Tag: Berbasis Desa Adat

  • Siap Mengaspal di Delapan Desa Adat, Tri Hita Trans Launching Revolusi Transportasi Berbasis Desa Adat

    Siap Mengaspal di Delapan Desa Adat, Tri Hita Trans Launching Revolusi Transportasi Berbasis Desa Adat

    JeettNews, Badung | Bali kembali bersiap mencatat sejarah baru dalam tata kelola transportasi berbasis kearifan lokal. Di tengah tekanan globalisasi dan dominasi platform transportasi digital berskala internasional, sebuah inisiatif berani lahir dari akar masyarakat sendiri. PT Sentrik Persada Nusantara memastikan bahwa aplikasi transportasi “Tri Hita” siap dilaunching di delapan desa adat sebagai langkah awal membangun sistem transportasi yang tidak hanya modern, tetapi juga berakar kuat pada nilai budaya Bali.

    Langkah ini bukan sekadar peluncuran aplikasi digital biasa. Ia adalah representasi dari perlawanan halus namun terstruktur terhadap sistem ekonomi yang selama ini cenderung tidak berpihak pada masyarakat lokal. Di balik layar, Tri Hita dirancang sebagai ekosistem yang mengintegrasikan teknologi dengan struktur sosial desa adat, menghadirkan pendekatan baru yang mengedepankan keadilan, transparansi, dan keberlanjutan.

    Owner PT Sentrik Persada Nusantara, I Made Sudiana, menjadi sosok sentral di balik gagasan ini. Dengan pengalaman dan pengamatannya terhadap dinamika transportasi di Bali, ia melihat adanya ketimpangan yang cukup mencolok antara potensi ekonomi yang besar dengan distribusi manfaat yang tidak merata.

    Ket foto: Tampilan aplikasi Tri Hita Trans pada layar ponsel pintar sebagai platform transportasi digital yang siap terintegrasi dengan desa adat se-Bali.

    Selama ini, sektor transportasi di Bali, terutama di kawasan wisata seperti Canggu, berkembang sangat pesat. Namun di balik pertumbuhan itu, muncul berbagai persoalan klasik: konflik antar driver, ketidakjelasan wilayah operasi, praktik rebutan penumpang, hingga ketegangan antara transportasi lokal dan platform global. Semua ini menunjukkan bahwa sistem yang ada belum mampu menjawab kompleksitas sosial yang berkembang di lapangan.

    Di sinilah Tri Hita mengambil posisi. Ia tidak datang untuk sekadar bersaing, tetapi menawarkan solusi yang lebih kontekstual. Filosofi Tri Hita Karana yang menjadi dasar aplikasi ini menjadi pembeda utama. Konsep keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan spiritualitas diterjemahkan ke dalam sistem operasional yang melibatkan seluruh elemen masyarakat desa.

    Delapan desa adat yang akan menjadi titik awal peluncuran bukan dipilih secara acak. Kawasan ini merupakan wilayah strategis dengan tingkat aktivitas pariwisata yang tinggi, sekaligus memiliki dinamika transportasi yang kompleks. Desa Adat Canggu ditetapkan sebagai pusat koordinasi, dengan agenda pertemuan besar yang akan digelar pada pertengahan April 2026.

    Pertemuan ini diproyeksikan menjadi titik konsolidasi awal, di mana seluruh pemangku kepentingan akan duduk bersama untuk menyamakan persepsi. Tidak hanya membahas teknis operasional, tetapi juga membangun komitmen bersama agar sistem ini benar-benar berjalan sesuai harapan.

    Ket foto: program Trihita Trans yang membuka pendaftaran mitra driver bagi krama Bali melalui sistem transportasi online berbasis desa adat yang dikembangkan PT Sentrik Persada Nusantara melalui aplikasi Duwen Iraga.

    Tri Hita berdiri di atas empat pilar utama yang menjadi kekuatan sistemnya. Pertama, Desa Adat sebagai otoritas lokal yang memiliki legitimasi sosial dan budaya. Kedua, BUPDA sebagai motor penggerak ekonomi desa. Ketiga, Pecalang sebagai penjaga keamanan dan ketertiban di lapangan. Dan keempat, komunitas driver sebagai aktor utama dalam operasional transportasi.

    Keempat elemen ini dirancang untuk saling terhubung dalam satu sistem yang transparan dan akuntabel. Tidak ada lagi ruang abu-abu yang selama ini sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Semua berjalan dalam mekanisme yang jelas, dengan pembagian peran yang terstruktur.

    Salah satu aspek yang paling menarik perhatian adalah skema pembagian hasil yang ditawarkan. Dalam sistem Tri Hita, driver mendapatkan porsi hingga 70 persen dari setiap transaksi. Ini menjadi angka yang sangat signifikan, mengingat selama ini banyak driver mengeluhkan tingginya potongan dari platform yang mereka gunakan.

    Bagi desa adat, kehadiran Tri Hita juga membawa dampak ekonomi langsung. Sebanyak 20 persen dari pendapatan dialokasikan untuk desa melalui BUPDA. Ini bukan hanya angka, tetapi bentuk konkret dari upaya memperkuat ekonomi desa secara berkelanjutan.

    Menariknya, dari alokasi tersebut, terdapat distribusi khusus untuk Pecalang sebesar 2 persen dan pengurus komunitas driver sebesar 3 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sistem ini benar-benar mempertimbangkan seluruh elemen yang terlibat, termasuk mereka yang selama ini berada di garis depan dalam menjaga ketertiban.

    Sementara itu, 10 persen sisanya digunakan untuk operasional sistem, yang dibagi antara koperasi Tri Hita dan pihak aplikator. Model ini mencerminkan semangat gotong royong dalam bentuk modern, di mana setiap pihak mendapatkan bagian yang proporsional sesuai kontribusinya.

    Namun Tri Hita tidak hanya bicara soal ekonomi. Aspek keamanan menjadi salah satu prioritas utama dalam pengembangannya. Sistem verifikasi berbasis teknologi diterapkan untuk memastikan bahwa setiap driver yang beroperasi benar-benar terdaftar secara resmi.

    Dengan penggunaan barcode dan pemindaian wajah, identitas driver dapat dipastikan secara real time. Ini menjadi langkah penting untuk menghindari praktik penyalahgunaan identitas yang selama ini sering terjadi.

    Lebih jauh lagi, sistem ini juga mengatur dengan tegas keterlibatan driver dari luar wilayah. Mereka tidak bisa serta merta masuk dan beroperasi tanpa izin. Rekomendasi dari Bendesa Adat menjadi syarat mutlak, sebagai bentuk penghormatan terhadap sistem sosial yang berlaku.

    Ket foto: Driver Tri Hita siap lawan aplikator asing.

    Peran Pecalang dalam sistem ini juga mengalami penguatan. Mereka tidak hanya menjadi simbol keamanan adat, tetapi juga bagian dari sistem pengawasan yang aktif. Dengan dukungan teknologi, Pecalang dapat menjalankan tugasnya dengan lebih efektif.

    Hingga saat ini, respons dari para driver cukup positif. Sekitar 200 driver telah menyatakan kesiapan untuk bergabung dalam sistem ini. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan intensifikasi sosialisasi yang dilakukan.

    PT Sentrik Persada Nusantara sendiri menargetkan bahwa seluruh persiapan teknis dan non-teknis dapat diselesaikan dalam bulan April. Dengan demikian, peluncuran resmi dapat dilakukan pada awal Mei 2026.

    Tidak berhenti di situ, perusahaan juga mulai membangun komunikasi dengan pelaku industri pariwisata. Hotel, restoran, dan vila di kawasan tersebut akan diajak untuk menjadi bagian dari ekosistem Tri Hita.

    Langkah ini dinilai strategis, mengingat sektor pariwisata merupakan pengguna utama layanan transportasi. Dengan keterlibatan mereka, sistem ini diharapkan dapat berjalan lebih optimal dan memberikan manfaat yang lebih luas.

    Dalam konteks yang lebih besar, kehadiran Tri Hita menjadi simbol perubahan paradigma dalam pengelolaan transportasi. Dari yang sebelumnya didominasi oleh sistem kapitalistik global, menuju model yang lebih inklusif dan berbasis komunitas.

    Bali sebagai destinasi wisata dunia memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian budaya. Tri Hita hadir sebagai jawaban atas tantangan tersebut.

    Ia membuktikan bahwa teknologi tidak harus bertentangan dengan tradisi. Justru sebaliknya, teknologi dapat menjadi alat untuk memperkuat nilai-nilai lokal jika dikelola dengan tepat.

    Harapan besar kini disematkan pada proyek ini. Tidak hanya oleh para driver, tetapi juga oleh masyarakat desa adat yang selama ini menginginkan sistem yang lebih adil.

    Jika berhasil, Tri Hita tidak hanya akan mengubah wajah transportasi di Bali, tetapi juga menjadi model bagi daerah lain di Indonesia. Sebuah bukti bahwa inovasi tidak selalu harus datang dari luar, tetapi bisa lahir dari kearifan lokal yang diolah dengan visi yang kuat.

    Di tengah arus perubahan yang begitu cepat, langkah PT Sentrik Persada Nusantara ini menjadi pengingat bahwa masa depan tidak harus meninggalkan akar. Justru dari akar itulah, kekuatan sejati dapat tumbuh.

    Kini, semua pihak menanti realisasi dari gagasan besar ini. Apakah Tri Hita akan benar-benar menjadi revolusi seperti yang diharapkan? Atau justru akan menghadapi tantangan yang lebih kompleks di lapangan? Yang jelas, satu langkah berani telah diambil. Dan dalam dunia yang terus bergerak, keberanian untuk memulai seringkali menjadi kunci dari perubahan besar. tim/jet