Tag: Klarifikasi

  • Kedux Batal Mundur, Klarifikasi Isu Pensiun dan Fokus Perbaikan “Gajahdaha”

    Kedux Batal Mundur, Klarifikasi Isu Pensiun dan Fokus Perbaikan “Gajahdaha”

    JeettNews, Denpasar | Isu mundurnya arsitek ogoh-ogoh Banjar Tainsiat, I Nyoman Gede Sentana Putra alias Kedux, akhirnya terjawab. Setelah sempat ramai diperbincangkan publik pasca insiden gagalnya ogoh-ogoh “Gajahdaha” mencapai Catus Pata, Kedux secara tegas menyatakan bahwa dirinya tidak pensiun dan tidak undur diri, melainkan tetap bersama pemuda Banjar Tainsiat untuk menyelesaikan proses yang masih berjalan.

    Klarifikasi ini sekaligus mematahkan spekulasi yang berkembang luas di media sosial. Kedux menegaskan bahwa fokus utamanya saat ini bukan pada rencana tampil atau agenda lain, melainkan pada upaya maksimal memperbaiki ogoh-ogoh “Gajahdaha” bersama tim.

    Ia menyampaikan bahwa dalam kondisi saat ini, seluruh energi dan perhatian difokuskan pada penyempurnaan karya yang sempat mengalami kendala teknis saat malam pengerupukan. Menurutnya, proses tersebut belum selesai dan masih membutuhkan kerja kolektif dari seluruh tim.

    Di tengah ramainya kabar bahwa Banjar Tainsiat akan tampil di kawasan Garuda Wisnu Kencana, Kedux juga menepis isu tersebut. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada rencana resmi untuk membawa “Gajahdaha” tampil di lokasi tersebut. “Kami masih fokus memperbaiki ogoh-ogoh semaksimal mungkin. Untuk rencana tampil di mana pun, termasuk di GWK, belum kami pikirkan,” ujarnya melalui sosial media belum lama.ini.

    Selain itu, Kedux juga menyinggung soal proses “prelina” atau pembakaran ogoh-ogoh yang menjadi bagian penting dalam rangkaian Nyepi. Ia menjelaskan bahwa penggunaan material dalam “Gajahdaha” yang mengandung unsur anorganik membuat proses pembakaran tidak bisa dilakukan secara sembarangan.

    Menurutnya, kondisi ini membutuhkan pertimbangan khusus serta diskusi lebih lanjut agar tetap sesuai dengan aspek keamanan dan lingkungan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaan ogoh-ogoh modern yang kini banyak mengadopsi material non-tradisional.

    Terkait isu dirinya pensiun dari dunia ogoh-ogoh, Kedux menegaskan bahwa kabar tersebut tidak benar. Ia tidak pernah menyatakan berhenti berkarya. Namun ia juga tidak ingin memberikan janji berlebihan terkait karya ke depan. “Saya tidak pensiun. Kalau ada kesempatan, saya akan tetap berkarya. Tidak harus selalu spektakuler, yang penting konsisten,” tegasnya.

    Pernyataan ini menunjukkan sikap realistis sekaligus dewasa dari seorang kreator yang telah lama berkecimpung dalam dunia ogoh-ogoh. Bagi Kedux, keberlanjutan dalam berkarya jauh lebih penting dibanding sekadar mengejar sensasi atau ekspektasi tinggi publik. Di sisi lain, klarifikasi ini juga menjadi angin segar bagi krama Banjar Tainsiat. Kehadiran Kedux dinilai masih sangat penting dalam menjaga arah kreatif dan kualitas karya banjar yang selama ini dikenal inovatif dan berani.

    Pasca insiden “Gajahdaha”, Banjar Tainsiat memang tengah berada dalam fase evaluasi. Namun dengan adanya penegasan dari Kedux, semangat kolektif untuk bangkit dan memperbaiki diri terlihat tetap terjaga. Publik pun kini mulai melihat peristiwa ini secara lebih utuh. Bahwa di balik kegagalan teknis yang terjadi, ada proses panjang yang terus berjalan. Ada tanggung jawab, ada komitmen, dan ada keinginan untuk tetap melanjutkan tradisi dengan cara yang lebih baik.

    “Gajahdaha” mungkin gagal tampil maksimal di Catus Pata, namun cerita di baliknya belum selesai. Justru dari titik ini, arah baru Banjar Tainsiat mulai terbentuk dengan semangat evaluasi, konsistensi, dan keberanian untuk tetap berkarya di tengah tekanan. tim/jet