga identitasnya. Generasi muda dihadapkan pada pilihan-pilihan baru yang sering kali menjauhkan mereka dari akar budaya. Dalam konteks ini, pawiwahan menjadi salah satu benteng terakhir, ruang di mana nilai-nilai adat masih diajarkan, dipraktikkan, dan diwariskan secara langsung.

    Pawiwahan Lanus dan Yunita menjadi contoh konkret bagaimana tradisi bisa tetap hidup tanpa kehilangan relevansinya. Ia bukan sekadar romantisme masa lalu. Ia adalah strategi kebudayaan untuk masa depan. Lebih dari itu, pawiwahan ini juga menjadi pengingat bahwa kekuatan Bali tidak hanya terletak pada keindahan alamnya, tetapi pada kekuatan hubungan sosialnya, pada kemampuannya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas. tim/jet

  • Pantai Kelan Dikepung Sampah, 250 Relawan Soul Action Sikat 945 Kg Limbah Hingga Tuntas ke TP3R

    Pantai Kelan Dikepung Sampah, 250 Relawan Soul Action Sikat 945 Kg Limbah Hingga Tuntas ke TP3R

    JeettNews, Badung | Minggu pagi, 1 Maret 2026, Pantai Kelan kembali memperlihatkan ironi yang sudah terlalu sering terjadi di pesisir Bali. Di satu sisi, langit cerah, debur ombak, dan siluet pesawat yang melintas rendah menghadirkan panorama eksotis. Di sisi lain, garis pantai dipenuhi plastik, serpihan kemasan, botol, potongan jaring sintetis, dan limbah rumah tangga yang tak jelas asal-usulnya. Sampah itu datang hampir setiap hari, dibawa arus laut yang tak pernah libur.

    Namun pagi itu berbeda. Lebih dari 250 relawan SOUL Community wilayah Bali bersama Yayasan Cahaya Cinta Kasih (YCCK), Desa Adat Kelan, dan Pokdarwis Kelan turun langsung dalam satu gerakan bertajuk Soul Action. Mereka tidak datang untuk sekadar berfoto dengan latar karung sampah. Mereka datang dengan sistem, dengan kesadaran, dan dengan komitmen keberlanjutan.

    Sejak pukul pagi, relawan sudah menyisir garis pantai. Mereka bergerak berkelompok, membawa kampil dan alat sederhana. Tidak ada panggung megah. Tidak ada seremoni panjang. Yang ada hanya kerja nyata. Sampah dipungut satu per satu, bukan hanya yang besar dan mencolok, tetapi juga serpihan kecil yang kerap luput dari perhatian.

    Pantai Kelan memang memiliki karakter unik. Arus laut di kawasan ini kerap membawa kiriman sampah dari berbagai titik. Plastik menjadi dominasi. Tanpa penanganan yang konsisten, sampah itu menumpuk, mengancam biota laut, dan merusak citra pariwisata Bali. Masalahnya bukan sehari dua hari. Ini siklus panjang yang terus berulang.

    Pembina YCCK, Pak Agung, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan respons emosional sesaat. Ia menegaskan gerakan ini lahir dari kesadaran komunitas.

    “Ini murni inisiatif komunitas. Kelan dipilih karena pantainya membutuhkan penanganan bersama yang tidak cukup kita kerjakan sekali saja. Seperti belajar spiritual, ini bukan proses instan. Yang lebih penting adalah kita bukan hanya memindahkan sampah, tetapi memutus mata rantai sampahnya,” ujarnya di sela kegiatan.

    Kalimat itu menjadi garis tegas yang membedakan Soul Action dengan kegiatan bersih pantai pada umumnya. Banyak aksi berhenti pada pengangkutan. Sampah dikumpulkan, lalu hilang dari pandangan. Setelah itu, selesai. Tidak ada jaminan ke mana akhirnya bermuara.

    Di Pantai Kelan, pendekatannya berbeda. Relawan tidak serta-merta memasukkan semua yang ditemukan ke dalam karung. Sampah organik seperti kayu, ranting, dan serabut kelapa dibiarkan tetap berada di kawasan pantai. Bagi mereka, itu bukan sampah. Itu bagian dari siklus alami ekosistem pesisir.

    Yang diangkat adalah sampah anorganik. Plastik, kemasan makanan, botol minuman, potongan styrofoam, hingga serpihan kecil yang sudah terfragmentasi. Proses ini membutuhkan ketelitian dan waktu lebih lama.

    Perwakilan SOUL Community Bali, Ibu Andri, menyebut metode ini sebagai bentuk “triase lingkungan”.

    “Membersihkan pantai bukan hanya soal estetika. Kita memilah mana yang menjadi nutrisi bagi bumi dan mana yang merusaknya. Pelayanan pada alam bukan sekadar memindahkan sampah, tapi mengembalikan ekosistem agar Pantai Kelan lebih sehat lagi,” tuturnya.

    Ia juga menyampaikan bahwa pelayanan terhadap alam merupakan bagian dari pembelajaran hidup yang dijalani komunitas. Bagi mereka, cinta bumi bukan slogan, melainkan praktik yang harus konsisten.

    Selama beberapa jam, pantai yang semula dipenuhi limbah perlahan berubah. Karung-karung terisi. Relawan, termasuk anak-anak, tampak fokus memilah. Kehadiran generasi muda menjadi sorotan tersendiri. Mereka tidak hanya ikut-ikutan. Mereka belajar membedakan organik dan anorganik. Mereka diajak memahami mengapa plastik berbahaya dan mengapa kayu di pantai bukan musuh.

    Bersih pantai pagi itu bukan sekadar kerja fisik, tetapi juga ruang edukasi.

    Setelah seluruh area yang disasar selesai dibersihkan, total terkumpul 63 kampil sampah anorganik. Angka yang mengejutkan: 945 kilogram. Hampir satu ton sampah yang sebelumnya tersebar di garis pantai.

    Namun kerja mereka tidak berhenti di situ. Perwakilan Soul Community Bali langsung membawa seluruh material anorganik tersebut ke TP3R Sadu Kencana untuk diproses lebih lanjut. Reduce, reuse, recycle. Bukan sekadar buang.

    Data penerimaan di TP3R mencatat seluruh 63 kampil dengan berat total 945 kilogram merupakan sampah anorganik murni yang telah dipilah teliti, hingga serpihan kecilnya. Ini memastikan bahwa material tersebut benar-benar masuk dalam sistem pengolahan, bukan kembali menjadi beban lingkungan.

    Pak Agung kembali menegaskan pentingnya tahap akhir ini.

    “Semua peserta sangat teliti memilah, tidak sekadar memindahkan sampah. Ini usaha nyata untuk melindungi ekosistem dan memastikan sampah organik bisa terurai alami. Berkelanjutan artinya sampai ke proses pengolahan sampah. Bukan kegiatan sekali jalan,” tegasnya.

    PLT Ketua Pokdarwis Kelan, Bapak Made Eling Payana, menyampaikan apresiasi atas inisiatif komunitas tersebut. Ia menyebut gerakan ini sebagai energi positif yang perlu disebarkan.

    “Kami atas nama Desa Kelan dan Pokdarwis mengajak bapak ibu menyebarkan kebaikan ini ke masyarakat lain. Habit mencintai alam dimulai dari diri sendiri dan keluarga, mulai dari memilah sampah rumah tangga. Terima kasih sudah melakukan pelayanan di desa kami,” ujarnya.

    Pernyataan itu menyentuh akar persoalan. Sampah pantai sejatinya adalah refleksi dari kebiasaan di darat. Jika rumah tangga tidak memilah, jika konsumsi plastik terus meningkat tanpa tanggung jawab, maka laut menjadi pelarian terakhir. Dan laut tidak pernah benar-benar menelan semuanya. Ia mengembalikannya.

    Pantai Kelan hanyalah satu titik. Tetapi ia simbol dari banyak pesisir lain di Bali yang menghadapi persoalan serupa. Gerakan seperti Soul Action menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus menunggu kebijakan besar. Komunitas bisa memulai.

    Namun tentu saja, komunitas tidak bisa bekerja sendiri selamanya. Persoalan sampah membutuhkan sistem terintegrasi. Mulai dari pengurangan penggunaan plastik, edukasi berkelanjutan, hingga penguatan fasilitas pengolahan.

    Yayasan Cahaya Cinta Kasih sendiri berdiri sejak 2012, didirikan oleh Bunda Arsaningsih. Yayasan ini bergerak di bidang kemanusiaan dan pembentukan karakter berbasis cinta kasih melalui metode SOUL yang aplikatif dan mudah diterapkan. Soul Action menjadi salah satu program yang mendorong masyarakat terlibat dalam aksi sosial, termasuk aksi lingkungan seperti di Pantai Kelan.

    Program ini tidak hanya berhenti pada kegiatan bersih pantai. Ia mencakup bakti sosial, kampanye sosial, kegiatan relawan, hingga donor darah. Intinya, setiap individu diyakini memiliki potensi memberi dampak positif.

    Di Pantai Kelan, potensi itu terukur dalam angka: 945 kilogram. Tetapi nilai sesungguhnya bukan pada beratnya. Nilainya ada pada kesadaran kolektif yang terbangun.

    Aksi ini menjadi pengingat bahwa krisis sampah bukan isu abstrak. Ia nyata. Ia terlihat. Ia bisa ditimbang. Dan ia bisa dikurangi jika ada kemauan.

    Soul Action di Pantai Kelan bukan akhir cerita. Komunitas memastikan kegiatan serupa akan dilakukan secara rutin sebagai bagian dari komitmen jangka panjang. Mereka menyebutnya pelayanan cinta bumi.

    Karena pada akhirnya, mencintai bumi bukan pilihan sesaat. Ia bukan tren musiman. Ia adalah tanggung jawab yang harus dijaga, dirawat, dan diulang terus-menerus.

    Pantai Kelan pagi itu menjadi saksi bahwa ketika kesadaran bertemu aksi, hampir satu ton sampah bisa berubah dari ancaman menjadi material yang masuk sistem pengolahan.

    Pertanyaannya kini sederhana, tetapi mendesak: apakah gerakan ini akan berdiri sendiri, atau menjadi percikan yang menyalakan kesadaran lebih luas di Bali?

    Waktu yang akan menjawab. Tetapi setidaknya, pada 1 Maret 2026, 250 lebih relawan telah membuktikan bahwa perubahan tidak datang dari keluhan, melainkan dari tindakan. aka/jet

  • Penduduk Pendatang Membanjiri Bali, Sampah Kian Menggila

    Penduduk Pendatang Membanjiri Bali, Sampah Kian Menggila

    JeettNews, Denpasar | Bali tengah menghadapi persoalan serius yang kian hari kian nyata di depan mata. Arus penduduk pendatang yang terus membanjiri Pulau Dewata tidak lagi sekadar isu kependudukan, melainkan telah menjelma menjadi persoalan struktural yang berdampak langsung pada lingkungan, tata kota, dan kualitas hidup masyarakat lokal. Banjir dan sampah kini menjadi “alarm keras” bahwa daya dukung Bali semakin tertekan dan nyaris tak terkendali.

    Sebagai daerah tujuan wisata dunia, Bali memang memiliki daya tarik yang luar biasa. Lapangan kerja di sektor pariwisata, jasa, dan informal menjadi magnet bagi penduduk dari berbagai daerah di Indonesia. Namun, arus kedatangan yang masif ini tidak dibarengi dengan sistem pengendalian penduduk yang ketat, perencanaan ruang yang disiplin, serta kesiapan infrastruktur lingkungan. Akibatnya, Bali menanggung beban berlapis yang kian berat dari waktu ke waktu.

    Fenomena banjir yang kini kerap terjadi di Denpasar, Badung, hingga Gianyar menjadi bukti nyata. Banjir tidak lagi menunggu hujan ekstrem. Hujan singkat dengan intensitas sedang pun sudah cukup melumpuhkan jalan, permukiman, bahkan kawasan pariwisata. Saluran air yang seharusnya menjadi jalur aliran justru berubah menjadi tempat pembuangan sampah. Plastik, limbah rumah tangga, dan sisa aktivitas usaha informal menyumbat drainase, sungai, dan aliran menuju laut.

    Masalah sampah pun semakin mengkhawatirkan. Volume sampah harian Bali terus meningkat, seiring bertambahnya jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi. Tempat pembuangan sementara sering kali penuh, sementara Tempat Pembuangan Akhir menghadapi keterbatasan lahan dan resistensi sosial. Di sisi lain, kesadaran sebagian penduduk pendatang terhadap kebersihan dan pengelolaan sampah masih rendah. Sampah dibuang sembarangan, tanpa memilah, tanpa memikirkan dampaknya bagi lingkungan sekitar.

    Permukiman padat yang tumbuh cepat, khususnya di kawasan perkotaan dan penyangga pariwisata, turut memperparah keadaan. Banyak pendatang tinggal di hunian tidak layak, di bantaran sungai, lahan sempit, bahkan di kawasan yang seharusnya menjadi ruang terbuka hijau. Minimnya sanitasi dan pengelolaan limbah domestik membuat sungai-sungai Bali tercemar, memicu bau, penyakit, dan banjir yang berulang.

    Pemerintah daerah sebenarnya tidak tinggal diam. Operasi penertiban administrasi kependudukan, sidak penduduk pendatang, hingga kewajiban lapor telah berulang kali dilakukan. Namun, kebijakan tersebut kerap bersifat reaktif dan belum menyentuh akar persoalan. Arus pendatang tetap mengalir, sering kali tanpa keahlian, tanpa pekerjaan jelas, dan tanpa jaminan tempat tinggal yang layak.

    Di sinilah letak persoalan mendasarnya. Bali tidak bisa terus membuka diri tanpa batas, sementara daya dukung lingkungan semakin terbatas. Pengendalian penduduk bukan soal diskriminasi, melainkan soal keberlanjutan. Tanpa regulasi yang tegas, konsisten, dan berkeadilan, Bali berisiko menghadapi krisis lingkungan yang lebih parah: banjir permanen, gunungan sampah, rusaknya ekosistem sungai dan laut, serta menurunnya kualitas pariwisata.

    Masyarakat Bali mulai merasakan dampaknya secara langsung. Jalanan tergenang, lingkungan kotor, bau sampah, hingga meningkatnya risiko kesehatan menjadi bagian dari keseharian. Keresahan pun muncul, karena Bali yang dikenal bersih, indah, dan harmonis perlahan kehilangan wajahnya. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin citra Bali di mata dunia ikut tercoreng.

    Tajuk ini menegaskan satu hal penting: persoalan penduduk pendatang, banjir, dan sampah harus dilihat sebagai satu kesatuan masalah. Dibutuhkan kebijakan terpadu yang melibatkan penataan kependudukan, penegakan hukum, pengelolaan sampah berbasis sumber, serta edukasi yang berkelanjutan. Tanpa langkah tegas dan keberanian politik, Bali akan terus berlari di tempat, sementara masalah lingkungan semakin menggila.

    Bali membutuhkan keseimbangan, bukan sekadar pertumbuhan. Tanpa keseimbangan antara manusia dan lingkungan, Pulau Dewata hanya tinggal nama, sementara warganya harus terus hidup berdampingan dengan banjir dan sampah yang tak kunjung usai. aka/ker

  • RSU Puri Raharja Tampilkan Wajah Baru, Mewah Bak Hotel Bintang Lima

    RSU Puri Raharja Tampilkan Wajah Baru, Mewah Bak Hotel Bintang Lima

    JeettNews, Denpasar | Rumah Sakit Umum (RSU) Puri Raharja kini menghadirkan wajah baru setelah menjalani proses renovasi besar-besaran. Perubahan total pada tata ruang, pencahayaan, dan fasilitas membuat suasana rumah sakit yang berlokasi di Jalan Wr. Supratman, Denpasar ini tampak mewah bak hotel bintang lima. Ruang-ruang pelayanan kini tampil modern, bersih, serta memberikan rasa tenang bagi pasien yang datang untuk menjalani perawatan.

    Direktur Utama RSU Puri Raharja, dr. I Gede Bagus Darmayasa, M.Repro, menjelaskan bahwa renovasi ini bukan semata-mata untuk mempercantik bangunan, namun menjadi bagian dari komitmen peningkatan kualitas layanan. Menurutnya, kenyamanan pasien merupakan faktor penting dalam mendukung proses pemulihan sehingga perubahan desain ruang dan fasilitas dirancang menyerupai suasana hotel yang hangat, lapang, dan elegan.

    Ia menegaskan bahwa seluruh area pelayanan kini ditata ulang dengan pendekatan patient-centered. Mulai dari lobby, poliklinik rawat jalan, ruang tunggu, hingga unit fisioterapi. Ruang rawat inap premium, VIP, sofa tamu, pencahayaan lembut, pendingin ruangan, televisi layar datar, serta kamar mandi dalam yang dilengkapi air panas dan dingin. Peningkatan fasilitas ini diikuti modernisasi perangkat medis, termasuk IGD 24 jam, laboratorium, radiologi, farmasi, serta layanan hemodialisis.

    Pada ruang fisioterapi, perubahan tampak signifikan. Area terapi kini dilengkapi tirai baru berwarna lembut, lampu pencahayaan yang terang, dan peralatan rehabilitasi yang lebih mutakhir. Suasana ruang yang sebelumnya terasa klinis kini berubah menjadi lebih nyaman dan privat sehingga membantu pasien merasa lebih rileks selama menjalani perawatan.

    Perubahan ini langsung mendapat tanggapan positif dari pasien. Made Suryawan, warga Denpasar yang rutin menjalani fisioterapi di RSU Puri Raharja, mengaku terkesan dengan transformasi tersebut. Ia menyebut suasana ruangan kini membuatnya merasa seperti sedang dirawat di fasilitas hotel. “Ruangannya bersih sekali, terang, dan rapi. Saya jadi lebih tenang menjalani terapi. Pelayanan perawat juga cepat dan ramah,” ujarnya.

    Tanggapan senada datang dari Ni Luh Ayu Widiasih, yang mendampingi suaminya menjalani perawatan. Ia mengatakan kenyamanan kamar rawat sangat membantu suasana hati keluarga pasien. “Suami saya bisa berobat lebih nyaman. Perawatnya juga komunikatif dan sigap, jadi kami merasa sangat terbantu,” ungkapnya.

    Dr. Bagus sapaan akrabnya ini, menambahkan bahwa renovasi ini adalah langkah awal dari pengembangan jangka panjang. Ke depan, RSU Puri Raharja akan memperkuat digitalisasi layanan, termasuk sistem antrean terintegrasi, pengembangan rawat jalan terpadu, serta peningkatan pelayanan berbasis teknologi medis yang lebih akurat dan efisien. “Standar kami adalah memberikan pelayanan profesional dengan kenyamanan maksimal. Transformasi ini kami lakukan agar masyarakat mendapatkan pengalaman medis yang lebih manusiawi dan bermutu tinggi,” tegasnya.

    Dengan tampilan baru yang modern dan fasilitas lengkap, RSU Puri Raharja kini menjelma menjadi salah satu rumah sakit dengan transformasi pelayanan paling signifikan di Denpasar. Suasana hotel bintang lima yang dihadirkan memberikan rasa percaya diri baru bagi pasien sekaligus mencerminkan visi rumah sakit dalam meningkatkan mutu layanan kesehatan di Bali. aka/kes

  • Clarks Luncurkan Torhill X Stranger Things, Kolaborasi Ikonik Guncang Pasar Indonesia

    Clarks Luncurkan Torhill X Stranger Things, Kolaborasi Ikonik Guncang Pasar Indonesia

    JeettNews, Denpasar | Clarks resmi menghadirkan kolaborasi ikonik Torhill X Stranger Things di Indonesia, menyambut musim terakhir serial fenomenal besutan Netflix tersebut. Koleksi edisi khusus ini menjadi ajakan terbuka bagi para penggemar untuk masuk ke atmosfer Hellfire Club sekaligus dunia penuh misteri Upside Down, melalui sentuhan desain yang menggabungkan warisan klasik Clarks dan imajinasi khas Stranger Things.

    Kehadiran kolaborasi eksklusif ini tidak hanya menjadi pertemuan dua ikon lintas generasi, tetapi juga bentuk perayaan atas semangat kreativitas, petualangan, dan keberanian yang menjadi jiwa utama cerita Stranger Things. Koleksi ini memberikan ruang bagi para penggemar untuk bernostalgia melalui gaya yang berani dan penuh karakter.

    Clarks menghadirkan reinterpretasi terbaru Torhill Hi dengan inspirasi langsung dari energi Hellfire Club. Koleksi ini tersedia dalam tiga warna versatile, lengkap dengan emboss Dungeons & Dragons serta logo Hellfire Club yang identik dengan karakter tokoh-tokoh utama Hawkins. Salah satu elemen paling emosional adalah penyematan gantungan pick gitar Stranger Things X Clarks yang dapat dilepas. Pick tersebut menjadi penghormatan kepada sosok Eddie Munson, karakter yang dicintai karena jiwa rock dan semangat rebelliousnya.

    Koleksi Clarks Torhill X Stranger Things tampil dengan material suede premium lembut, diperkaya detail emboss eksklusif dan artwork di bagian sock liner. Selain mengutamakan tampilan yang memukau, sepatu ini dilengkapi insole Contour Cushion yang dapat dilepas dan sol TPR ringan dengan daya cengkeram tinggi. Outsole bergaris halus khas Clarks memancarkan sentuhan modern, sementara checked collar serta suede logo fobs menghadirkan nuansa retro 1980-an — era kelahiran kisah Stranger Things yang kini menjadi warisan budaya pop dunia.

    Produk kolaborasi ini sudah tersedia di official store Clarks Pondok Indah Mall dan Clarks Kota Kasablanka, serta secara daring melalui Lineashoes.com, Shopee, dan MAPCLUB. Kolaborasi Stranger Things X Clarks disebut sebagai kolaborasi epik yang melampaui batas, memadukan DNA klasik Clarks dengan simbolisme serial Netflix tersebut. Koleksi ini menghadirkan statement gaya penuh warisan, nostalgia, dan modernitas.

    Koleksi ini sekaligus mengukuhkan posisi Clarks sebagai brand global yang tetap relevan dari generasi ke generasi. Untuk informasi lengkap dan update terbaru, publik dapat mengikuti media sosial Clarks Shoes. aka/ker