Kategori: Otomotif

  • Siap Mengaspal di Delapan Desa Adat, Tri Hita Trans Launching Revolusi Transportasi Berbasis Desa Adat

    Siap Mengaspal di Delapan Desa Adat, Tri Hita Trans Launching Revolusi Transportasi Berbasis Desa Adat

    JeettNews, Badung | Bali kembali bersiap mencatat sejarah baru dalam tata kelola transportasi berbasis kearifan lokal. Di tengah tekanan globalisasi dan dominasi platform transportasi digital berskala internasional, sebuah inisiatif berani lahir dari akar masyarakat sendiri. PT Sentrik Persada Nusantara memastikan bahwa aplikasi transportasi “Tri Hita” siap dilaunching di delapan desa adat sebagai langkah awal membangun sistem transportasi yang tidak hanya modern, tetapi juga berakar kuat pada nilai budaya Bali.

    Langkah ini bukan sekadar peluncuran aplikasi digital biasa. Ia adalah representasi dari perlawanan halus namun terstruktur terhadap sistem ekonomi yang selama ini cenderung tidak berpihak pada masyarakat lokal. Di balik layar, Tri Hita dirancang sebagai ekosistem yang mengintegrasikan teknologi dengan struktur sosial desa adat, menghadirkan pendekatan baru yang mengedepankan keadilan, transparansi, dan keberlanjutan.

    Owner PT Sentrik Persada Nusantara, I Made Sudiana, menjadi sosok sentral di balik gagasan ini. Dengan pengalaman dan pengamatannya terhadap dinamika transportasi di Bali, ia melihat adanya ketimpangan yang cukup mencolok antara potensi ekonomi yang besar dengan distribusi manfaat yang tidak merata.

    Ket foto: Tampilan aplikasi Tri Hita Trans pada layar ponsel pintar sebagai platform transportasi digital yang siap terintegrasi dengan desa adat se-Bali.

    Selama ini, sektor transportasi di Bali, terutama di kawasan wisata seperti Canggu, berkembang sangat pesat. Namun di balik pertumbuhan itu, muncul berbagai persoalan klasik: konflik antar driver, ketidakjelasan wilayah operasi, praktik rebutan penumpang, hingga ketegangan antara transportasi lokal dan platform global. Semua ini menunjukkan bahwa sistem yang ada belum mampu menjawab kompleksitas sosial yang berkembang di lapangan.

    Di sinilah Tri Hita mengambil posisi. Ia tidak datang untuk sekadar bersaing, tetapi menawarkan solusi yang lebih kontekstual. Filosofi Tri Hita Karana yang menjadi dasar aplikasi ini menjadi pembeda utama. Konsep keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan spiritualitas diterjemahkan ke dalam sistem operasional yang melibatkan seluruh elemen masyarakat desa.

    Delapan desa adat yang akan menjadi titik awal peluncuran bukan dipilih secara acak. Kawasan ini merupakan wilayah strategis dengan tingkat aktivitas pariwisata yang tinggi, sekaligus memiliki dinamika transportasi yang kompleks. Desa Adat Canggu ditetapkan sebagai pusat koordinasi, dengan agenda pertemuan besar yang akan digelar pada pertengahan April 2026.

    Pertemuan ini diproyeksikan menjadi titik konsolidasi awal, di mana seluruh pemangku kepentingan akan duduk bersama untuk menyamakan persepsi. Tidak hanya membahas teknis operasional, tetapi juga membangun komitmen bersama agar sistem ini benar-benar berjalan sesuai harapan.

    Ket foto: program Trihita Trans yang membuka pendaftaran mitra driver bagi krama Bali melalui sistem transportasi online berbasis desa adat yang dikembangkan PT Sentrik Persada Nusantara melalui aplikasi Duwen Iraga.

    Tri Hita berdiri di atas empat pilar utama yang menjadi kekuatan sistemnya. Pertama, Desa Adat sebagai otoritas lokal yang memiliki legitimasi sosial dan budaya. Kedua, BUPDA sebagai motor penggerak ekonomi desa. Ketiga, Pecalang sebagai penjaga keamanan dan ketertiban di lapangan. Dan keempat, komunitas driver sebagai aktor utama dalam operasional transportasi.

    Keempat elemen ini dirancang untuk saling terhubung dalam satu sistem yang transparan dan akuntabel. Tidak ada lagi ruang abu-abu yang selama ini sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Semua berjalan dalam mekanisme yang jelas, dengan pembagian peran yang terstruktur.

    Salah satu aspek yang paling menarik perhatian adalah skema pembagian hasil yang ditawarkan. Dalam sistem Tri Hita, driver mendapatkan porsi hingga 70 persen dari setiap transaksi. Ini menjadi angka yang sangat signifikan, mengingat selama ini banyak driver mengeluhkan tingginya potongan dari platform yang mereka gunakan.

    Bagi desa adat, kehadiran Tri Hita juga membawa dampak ekonomi langsung. Sebanyak 20 persen dari pendapatan dialokasikan untuk desa melalui BUPDA. Ini bukan hanya angka, tetapi bentuk konkret dari upaya memperkuat ekonomi desa secara berkelanjutan.

    Menariknya, dari alokasi tersebut, terdapat distribusi khusus untuk Pecalang sebesar 2 persen dan pengurus komunitas driver sebesar 3 persen. Hal ini menunjukkan bahwa sistem ini benar-benar mempertimbangkan seluruh elemen yang terlibat, termasuk mereka yang selama ini berada di garis depan dalam menjaga ketertiban.

    Sementara itu, 10 persen sisanya digunakan untuk operasional sistem, yang dibagi antara koperasi Tri Hita dan pihak aplikator. Model ini mencerminkan semangat gotong royong dalam bentuk modern, di mana setiap pihak mendapatkan bagian yang proporsional sesuai kontribusinya.

    Namun Tri Hita tidak hanya bicara soal ekonomi. Aspek keamanan menjadi salah satu prioritas utama dalam pengembangannya. Sistem verifikasi berbasis teknologi diterapkan untuk memastikan bahwa setiap driver yang beroperasi benar-benar terdaftar secara resmi.

    Dengan penggunaan barcode dan pemindaian wajah, identitas driver dapat dipastikan secara real time. Ini menjadi langkah penting untuk menghindari praktik penyalahgunaan identitas yang selama ini sering terjadi.

    Lebih jauh lagi, sistem ini juga mengatur dengan tegas keterlibatan driver dari luar wilayah. Mereka tidak bisa serta merta masuk dan beroperasi tanpa izin. Rekomendasi dari Bendesa Adat menjadi syarat mutlak, sebagai bentuk penghormatan terhadap sistem sosial yang berlaku.

    Ket foto: Driver Tri Hita siap lawan aplikator asing.

    Peran Pecalang dalam sistem ini juga mengalami penguatan. Mereka tidak hanya menjadi simbol keamanan adat, tetapi juga bagian dari sistem pengawasan yang aktif. Dengan dukungan teknologi, Pecalang dapat menjalankan tugasnya dengan lebih efektif.

    Hingga saat ini, respons dari para driver cukup positif. Sekitar 200 driver telah menyatakan kesiapan untuk bergabung dalam sistem ini. Angka ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan intensifikasi sosialisasi yang dilakukan.

    PT Sentrik Persada Nusantara sendiri menargetkan bahwa seluruh persiapan teknis dan non-teknis dapat diselesaikan dalam bulan April. Dengan demikian, peluncuran resmi dapat dilakukan pada awal Mei 2026.

    Tidak berhenti di situ, perusahaan juga mulai membangun komunikasi dengan pelaku industri pariwisata. Hotel, restoran, dan vila di kawasan tersebut akan diajak untuk menjadi bagian dari ekosistem Tri Hita.

    Langkah ini dinilai strategis, mengingat sektor pariwisata merupakan pengguna utama layanan transportasi. Dengan keterlibatan mereka, sistem ini diharapkan dapat berjalan lebih optimal dan memberikan manfaat yang lebih luas.

    Dalam konteks yang lebih besar, kehadiran Tri Hita menjadi simbol perubahan paradigma dalam pengelolaan transportasi. Dari yang sebelumnya didominasi oleh sistem kapitalistik global, menuju model yang lebih inklusif dan berbasis komunitas.

    Bali sebagai destinasi wisata dunia memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian budaya. Tri Hita hadir sebagai jawaban atas tantangan tersebut.

    Ia membuktikan bahwa teknologi tidak harus bertentangan dengan tradisi. Justru sebaliknya, teknologi dapat menjadi alat untuk memperkuat nilai-nilai lokal jika dikelola dengan tepat.

    Harapan besar kini disematkan pada proyek ini. Tidak hanya oleh para driver, tetapi juga oleh masyarakat desa adat yang selama ini menginginkan sistem yang lebih adil.

    Jika berhasil, Tri Hita tidak hanya akan mengubah wajah transportasi di Bali, tetapi juga menjadi model bagi daerah lain di Indonesia. Sebuah bukti bahwa inovasi tidak selalu harus datang dari luar, tetapi bisa lahir dari kearifan lokal yang diolah dengan visi yang kuat.

    Di tengah arus perubahan yang begitu cepat, langkah PT Sentrik Persada Nusantara ini menjadi pengingat bahwa masa depan tidak harus meninggalkan akar. Justru dari akar itulah, kekuatan sejati dapat tumbuh.

    Kini, semua pihak menanti realisasi dari gagasan besar ini. Apakah Tri Hita akan benar-benar menjadi revolusi seperti yang diharapkan? Atau justru akan menghadapi tantangan yang lebih kompleks di lapangan? Yang jelas, satu langkah berani telah diambil. Dan dalam dunia yang terus bergerak, keberanian untuk memulai seringkali menjadi kunci dari perubahan besar. tim/jet

  • “Sing Main-Main”, Trihita Trans Buka Pendaftaran Mitra Driver, Caranya Mudah dan Terintegrasi Desa Adat di Bali

    “Sing Main-Main”, Trihita Trans Buka Pendaftaran Mitra Driver, Caranya Mudah dan Terintegrasi Desa Adat di Bali

    JeettNews, Denpasar | Kesempatan emas bagi krama Bali untuk menjadi bagian dari ekosistem transportasi digital kini terbuka semakin lebar. Trihita Trans, layanan angkutan online berbasis desa adat yang dikembangkan PT Sentrik Persada Nusantara, resmi membuka pendaftaran mitra driver bagi masyarakat Bali. Program ini tidak sekadar menghadirkan platform transportasi modern, tetapi juga membawa misi besar: membangkitkan kemandirian ekonomi krama Bali di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital.

    Berbeda dengan sistem transportasi online pada umumnya, Trihita Trans dibangun dengan konsep yang sangat khas Bali. Sistem ini mengintegrasikan teknologi digital dengan kekuatan kelembagaan desa adat, sehingga manfaat ekonomi dari aktivitas transportasi tidak hanya dinikmati oleh perusahaan penyedia aplikasi, tetapi juga oleh masyarakat lokal dan desa adat.

    General Manager PT Sentrik Persada Nusantara, Kadek Pande Yulia Sanjaya, menegaskan bahwa kehadiran Trihita Trans bukan sekadar menghadirkan alternatif layanan transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kedaulatan ekonomi masyarakat Bali di era digital.

    Menurutnya, selama ini perkembangan platform digital memang menciptakan banyak peluang kerja baru, namun tidak sedikit pula manfaat ekonominya justru mengalir keluar daerah. Karena itu, Trihita Trans hadir dengan pendekatan yang berbeda, yakni menjadikan masyarakat Bali sebagai aktor utama dalam ekosistem transportasi digital.

    “Trihita Trans ini bukan sekadar aplikasi transportasi. Ini adalah sistem yang kami bangun agar krama Bali bisa menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri dalam ekonomi digital,” ujar Pande Yulia Sanjaya.

    Ia menegaskan bahwa Trihita Trans dikembangkan dengan filosofi Tri Hita Karana, yakni menjaga keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, serta manusia dengan alam. Filosofi ini menjadi dasar dalam membangun sistem transportasi yang tidak hanya modern, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai budaya Bali.

    Melalui pendekatan tersebut, Trihita Trans berupaya menghadirkan model transportasi digital yang lebih berkeadilan dan berpihak kepada masyarakat lokal.

    Dalam sistem yang dibangun, desa adat menjadi salah satu pilar utama dalam pengelolaan mitra driver. Desa adat yang telah memiliki badan usaha milik desa adat (BUPDA) atau koperasi dapat menjadi lembaga yang mengoordinasikan pendaftaran serta pembinaan driver di wilayah masing-masing.

    Dengan model ini, desa adat tidak hanya berfungsi sebagai lembaga budaya, tetapi juga sebagai pusat penggerak ekonomi masyarakat.

    Pande Yulia Sanjaya menjelaskan bahwa program kemitraan driver ini terbuka bagi masyarakat Bali yang ingin bekerja di sektor transportasi digital. Proses pendaftaran dirancang sederhana agar mudah diakses oleh masyarakat.

    Calon mitra driver dapat langsung mendaftar melalui desa adat masing-masing, khususnya bagi desa adat yang telah memiliki BUPDA atau koperasi yang bekerja sama dengan sistem Trihita Trans.

    Langkah pertama yang harus dilakukan calon driver adalah mendatangi pengurus desa adat atau pengelola BUPDA maupun koperasi desa adat yang telah menjadi mitra program Trihita Trans.

    Di tempat tersebut, calon driver akan mendapatkan penjelasan lengkap mengenai sistem kerja platform, mekanisme operasional aplikasi, serta pembagian pendapatan dalam sistem kemitraan ini.

    Setelah mendapatkan penjelasan tersebut, calon driver dapat mengisi formulir pendaftaran yang telah disediakan oleh pengurus desa adat atau pengelola koperasi.

    Selain mengisi formulir, calon driver juga diwajibkan melengkapi sejumlah dokumen administrasi sebagai syarat untuk bergabung. Beberapa syarat utama yang harus dipenuhi antara lain merupakan krama Bali yang mencintai adat dan budaya Bali.

    Selain itu, calon driver wajib memiliki KTP Bali sebagai bukti identitas dan domisili. Persyaratan berikutnya adalah memiliki Surat Izin Mengemudi yang masih berlaku. Bagi calon driver mobil diwajibkan memiliki SIM A, sedangkan bagi calon driver sepeda motor harus memiliki SIM C.

    Trihita Trans juga menetapkan batas usia bagi calon mitra driver, yakni antara 20 hingga 60 tahun. Rentang usia ini dianggap sebagai usia produktif yang masih mampu menjalankan aktivitas transportasi dengan baik.

    Setelah dokumen diserahkan, pengurus desa adat atau pengelola koperasi akan melakukan proses verifikasi terhadap data calon driver. Verifikasi ini dilakukan untuk memastikan bahwa calon driver benar-benar memenuhi persyaratan serta merupakan bagian dari komunitas desa adat.

    Jika seluruh dokumen dinyatakan lengkap, calon driver akan mendapatkan akses untuk mengunduh aplikasi yang digunakan dalam sistem Trihita Trans. Aplikasi tersebut bernama Duwen Iraga, sebuah platform digital yang menjadi pusat operasional layanan transportasi Trihita Trans.

    Melalui aplikasi ini, driver dapat menerima pesanan transportasi, melihat lokasi penumpang, menentukan rute perjalanan, serta mencatat seluruh aktivitas layanan secara digital.

    Sementara bagi pengguna layanan, aplikasi Duwen Iraga memungkinkan masyarakat memesan transportasi dengan mudah melalui telepon genggam. Dengan sistem ini, penumpang dapat terhubung langsung dengan driver yang berada di lokasi terdekat sehingga layanan transportasi menjadi lebih cepat dan efisien.

    Sebelum mulai beroperasi, mitra driver yang telah lolos proses verifikasi juga akan mengikuti pelatihan singkat mengenai penggunaan aplikasi serta standar pelayanan kepada penumpang.

    Pelatihan ini penting untuk memastikan bahwa seluruh driver yang bergabung mampu memberikan pelayanan yang profesional dan berkualitas. Selain itu, driver juga diberikan pemahaman mengenai etika pelayanan yang mencerminkan karakter masyarakat Bali yang ramah, santun, dan menghormati budaya lokal.

    Trihita Trans ingin memastikan bahwa setiap driver tidak hanya menjadi pengemudi transportasi, tetapi juga menjadi duta keramahan Bali di ruang publik. Dengan demikian, layanan transportasi yang diberikan tidak hanya mengedepankan kecepatan dan efisiensi, tetapi juga memberikan pengalaman yang nyaman bagi penumpang.

    Pande Yulia Sanjaya menegaskan bahwa tujuan utama dari program ini adalah meningkatkan kesejahteraan driver sekaligus memperkuat ekonomi desa adat.

    Dalam sistem yang dibangun, sebagian dari aktivitas ekonomi yang terjadi melalui platform Trihita Trans akan memberikan kontribusi kepada desa adat melalui BUPDA atau koperasi desa adat. Kontribusi tersebut dapat digunakan untuk berbagai kegiatan sosial, adat, maupun pengembangan ekonomi masyarakat di desa adat.

    Dengan model ini, desa adat tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan ekonomi digital, tetapi justru menjadi aktor utama dalam pengelolaannya. Konsep ini juga diharapkan mampu menciptakan ekosistem transportasi digital yang lebih berkelanjutan di Bali.

    Menurut Pande Yulia Sanjaya, Bali membutuhkan model ekonomi digital yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata, tetapi juga memperkuat struktur sosial masyarakat. Karena itu, Trihita Trans berupaya membangun sistem transportasi yang tidak hanya modern, tetapi juga berakar pada nilai-nilai budaya Bali.

    Selain membuka peluang kerja bagi masyarakat Bali, Trihita Trans juga diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi sektor pariwisata. Transportasi yang tertib, ramah, dan berbasis budaya lokal diyakini akan memberikan pengalaman yang lebih baik bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali.

    Dalam jangka panjang, program ini juga diharapkan mampu menciptakan ekosistem transportasi yang lebih tertata dan berkelanjutan. PT Sentrik Persada Nusantara sendiri menargetkan agar jaringan Trihita Trans dapat berkembang di berbagai wilayah Bali dengan melibatkan semakin banyak desa adat.

    Desa adat yang belum memiliki BUPDA atau koperasi juga didorong untuk membentuk lembaga ekonomi desa agar dapat ikut bergabung dalam ekosistem transportasi digital ini. Dengan semakin luasnya jaringan desa adat yang terlibat, Trihita Trans diharapkan dapat menjadi model transportasi digital berbasis kearifan lokal yang pertama di Indonesia.

    Pande Yulia Sanjaya juga mengajak krama Bali untuk memanfaatkan peluang ini sebagai bagian dari kebangkitan ekonomi masyarakat lokal di era digital. “Sing main-main. Ini peluang nyata bagi krama Bali untuk ikut menjadi bagian dari ekonomi digital sekaligus memperkuat desa adat,” tegasnya. Melalui semangat kebersamaan dan dukungan masyarakat Bali, Trihita Trans diharapkan dapat menjadi simbol kebangkitan driver lokal dalam menghadapi persaingan di era transportasi digital. hit/aka/jet

  • Geger! Isu GSM dan Tri Hita Trans Satu Kendali Dibantah Keras, Ini Fakta Sebenarnya

    Geger! Isu GSM dan Tri Hita Trans Satu Kendali Dibantah Keras, Ini Fakta Sebenarnya

    JeettNews, Denpasar | Klarifikasi resmi akhirnya disampaikan manajemen terkait simpang siur informasi yang berkembang di masyarakat soal operasional armada transportasi yang beredar belakangan ini. General Manager PT Sentrik Persada Nusantara, Pande Yuliasanjaya, menegaskan bahwa Taksi GSM (Green and Smart Mobility) tidak memiliki hubungan kepemilikan maupun manajemen dengan Tri Hita Trans. Penegasan ini disampaikan untuk mengakhiri berbagai spekulasi yang menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat, terutama pengguna jasa transportasi, mitra bisnis, hingga pemangku kebijakan di daerah.

    Pande menjelaskan, Taksi GSM dan Tri Hita Trans merupakan dua entitas bisnis yang berdiri sendiri dengan struktur kepemilikan, model pengelolaan, dan arah pengembangan yang berbeda. Tidak ada keterkaitan korporasi, tidak ada integrasi manajemen, dan tidak ada hubungan operasional di antara keduanya. “Kami merasa perlu meluruskan informasi ini agar tidak terjadi tumpang tindih persepsi di masyarakat. Tri Hita Trans tetap fokus pada lini bisnisnya sendiri, sementara Taksi GSM beroperasi secara mandiri,” tegasnya saat dihubungi, Senin (23/2/2029).

    Penegasan ini penting karena dalam beberapa waktu terakhir beredar anggapan bahwa kedua layanan tersebut saling terhubung, bahkan dianggap berada dalam satu payung usaha. Padahal, menurut Pande, kesalahpahaman semacam ini berpotensi menimbulkan kekeliruan administratif, salah alamat dalam komunikasi bisnis, hingga dampak operasional di lapangan. Masyarakat, kata dia, harus lebih teliti dalam mengenali atribut perusahaan, logo, hingga identitas aplikasi agar tidak terjadi kekeliruan dalam melakukan pemesanan maupun transaksi.

    Founder PT Sentrik Persada Nusantara I Made Sudiana, S.H., M.Si. bersama tim VinFast saat audiensi dengan Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali I Kadek Mudarta, S.T., M.A.B., di Kantor Dishub Bali, Kamis (19/2/2026), membahas pematangan implementasi Tri Hita Trans berbasis desa adat. (foto: ama)

    Secara struktural, Taksi GSM merupakan bagian dari ekspansi global Green and Smart Mobility yang didirikan oleh Pham Nhat Vuong melalui Vingroup di Vietnam. GSM dikenal sebagai perusahaan taksi listrik pertama yang beroperasi secara penuh dengan armada kendaraan listrik di Indonesia dan Asia Tenggara sejak akhir 2024. Menggunakan mobil listrik VinFast, GSM hadir membawa misi transportasi ramah lingkungan dengan standar layanan modern dan sistem digital yang terintegrasi.

    Di Indonesia, GSM memulai operasionalnya di Jakarta dan kemudian merambah Bekasi. Seluruh armada yang digunakan berbasis kendaraan listrik 100 persen, dengan tarif yang kompetitif. Untuk kilometer pertama, tarif dipatok sekitar Rp9.600 dan Rp5.800 per kilometer berikutnya. Layanan dapat diakses melalui aplikasi, call center 14068, maupun dihentikan langsung di jalan. Ciri khasnya adalah warna hijau cerah yang menjadi identitas kuat di jalanan ibu kota.

    GSM mengusung konsep “5 Goods”: good car, good driver, good price, good experience, dan good for environment. Artinya, perusahaan ini menekankan kualitas kendaraan, profesionalitas pengemudi, harga yang terjangkau, pengalaman pengguna yang nyaman, serta komitmen terhadap lingkungan. Secara korporasi, GSM merupakan bagian dari ekosistem kendaraan listrik Vingroup yang sedang agresif memperluas pengaruhnya di Asia Tenggara sebagai bagian dari transisi energi bersih.

    Di sisi lain, Tri Hita Trans memiliki karakter dan filosofi yang sangat berbeda. Layanan ini lahir dari konteks lokal Bali, berakar pada nilai kearifan lokal Tri Hita Karana yang menekankan harmoni antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam. Tri Hita Trans dirancang sebagai aplikasi transportasi digital berbasis desa adat yang menempatkan desa sebagai subjek pengelola, bukan sekadar objek pasar.

    Komunitas sopir di Canggu menyatakan sikap bergabung dalam ekosistem Tri Hita Trans. (foto: tra)

    Menurut Pande, Tri Hita Trans berfokus pada pemberdayaan sopir lokal dan penguatan ekonomi desa adat. Modelnya dirancang agar keuntungan dan nilai tambah ekonomi dapat kembali ke komunitas melalui skema koperasi atau pengelolaan berbasis desa. “Kami di Tri Hita Trans sudah dipastikan membangun ekonomi desa adat dengan melibatkan para driver transport lokal,” ujarnya.

    Konsep ini muncul dari dinamika panjang transportasi di Bali yang kerap diwarnai gesekan antara sopir lokal dan transportasi daring dari luar daerah. Dengan pendekatan berbasis desa adat, Tri Hita Trans mencoba meredam potensi konflik sosial, menciptakan rasa keadilan, dan memastikan bahwa transformasi digital tidak meminggirkan masyarakat lokal. Kendaraan listrik juga menjadi prioritas sebagai bagian dari komitmen mendukung pariwisata hijau Bali.

    Tri Hita Trans bukan sekadar aplikasi transportasi. Ia dirancang sebagai ekosistem digital yang ke depan dapat terintegrasi dengan berbagai sektor ekonomi desa, mulai dari UMKM, pariwisata berbasis komunitas, hingga layanan pendukung lainnya. Dukungan terhadap inisiatif ini datang dari berbagai pihak di Bali, termasuk instansi pemerintah dan lembaga adat yang melihatnya sebagai model percontohan penguatan ekonomi berbasis kearifan lokal.

    Perbedaan mendasar inilah yang menurut Pande harus dipahami secara utuh oleh masyarakat. GSM adalah perusahaan multinasional dengan model bisnis korporasi global yang berfokus pada transportasi listrik modern di kota-kota besar. Sementara Tri Hita Trans adalah inisiatif lokal berbasis nilai budaya Bali yang menekankan pemberdayaan desa adat dan keseimbangan sosial-ekologis.

    Founder PT Sentrik Persada Nusantara I Made Sudiana saat menyampaikan komitmen penguatan ekonomi transportasi berbasis desa adat melalui aplikasi Tri Hita Trans di Badung, Sabtu (21/2/2026). (foto: tra)

    Dalam konteks operasional, seluruh standar pelayanan, tarif, kebijakan promosi, hingga sistem manajemen pengemudi Taksi GSM berada sepenuhnya di bawah kendali manajemen GSM. Tidak ada campur tangan, koordinasi, maupun kebijakan bersama dengan Tri Hita Trans. Begitu pula sebaliknya, kebijakan Tri Hita Trans sepenuhnya ditentukan oleh pengelola internalnya dan mitra desa adat yang terlibat.

    Klarifikasi ini juga menjadi penting di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap transportasi berbasis listrik. Bali sebagai destinasi pariwisata internasional sedang bergerak menuju model pariwisata berkelanjutan, dengan pembatasan kendaraan berbahan bakar fosil dan dorongan penggunaan kendaraan listrik. Dalam lanskap ini, munculnya berbagai layanan transportasi berbasis listrik kerap menimbulkan asumsi bahwa semuanya berada dalam satu jaringan.

    Padahal, kata Pande, keberagaman model bisnis adalah bagian dari dinamika ekonomi modern. Tidak semua layanan berbasis listrik otomatis berada dalam satu grup usaha. Justru, persaingan yang sehat dan kejelasan identitas perusahaan akan menciptakan iklim usaha yang transparan dan profesional.

    Ia mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Setiap perusahaan memiliki kanal komunikasi resmi yang dapat diakses publik. Jika ada keraguan terkait layanan, masyarakat dapat menghubungi kontak resmi masing-masing perusahaan agar tidak terjadi kesalahan persepsi.

    Aplikasi Tri Hita sebagai platform transportasi hijau berbasis desa adat yang terintegrasi dengan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dan Pelindo Benoa. (foto: ist)

    Klarifikasi ini juga sekaligus menjadi penegasan bahwa transformasi transportasi di Indonesia, khususnya di Bali dan Jakarta, berjalan dalam berbagai jalur. Ada jalur korporasi global seperti GSM yang membawa investasi dan teknologi dari luar negeri, dan ada jalur berbasis komunitas seperti Tri Hita Trans yang tumbuh dari kebutuhan sosial dan budaya lokal.

    Keduanya memiliki ruang masing-masing dan tidak perlu dipertentangkan. Namun, kejelasan identitas tetap menjadi hal yang krusial agar publik tidak salah memahami struktur kepemilikan, tanggung jawab layanan, maupun arah kebijakan operasional.

    Pande menegaskan kembali bahwa pihaknya terbuka terhadap komunikasi dan siap memberikan penjelasan apabila dibutuhkan. “Yang terpenting adalah masyarakat mendapatkan informasi yang benar dan tidak terjadi kekeliruan di lapangan,” ujarnya.

    Dengan pernyataan resmi ini, diharapkan tidak ada lagi anggapan bahwa Taksi GSM dan Tri Hita Trans berada dalam satu payung manajemen. Keduanya berdiri sendiri, berjalan dengan visi dan strategi masing-masing, serta memiliki tanggung jawab terpisah terhadap pengguna jasa. aka/jet

  • GSM di Bali Memanas, Pakar Transportasi Minta Kebijakan Taksi Listrik Dikaji Ulang Sesuai Realitas Lapangan

    GSM di Bali Memanas, Pakar Transportasi Minta Kebijakan Taksi Listrik Dikaji Ulang Sesuai Realitas Lapangan

    JeettNews, Denpasar | Polemik isu taksi listrik di Bali belum sepenuhnya reda. Setelah Pemerintah Provinsi Bali melalui Kepala Dinas Perhubungan menegaskan bahwa kabar penambahan ribuan armada baru adalah hoaks dan kuota tetap 3.500 unit, kini muncul suara kritis yang meminta agar kebijakan elektrifikasi tersebut dikaji lebih dalam. Evaluasi dianggap penting agar implementasinya benar-benar selaras dengan kondisi riil di lapangan dan tidak sekadar menjadi agenda administratif.

    Sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Bali, I Kadek Mudarta, menegaskan bahwa tidak ada penambahan kuota taksi di luar angka 3.500 unit sesuai hasil kajian tahun 2015. Ia menyatakan bahwa yang dilakukan pemerintah adalah percepatan elektrifikasi armada dalam rangka Rencana Aksi Daerah Percepatan Penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) 2022–2026, merujuk pada Pergub Bali Nomor 48 Tahun 2019.

    Mudarta juga menjelaskan bahwa mulai 1 Januari 2026, seluruh peremajaan armada taksi di Bali wajib menggunakan kendaraan listrik berbasis baterai. Ketentuan tersebut tertuang dalam Surat Dinas Perhubungan Provinsi Bali Nomor: B.16.000/2162/AKT.JALAN/DISHUB. Ia menegaskan bahwa elektrifikasi adalah proses penggantian kendaraan lama berbahan bakar minyak menjadi kendaraan listrik, bukan penambahan jumlah unit baru di jalan.

    “Kuota tetap 3.500 unit. Tidak pernah ada kuota tambahan. Pemerintah memastikan penyelenggaraan angkutan taksi berjalan tertib, terukur, dan tetap berpihak pada kepentingan serta pemberdayaan tenaga kerja masyarakat lokal Bali,” tegasnya di Rumah Jabatan Gubernur Bali, pada Senin malam (23/2/2026).

    Namun di tengah penegasan tersebut, pakar angkutan dan transportasi lulusan ITB, I Putu Putra Jaya Wardana, menilai kebijakan ini tetap perlu dikaji lebih komprehensif. Ia mengingatkan bahwa implementasi di lapangan sering kali berbeda dengan konstruksi kebijakan di atas kertas.

    Menurut Wardana, Bali memiliki karakteristik berbeda dibanding kota metropolitan seperti Jakarta. Pola perjalanan, kepadatan, infrastruktur pengisian daya, hingga struktur pelaku transportasi di Bali memiliki dinamika tersendiri yang tidak bisa disamakan begitu saja.

    Ia mencontohkan bahwa di Jakarta, banyak armada listrik yang beroperasi merupakan bagian dari kerja sama besar yang melibatkan perusahaan luar dengan dukungan pemerintah daerah. “Sama seperti di Jakarta. Itu banyak yang punya luar. Sepertinya kerja sama dengan Pemprov DKI,” ujarnya.

    Pernyataan tersebut menjadi sorotan. Wardana mengisyaratkan bahwa jika model kerja sama serupa diterapkan di Bali tanpa pengaturan ketat, maka potensi dominasi korporasi besar dari luar daerah bisa saja terjadi. Ia menekankan bahwa meski kuota tidak bertambah, struktur kepemilikan armada tetap harus diawasi.

    Menurutnya, yang harus dikaji bukan hanya jumlah unit, tetapi juga siapa pemiliknya, bagaimana pola kemitraannya, dan bagaimana dampaknya terhadap sopir lokal. Ia menilai, elektrifikasi memang penting dalam konteks transisi energi bersih, namun kebijakan itu tidak boleh mengabaikan aspek sosial dan ekonomi masyarakat setempat.

    Wardana juga menyoroti kesiapan infrastruktur. Ia mempertanyakan apakah stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di Bali sudah memadai untuk mendukung kewajiban penuh pada 2026. Jika tidak disiapkan dengan matang, kewajiban tersebut bisa menimbulkan biaya tambahan yang membebani perusahaan maupun koperasi kecil.

    Lebih jauh, ia menyarankan agar Pemprov Bali membuka forum dialog yang melibatkan sopir, koperasi, akademisi, dan pelaku industri untuk memastikan kebijakan berjalan adaptif. Kajian ulang diperlukan agar tidak terjadi kesenjangan antara visi besar pariwisata hijau dengan realitas operasional di jalanan.

    Wardana menegaskan bahwa pengalaman Jakarta tidak bisa disalin mentah-mentah. Struktur pasar transportasi Jakarta berbeda, skala ekonominya lebih besar, dan dukungan fiskalnya pun lebih kuat. Bali memiliki ketergantungan tinggi pada pariwisata, sehingga fluktuasi kunjungan wisatawan sangat memengaruhi tingkat okupansi armada.

    Dalam konteks ini, ia menilai kehati-hatian menjadi kunci. Elektrifikasi tetap harus didorong, tetapi melalui tahapan realistis dan berbasis data terbaru. Kajian tahun 2015 yang menetapkan kuota 3.500 unit, menurutnya, juga perlu dievaluasi kembali melihat perubahan pola wisata dan mobilitas pascapandemi.

    Di sisi lain, Pemprov Bali tetap menegaskan bahwa arah kebijakan transportasi adalah menuju Bali hijau dan berkelanjutan. Elektrifikasi dinilai sebagai keniscayaan global, namun pemerintah berjanji menjaga keseimbangan antara investasi, lingkungan, dan perlindungan tenaga kerja lokal.

    Perdebatan ini menunjukkan bahwa isu transportasi Bali kini bukan sekadar soal jumlah kendaraan, tetapi juga soal siapa yang mengendalikan sistemnya, bagaimana desa adat dilibatkan, dan sejauh mana masyarakat lokal menjadi aktor utama.

    Sebelum Gubernur Bali, Wayan Koster juga memberikan arahan strategis terkait penguatan transportasi berbasis kearifan lokal, wacana kerja sama dengan desa adat sebenarnya telah mencuat dalam berbagai forum. Konsep Tri Hita Trans disebut-sebut sebagai model transportasi yang terintegrasi dengan filosofi Tri Hita Karana, mengedepankan harmoni antara manusia, lingkungan, dan spiritualitas. Skema ini digadang-gadang menjadi jawaban atas ketegangan antara modernisasi transportasi dan perlindungan ekonomi masyarakat adat.

    Beberapa kalangan menyebut kerja sama dengan desa adat melalui Tri Hita Trans sebagai langkah afirmatif untuk memastikan masyarakat lokal tidak tersingkir oleh arus investasi besar. Melalui pola tersebut, desa adat dapat berperan sebagai mitra strategis dalam pengelolaan dan pengawasan operasional transportasi, termasuk dalam konteks transisi kendaraan listrik. aka/jet

  • Pemkot Denpasar Tancap Gas, 39 Bendesa Adat Kini Mengaspal dengan Motor Listrik MAKA, Kabupaten Lain Masih Sibuk Wacana?

    Pemkot Denpasar Tancap Gas, 39 Bendesa Adat Kini Mengaspal dengan Motor Listrik MAKA, Kabupaten Lain Masih Sibuk Wacana?

    JeettNews, Denpasar | Bali terlalu sering memproduksi slogan tentang lingkungan. Bali bersih. Bali hijau. Energi bersih. Pariwisata berkelanjutan. Namun publik kian cerdas. Mereka tidak lagi terpesona oleh kata-kata. Mereka menunggu tindakan.

    Di tengah riuhnya jargon transisi energi yang kerap berakhir sebagai omon-omon, Pemerintah Kota Denpasar justru memilih jalur berbeda. Tanpa banyak retorika, tanpa teatrikal berlebihan, Denpasar mengguyur 39 unit sepeda motor listrik kepada Jero Bendesa di seluruh desa adat se-Kota Denpasar. Sebuah langkah konkret yang langsung menyentuh simpul paling strategis dalam struktur sosial Bali: desa adat.

    Momentum itu terjadi dalam Paruman Bandesa Adat Sekota Denpasar Warsa 2025 yang digelar pada Redite Paing Pahang, Minggu, 21 Desember 2025 di Desa Adat Sesetan, Denpasar Selatan. Di forum adat tersebut, Wakil Wali Kota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, menyerahkan secara simbolis kunci 39 unit motor listrik kepada para Jero Bendesa.

    Penyerahan itu bukan seremoni biasa. Ia sarat makna. Desa adat bukan lagi sekadar penerima program, tetapi dijadikan subjek transformasi lingkungan. Ketika kendaraan operasional pemimpin adat beralih ke listrik, pesan yang disampaikan jauh melampaui soal transportasi. Ini tentang arah kebijakan.

    Motor listrik yang digunakan adalah MAKA Cavalry, didistribusikan melalui PT Sentrik Persada Nusantara. General Manager perusahaan tersebut, Pande Yuliasanjaya, menegaskan bahwa langkah ini dirancang untuk menjawab kebutuhan riil mobilitas desa adat yang semakin dinamis.

    Jero Bendesa bukan pejabat simbolik. Mobilitasnya tinggi. Ia harus hadir dalam upacara, memimpin paruman, menyelesaikan konflik sosial, hingga koordinasi lintas banjar. Kendaraan operasional bukan aksesori, melainkan alat kerja. Karena itu, spesifikasi menjadi krusial.

    MAKA Cavalry dibekali motor penggerak hub-drive 4 kW dengan peak power hingga 7 kW dan kecepatan maksimal 105 km/jam. Akselerasi 0–60 km/jam hanya 4,8 detik. Untuk konteks mobilitas dalam kota dan antarwilayah desa adat, performa ini lebih dari cukup. Bahkan responsif ketika dinamika sosial menuntut gerak cepat.

    Dengan baterai lithium ferro phosphate 4 kWh, motor ini mampu menempuh jarak hingga 160 km dalam sekali pengisian daya. Artinya, aktivitas operasional seharian bisa dijalankan tanpa kekhawatiran kehabisan daya. Pengisian pun fleksibel, dari 8,5 jam dengan charger standar hingga sekitar 1,5 jam menggunakan fast charger.

    Di Bali yang tak lepas dari hujan lebat dan genangan musiman, sertifikasi IP67 pada baterai dan dinamo menjadi penting. Tahan debu dan mampu bertahan dalam genangan hingga 60 cm selama 30 menit. Ini bukan fitur kosmetik, tetapi kebutuhan nyata.

    Bagasinya 26 liter, cukup untuk helm full-face, dokumen dinas, hingga perlengkapan adat kecil. Display digital, mode HI REGEN dan HI TORQUE, sistem pengereman double disc brake, hingga dual USB port menunjukkan bahwa modernitas tidak harus bertabrakan dengan tradisi.

    Justru di sinilah pesan terbesarnya. Adat tidak anti-teknologi. Tradisi tidak alergi modernisasi. Ketika energi bersih masuk ke ruang-ruang adat, yang terjadi bukan degradasi budaya, melainkan penguatan peran desa adat sebagai pelopor perubahan.

    Denpasar telah memberi contoh. Energi bersih tidak lagi berhenti di baliho atau forum diskusi. Ia hadir dalam keputusan anggaran dan kebijakan nyata. Ia mengaspal di jalanan kota, dikendarai para Jero Bendesa yang setiap hari bersentuhan langsung dengan masyarakat.

    Kini pertanyaannya sederhana namun tajam: apakah kabupaten lain di Bali berani mengikuti? Atau tetap nyaman dalam zona retorika? Transisi energi bukan soal citra. Ia soal keberanian. Dan untuk saat ini, Denpasar telah menunjukkan siapa yang benar-benar bergerak. aka/jet

  • Dari Macet Kota Denpasar Hingga Lereng Gunung Agung, All New Honda Vario 125 Gaspol Tanpa Drama

    Dari Macet Kota Denpasar Hingga Lereng Gunung Agung, All New Honda Vario 125 Gaspol Tanpa Drama

    JeettNews, Denpasar | Rabu, 21 Januari 2026, menjadi hari yang cukup ideal untuk membuktikan kemampuan sebuah sepeda motor harian. Cuaca Bali yang cenderung berubah cepat, lalu lintas kota yang padat, hingga kontur jalan menanjak di wilayah Karangasem menjadi paket lengkap sebuah perjalanan uji nyata. Dari Denpasar menuju Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, All New Honda Vario 125 diuji langsung di jalur sebenarnya, bukan di lintasan buatan.

    Perjalanan ini dikendarai oleh Gede Dogler, konsumen setia sepeda motor Honda yang sehari hari mengandalkan Vario sebagai kendaraan utama. Bagi Gede Dogler, sepeda motor bukan sekadar alat transportasi, tetapi bagian dari rutinitas dan mobilitas hidup. Karena itu, perjalanan lintas kabupaten ini menjadi pengalaman personal sekaligus pembuktian apakah All New Honda Vario 125 benar benar mampu menjawab kebutuhan pengendara Bali yang dinamis.

    Rute yang ditempuh adalah Denpasar menuju Klungkung, dilanjutkan ke Sidemen, Rendang, dan berakhir di Desa Nongan. Jarak tempuh berkisar 60 hingga 70 kilometer dengan karakter jalan yang beragam. Dari kemacetan kota, jalan nasional yang relatif cepat, hingga tanjakan dan tikungan di kaki Gunung Agung. Sejak awal perjalanan, Vario 125 sudah dihadapkan pada tantangan khas Denpasar, lalu lintas padat dengan pola berhenti dan berjalan yang konstan.

    Di kondisi ini, All New Honda Vario 125 langsung menunjukkan keunggulan pertamanya. Tarikan awal terasa ringan dan responsif, membuat motor mudah bergerak meski hanya membuka gas sedikit. Mesin 125 cc berteknologi eSP bekerja halus tanpa getaran berlebih. Posisi duduk yang ergonomis membuat pengendara tetap rileks meski harus beberapa kali berhenti di lampu lalu lintas. Bagi Gede Dogler, kenyamanan ini penting karena menentukan stamina selama perjalanan panjang.

    Keluar dari Denpasar, lalu lintas mulai lengang dan kecepatan bisa dijaga lebih stabil. Di sinilah karakter sporti All New Honda Vario 125 semakin terasa. Akselerasi cukup sigap untuk mendahului kendaraan lain dengan aman. Mesin tidak terasa tertahan, namun juga tidak memaksa. Tarikan kencang hadir dengan cara yang halus dan nyaman, membuat perjalanan jarak menengah terasa ringan.

    Salah satu poin yang paling dirasakan selama perjalanan adalah efisiensi bahan bakar. Dengan kapasitas tangki sekitar 5,5 liter, Vario 125 memberi rasa aman tanpa harus sering memikirkan pengisian ulang. Di rute Denpasar hingga Karangasem yang memadukan jalan datar dan tanjakan, konsumsi bahan bakar tetap terjaga. Bagi konsumen setia seperti Gede Dogler, keiritan ini menjadi nilai utama karena berdampak langsung pada biaya harian.

    Memasuki wilayah Klungkung menuju Sidemen, karakter jalan mulai berubah. Aspal tidak selalu mulus, tanjakan mulai terasa, dan tikungan menuntut fokus lebih. Di sinilah suspensi All New Honda Vario 125 bekerja optimal. Setelannya terasa empuk namun tetap stabil. Getaran dari jalan terserap dengan baik, membuat pengendara tidak cepat lelah. Motor tetap terasa mantap meski melewati permukaan jalan yang kurang rata.

    Keindahan alam Sidemen yang hijau menjadi latar perjalanan. Namun, seperti yang sering terjadi di kawasan ini, hujan turun tanpa banyak tanda. Jalan menjadi basah dan licin, genangan air mulai muncul di beberapa titik. Kondisi ini kerap menjadi kekhawatiran pengendara, terutama saat melintasi daerah perbukitan. Namun All New Honda Vario 125 justru menunjukkan kepercayaan dirinya.

    Ground clearance yang cukup dan bodi yang relatif tinggi membuat motor aman melintasi genangan. Mesin tetap bekerja normal tanpa gejala terganggu. Sistem pengereman terasa responsif dan mudah dikontrol, sangat membantu saat harus mengurangi kecepatan di jalan basah. Bagi Gede Dogler, rasa aman ini menjadi poin penting. Perjalanan hujan tidak lagi menegangkan, bahkan tetap terasa nyaman.

    Dari Sidemen menuju Rendang, tanjakan semakin panjang dan berkelok. Jalur ini sering menjadi ujian sesungguhnya bagi sepeda motor berkapasitas 125 cc. Namun Vario 125 menjalaninya dengan performa yang konsisten. Tenaga terasa cukup untuk menjaga kecepatan tanpa harus memaksa mesin. Tarikan tetap terasa kencang, namun halus dan tidak melelahkan. Motor tidak terasa kehabisan napas meski harus menanjak cukup lama.

    Kelincahan juga menjadi keunggulan yang menonjol. Bodi ramping membuat All New Honda Vario 125 mudah diarahkan di tikungan sempit. Distribusi bobot yang seimbang membuat motor terasa ringan dan patuh terhadap input setang. Di jalur berkelok Karangasem, karakter ini memberi rasa percaya diri lebih bagi pengendara.

    Memasuki wilayah Desa Nongan, hujan kembali turun dengan intensitas sedang. Jalan desa yang lebih sempit dan permukaannya bervariasi menjadi tantangan terakhir. Namun kombinasi suspensi nyaman, bodi ramping, dan tinggi motor kembali terasa manfaatnya. Motor tetap stabil dan mudah dikendalikan. Perjalanan di jalan desa basah dapat dilalui tanpa drama.

    Desa Nongan sendiri dikenal sebagai desa yang berada di kawasan kaki Gunung Agung. Suasananya tenang dan sejuk, sangat kontras dengan hiruk pikuk Denpasar. Tiba di desa ini setelah perjalanan lintas kabupaten memberikan kepuasan tersendiri. Bagi Gede Dogler, bukan hanya tujuan yang penting, tetapi bagaimana perjalanan itu ditempuh dengan nyaman dan aman.

    All New Honda Vario 125 dalam perjalanan ini, menunjukkan performa luar biasa sebagai sepeda motor harian. Ia tidak hanya cocok untuk aktivitas dalam kota, tetapi juga tangguh untuk perjalanan jarak menengah dengan medan beragam. Si gesit, irit, bandel, dan lincah terasa nyata di jalan, bukan sekadar klaim.

    Suspensi super nyaman menjaga tubuh pengendara tetap rileks. Tarikan kencang namun halus membuat perjalanan tidak melelahkan. Rem responsif memberi rasa aman, terutama di kondisi hujan. Bodi ramping dan tinggi memberikan kepercayaan diri saat melewati genangan air, sehingga perjalanan hujan tidak perlu lagi diiringi rasa takut mogok.

    Perjalanan pulang ke Denpasar kembali menegaskan kesan tersebut. Meski jarak cukup jauh, rasa lelah tidak diperparah oleh motor. Posisi berkendara yang ergonomis, mesin halus, dan kestabilan motor membuat perjalanan tetap menyenangkan hingga kembali ke kota.

    Bagi konsumen setia Honda seperti Gede Dogler, All New Honda Vario 125 bukan sekadar pilihan, tetapi partner mobilitas yang dapat diandalkan. Desainnya yang semakin keren dan sporti memberi kebanggaan tersendiri, sementara performanya menjawab kebutuhan nyata di lapangan.

    Perjalanan Denpasar ke Desa Nongan ini menjadi bukti bahwa All New Honda Vario 125 adalah skutik yang matang. Ia mampu menaklukkan kepadatan kota, hujan, tanjakan, dan jalan berkelok dengan performa yang konsisten. Sebuah sepeda motor yang tidak hanya membawa pengendara ke tujuan, tetapi juga membuat setiap kilometer terasa lebih ringan dan nyaman. aka/jet

  • Ban Bocor Tak Lagi Khawatir, Astra Motor Bali Perkenalkan Tire Fix di Posko Servis Gratis Nataru Terminal Ubung

    Ban Bocor Tak Lagi Khawatir, Astra Motor Bali Perkenalkan Tire Fix di Posko Servis Gratis Nataru Terminal Ubung

    JeettNews, Denpasar | Astra Motor Bali tidak hanya menghadirkan layanan servis dan ganti oli gratis bagi pengguna sepeda motor Honda selama Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, tetapi juga membagikan produk Instant Tire Fix secara gratis kepada konsumen selama program berlangsung. Inisiatif ini menjadi solusi darurat bagi pengendara yang berpotensi mengalami ban bocor di tengah perjalanan libur akhir tahun.

    Produk Instant Tire Fix diperkenalkan sebagai solusi sementara bagi pengguna sepeda motor berban tubeless ketika mengalami kebocoran ringan. Dengan kemasan praktis berbentuk aerosol, cairan ini dapat disemprotkan langsung ke dalam ban untuk menutup lubang kecil sekaligus membantu mengisi tekanan udara agar sepeda motor tetap dapat dikendarai hingga menemukan bengkel terdekat.

    Made Sukarta selaku perwakilan Astra Honda Motor Bali menjelaskan bahwa pembagian Instant Tire Fix secara gratis merupakan bagian dari upaya Astra Motor Bali dalam meningkatkan kesiapan dan keselamatan berkendara masyarakat selama Nataru.

    Ket foto: Astra Motor Bali tidak hanya menghadirkan layanan servis dan ganti oli gratis bagi pengguna sepeda motor Honda selama Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

    “Produk Instant Tire Fix ini kami berikan secara gratis selama program servis gratis berlangsung. Fungsinya sebagai solusi darurat jika di jalan pengendara mengalami ban bocor, sehingga motor masih bisa digunakan sementara sampai menemukan bengkel terdekat untuk penanganan yang sebenarnya,” ujarnya.

    Menurut Made Sukarta, keunggulan Instant Tire Fix terletak pada kepraktisan dan kemudahan penggunaannya, terutama dalam kondisi darurat.

    “Cara pakainya sangat mudah, cukup dikocok lalu disemprotkan melalui pentil ban. Cairan ini akan menutup kebocoran kecil sekaligus membantu mengisi tekanan udara. Ini sangat membantu, khususnya saat berkendara jarak jauh atau ketika bengkel belum buka,” jelasnya.

    Selain pembagian Instant Tire Fix, Astra Motor Bali juga tetap fokus memberikan layanan servis gratis dan penggantian oli bagi pengguna sepeda motor Honda. Layanan ini bertepatan dengan perayaan Hari Raya Natal pada 25 Desember 2025, di mana tercatat sebanyak 27 unit sepeda motor Honda telah dilayani di Pos Pelayanan Terpadu Terminal Ubung.

    Program servis dan oli gratis ini akan berakhir pada Jumat, 2 Januari 2026, sebagai bagian dari dukungan Astra Motor Bali terhadap kelancaran, keselamatan, dan kenyamanan masyarakat selama arus Natal dan Tahun Baru.

    Program ini mendapat respons positif dari konsumen. Salah satunya disampaikan Gede Wikan, yang merasakan langsung manfaat layanan tersebut.

    “Servis dan ganti oli gratis ini sangat membantu, apalagi menjelang libur panjang. Motornya jadi lebih yakin dipakai, ditambah dapat Instant Tire Fix gratis sebagai bekal darurat di jalan,” ungkapnya.

    Sementara itu, Nyoman Seken, warga asal Blahbatuh, Gianyar, mengaku terbantu dengan adanya layanan gratis yang ia manfaatkan saat melintas di Denpasar.

    “Saya kebetulan lewat ke Denpasar dan melihat ada servis gratis. Langsung mampir karena motornya memang perlu dicek. Program seperti ini sangat membantu masyarakat,” ujarnya.

    Melalui Pos Pelayanan Terpadu Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Astra Motor Bali menegaskan perannya tidak hanya sebagai penyedia layanan servis, tetapi juga sebagai mitra keselamatan berkendara. Layanan servis dan oli gratis yang dibarengi pembagian Instant Tire Fix gratis menjadi bentuk kepedulian nyata terhadap keselamatan pengendara sepeda motor selama momentum akhir tahun. ama/ksm